
Intan telah sadarkan diri. Ia lemah, namun memaksa untuk menemui suaminya.
Rani dan Hana tidak mengizinkan, karena kata dokter sangat berpengaruh pada janinnya, jika terlalu banyak pikiran.
Banyak pikiran bukan membuat masalah berkurang, hanya cukup tenang dan sabar, baru kita dapat berpikir jernih untuk menyelesaikan.
Namun jika masalah nya karena uang, minta bantuan dengan keluarga saja bisa seperti tidak saling mengenal. Apalagi masalah nyawa kita tidak bisa menahan nya untuk tetap tinggal.
Intan dibantu Rani dan Hana duduk ke kursi roda, untuk melihat keadaan suaminya.
"Bu, yah. Apa mas Ardi sudah- hiks
tidak melanjutkan ucapannya.
"Nak kamu jangan nangis terus, kasian anak kamu ikut sedih" ucap ibu Meisya
"Suami kamu tidak apa apa nak. Tadi dokter bilang maaf karena Ardi kekurangan banyak darah, bukan karena Ardi udah gak ada. Sekarang udah lebih baik" ucap mama nela
"Intan boleh kan ma masuk?" tanya Intan pada mama dan mertuanya.
Mereka saling menatap
"Boleh, tapi janji jangan nangis ya!" ucap mama
Rico dan Alex disitu kasian pada pasangan ini. Menurut mereka Ardi dan Intan selalu ada saja yang berusaha memisahkan mereka.
Intan masuk di bantu sahabat nya, setelah sampai di tepi brankar Ardi, sahabat nya keluar untuk memberikan waktu berdua.
"Mas, cepat bangun! kalau bukan kamu siapa yang mau beliin intan bakso, Intan gak mau orang lain yang beliin," ucap Intan memegang tangan suaminya, ia sudah mencoba agar tidak menangis namun butiran bening itu, mengalir sendiri tanpa disuruh.
"Kalau kamu gak mau bangun, Intan mogok makan yah? biar kita sama sama berbaring di atas sini hiks" ucap Intan menunduk tidak kuat melihat suaminya yang masih tidak sadar.
__ADS_1
Namun tangan Ardi mulai bergerak. Intan mendongakkan kepalanya, untuk melihat wajah suaminya.
"In-tan" ucapnya pelan mencoba membuka matanya
"Mas kamu sadar, Intan panggil dokter" ucap Intan seraya menekan tombol panggil.
Dokter dan suster datang memeriksa keadaan Ardi. Semua keluarga dan sahabat yang ada diluar terkejut dan ikut masuk untuk melihat karena dokter dan suster masuk ke ruangan Ardi dengan sedikit berlari.
"Ada apa nak?"
"Tolong jangan ikut masuk semua, hanya boleh beberapa orang disini, silahkan tunggu diluar" ucap suster sahabat mereka keluar dari ruangan itu, hanya orang tua serta mertuanya yang masih disana.
Dokter memeriksa Ardi dan Intan tetap disampingnya.
"Pasien sudah sadar dan lebih baik dari sebelumnya, tapi jangan terlalu lama membesuk, karena pasien butuh banyak istirahat, saya tinggal dulu permisi," ucap dokter setelah selesai memeriksa diikuti suster di belakang nya.
Mereka semua mengangguk.
"Mas ..." lirih intan
Ardi hanya mampu tersenyum.
"Ar, gimana keadaan kamu sekarang apa lebih baik?" tanya papa Bima
"Iya pa" ucap Ardi
"Alhamdulillah kamu sadar nak" ucap mama Nela
"Ardi sadar karena ada seseorang yang mengatakan, kalau dia mau mogok makan ma, biar bisa baring disini sama Ardi." Ucap nya melirik Intan
Mereka juga ikut melihat ke arah Intan
__ADS_1
"Kenapa kalian menatap Intan seperti itu?" tanya Intan
Semua tertawa mendengar nya, bisa bisanya dia ingin sakit, sampai ia lupa kalau dirinya sedang hamil.
"Kamu kan hamil nak, kalau kamu sakit anak kamu juga ikut sakit," ucap ibu Meisya
"Kamu harus jaga anak yang ada dalam kandungan kamu dengan baik nak" ucap ayah
Intan mengusap perutnya yang mulai buncit.
"Maafin mama nak, sampai lupa kalau sudah ada kamu disini" ucap nya tertawa.
Mereka semua menggeleng gelengkan kepalanya.
Intan yang menjaga suaminya di rumah sakit, ia tidak mau meninggalkan suaminya, orang tua mereka pun tidak melarang nya membiarkan bumil ini melakukan apa yang dia mau. Namun harus tetap ingat bahwa sekarang dirinya sedang hamil.
Entahlah semenjak Intan hamil menjadi pelupa. Mungkin karena baru mau memasuki trimester kedua.
happy reading guys
see you 🤗
chingguya annyeong
.
.
.
bersambung 💃💃💃
__ADS_1