
Di dalam kamar, menunjukkan pukul 09:00 Intan masih tertidur disana. Ia tidur kembali setelah shalat subuh.
Ardi sekarang berada di luar kota sudah dua hari, tanpa terasa sekarang kandungan Intan memasuki bulan ke enam.
Telepon intan terus berdering, sejak matahari baru timbul sampai mulai terasa panasnya, ia belum juga membuka matanya.
Ardi mengirimkan pesan agar istrinya itu segera menelepon nya atau sekedar mengabari lewat pesan singkat.
Tak lupa Ardi meminta istrinya itu mengirimkan foto setelah bangun tidur.
Intan menggeliat dan mulai membuka matanya perlahan, mengerjap ngerjapkan, ia kaget dengan matahari yang sudah mulai terasa panasnya.
"Ya ampun aku telat lagi bangunnya," ucap Intan ia melihat hp nya ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dari suaminya.
Intan selfie dan mengirimkan pada suaminya.
Namun belum ada balasan, mungkin suaminya sedang sibuk pikirnya.
Ia ke kamar mandi untuk cuci muka, sebenarnya hari ini ada jadwal ketemu dokter vivi.
Intan sudah siap untuk kerumah sakit, turun dari tangga, sebenarnya mertuanya sudah menyuruh ia pindah kamar. Namun ia menolak karena naik tangga sama dengan olahraga.
"Sayang kamu udah siap? Ayo!" ucap mama membantu menantunya.
"Iya makasih ma," ucap Intan
"tidak perlu berterima kasih nak," jawab mama
Mereka jalan keluar menuju mobil, diantar sopir mamanya untuk ke rumah sakit.
Mobil mereka telah sampai di rumah sakit, mama membantu Intan keluar dari mobil.
Mereka langsung masuk ke dalam rumah sakit itu. Ternyata sudah banyak ibu hamil lainnya yang menunggu.
Intan dan mama duduk menunggu antrian
"kKok sama mama nya mbak, suaminya kemana?" tanya ibu hamil yang diantar suaminya.
"Suami saya ke luar kota bu, jadi saya sama mama mertua" jawab Intan tersenyum.
"Oh mertuanya, istri lagi hamil gini kok mau ambil kerja di luar kota. Suami saya saja sering gak kerja demi ngantar saya cek kandungan" ucap ibu itu.
"Kerja dimana kalau boleh tahu?" tanya mama
"Kerja di kantor besar no 1 di kota ini, kalian tidak akan tahu."
"Apa perusahaan besar putragroup?" tanya mama.
"Ternyata anda tahu juga perusahaan itu" ucap ibu hamil
__ADS_1
"Saya bahkan mengenal semua keluarga nya" jawab mama
"Oh iya? apa menurut anda saya akan percaya kalau anda mengenal keluarga nya, tapi perusahaan itu memang sangat terkenal sih, jadi tidak heran kalau anda tahu semua keluarganya."
"Ma sudah lah, nama Intan sudah di panggil" ucap Intan menghentikan mertuanya.
"Belum dulu tan, mama mau tahu dibagian apa suaminya bekerja, beraninya mengatai istri bos nya tidak ditemani suaminya ke kantor. Dia malah asik asikan disini tidak bekerja."
"Apa yang anda bilang istri bos?" ucap ibu itu tertawa diikuti oleh suaminya.
"Suami saya bagian manager keuangan di kantor" jawab ibu itu.
"Manager kan? saya pastikan sebentar lagi suami kamu turun sebagai staf biasa," ancam mama.
"Siapa anda berani sekali" ucap suami ibu hamil
"Saya Nela mamanya Ardiansyah putra presdir putragroup dan ini Intan Humaira istri anak saya" jawab mama
"Ngarang banget ni orang" ucap nya
"Saya pastikan bukan hanya kembali ke staf biasa tapi anda akan di pecat" ucap mama mulai emosi.
"Ma sudah lah kita masuk ya" ucap Intan
"Silahkan kalau berani" ucap nya
"Oke tunggu sebentar lagi" ucap mama menelpon suaminya untuk memecat manager keuangan di kantor nya.
"Kalau beneran gimana ma?" tanya suaminya
"Dia itu cuma bohong pa, bukti nya kabur mereka" ucap nya.
Namun setelahnya ada panggilan masuk di telpon suaminya, ternyata dari kantor.
Ia menjawab panggilan masuk itu, dan kaget.
Pihak kantor telah mengakhiri panggilan.
"Kenapa pa?" tanya nya
"Papa di pecat ma, ternyata benar ibu tadi ibu dan istri nya bos."
Istrinya menutup mulutnya tidak percaya, padahal dirinya sedang hamil dan sekarang suaminya malah jadi pengangguran.
"Kita harus minta maaf ma sama mereka" ucap papa.
Istrinya masih nampak berpikir
Intan dan mama sudah selesai cek, lalu suami istri ini mendekati dan mulai bersujud di depan nya.
"Ibu, saya minta maaf. Istri saya hamil bu biaya persalinan nya saya akan dapat dari mana kalau saya tidak bekerja," ucap nya
__ADS_1
"Iya bu, saya minta maaf."
"Kalian berdirilah, jangan merendahkan harga diri kalian seperti ini. Jangan terlalu meninggikan derajat dengan merendahkan harga diri orang lain. Kamu tidak akan di pecat saya akan tolong uruskan."
"Tapi nak, mereka tadi-"
"Sudah lah ma kita belajar memaafkan, dengan begitu tidak ada rasa saling membenci" jawab Intan
"Makasih banyak ya mbak" ucap nya
Intan tersenyum, mama langsung membawa Intan keluar menjauh dari mereka.
"Sayang kenapa kamu memaafkan mereka yang suaminya jarang masuk kerja, juga tadi ngatain kita?" ucap mama
"Kita sebagai manusia harus saling memaafkan ma, Allah saja maha pemaaf" jawab Intan.
Nela terharu pada menantunya, ia memeluk menantunya itu.
"Sayang maafkan mama, karena sudah tidak mau memaafkan orang lain" ucap nya
"Kok sedih sih ma, langsung pulang aja yuk" jawab Intan
Mereka kembali kerumah, sudah terlalu banyak drama di rumah sakit.
Sesampainya di rumah, nela mengantar Intan ke kamar atas.
"Sayang mama tinggal ya, kamu istirahat" ucap mama
"Makasih ya ma" ucap Intan tersenyum pada mertuanya, dibalas senyum dan anggukan oleh nela.
Intan mengambil hp nya dari tas untuk menunjukkan hasilnya saat mengecek kehamilan nya tadi.
Intan mengirim foto perut dan juga hasil USG nya.
Ardi menerima kiriman istrinya itu sangat senang, ia ingin cepat kembali ke rumah.
Ardi menelpon istrinya, mereka mengobrol, bercanda, itulah untuk melepas rasa rindunya.
happy reading guys
see you 🤗
chingguya annyeong
.
.
.
__ADS_1
bersambung 💃💃💃