
Sore hari Bella menyempatkan diri untuk menghubungi sang ayah mertua, dia ingin meminta saran, apakah dirinya harus melanjutkan kuliahnya secara online atau tidak.
"Halo pa, papa sudah sampai?" tanya Bella saat panggilan sudah tersambung.
"Papa sudah sampai sejak tadi nak, papa baru saja beristirahat." jawab papa.
"Syukurlah kalau begitu, apa Bella mengganggu papa?" tanya Bella sungkan.
"Tidak nak. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Emm, begini pa Bella mau minta saran dari papa."
"Apa itu?" tanya papa.
"Menurut papa, Bella sebaiknya melanjutkan kuliah atau tidak usah?"
"Lanjutkan saja nak, kan papa sudah menawarkan itu pada mu. Lanjutkan kuliah mu dan gapai impian mu, papa akan mengurus semuanya. Tidak perlu memikirkan biaya, papa yang akan membiayai kuliah mu. Kamu katakan saja ingin kuliah di kampus mana, biar orang kepercayaan papa yang mengurus semuanya," sahut papa.
"Apa tidak merepotkan, pa?"
Bella merasa tidak enak karena papa mertuanya sangat baik padanya.
"Tentu saja tidak. Jangan cemaskan apapun, fokuslah pada impian mu. Papa akan mendukung mu nak, semangat," ujar papa memberi semangat.
"Baik pa, terima kasih."
Setelah mendapat saran dari papa, Bella jadi semakin mantap untuk melanjutkan kuliahnya. Toh Devan juga tidak masalah, asal Bella tidak melupakan apa posisinya.
Bella turun ke lantai satu, dia berencana akan membuat makan malam. Terlihat di sana sudah ada pak Sam yang tengah berkutat di dapur.
"Saya bantu ya pak," tawar Bella.
"Tentu saja nona," sahut pak Sam.
"Apa anda baik-baik saja nona?" tanya pak Sam ketika mengingat kejadian siang tadi.
"Saya baik-baik saja pak," jawab Bella.
******
Sementara di lain tempat, Devan tengah melakukan meeting di restoran western dekat kantornya. Dan hal tak terduga terjadi di sana.
__ADS_1
"Kakak ipar tolong aku! Mereka menuduh aku mencuri di sini," panggil Nesva tiba-tiba datang ke arah Devan. Ternyata Nesva yang membuat keributan di sana bersama teman-temannya.
Devan kebetulan tidak melakukan meeting di private room, karena Devan pikir meeting ini hanya berjalan sebentar saja.
"Maaf tuan kami tidak ada urusan dengan anda, tolong jangan ikut campur. Nona ini telah membuat onar, dan tidak mau membayar tagihan makanan yang dia pesan," kata si manager restoran tersebut.
Devan awalnya tidak mau menggubris karena hal itu hanya akan memancing emosinya saja, tapi tanpa di duga dengan lancangnya Nesva tiba-tiba memeluk Devan.
Hal itu sukses membuat Devan sangat marah, Devan merasa sangat di permalukan di sini. Devan paling tidak suka jika ada seseorang yang menyentuh tubuhnya.
"Jo, seret wanita ini dari hadapan ku!" perintah Devan.
Tiba-tiba Devan teringat pada Bella, gadis itu tidak pernah sekalipun menyentuh bagian tubuh Devan. Meskipun statusnya sebagai istri sah dan tidur satu ranjang, Bella tidak pernah menyentuhnya. Bella menyentuh dirinya hanya ketika mencium tangan Devan ketika pergi dan pulang bekerja.
Jo menyeret Nesva dengan paksa, hal itu membuat Nesva merasa sangat marah karena tidak berhasil mencuri perhatian dari kakak iparnya itu.
"Kakak ipar kau tidak bisa melakukan ini pada ku, kita ini keluarga. Di mana rasa empati mu, kau tega melihat keluarga mu di permalukan?!" teriak Nesva memberontak.
"Meeting kita lanjutkan besok," ujar Devan langsung bangkit dari duduknya dan di ikuti oleh rekan kerjanya.
Nesva yang melihat kepergian Devan semakin marah, terlebih saat dirinya di tarik paksa oleh satpam restoran tersebut.
Devan memasuki mobilnya dan Jo yang sudah duduk di kursi kemudi.
Jo paham maksud dari tuannya, hanya mengangguk patuh, "baik tuan."
Devan ingin segera pulang ke mansion, dia ingin meluapkan kemarahannya pada Bella. Entah apa salah gadis malang itu.
Devan memasuki mansion dengan wajah yang sulit di artikan, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun hanya wajah dingin seperti biasanya yang terlihat.
"Bella!" teriak Devan marah.
ini adalah kali pertama Devan memanggil Bella dengan nama.
"Bella kemari kau!" teriak Devan lagi.
Bella yang sedang berada di dapur pun heran mengapa Devan sudah pulang, padahal hari masih menunjukkan pukul 4 sore sedangkan Devan biasanya pulang pukul 6.
"S-saya tuan," jawab Bella ketika dirinya sudah sampai di hadapan Devan yang tengah duduk di ruang tamu.
Bella menundukkan kepalanya, tidak berani menatap manik mata Devan yang dingin itu.
__ADS_1
"Buatkan aku kopi!" perintah Devan tanpa menatap ke arah Bella.
"Baik tuan."
Bella segera ke dapur untuk membuatkan kopi permintaan Devan, dia membuat kopi itu secepat mungkin. Dia tidak ingin membuat Devan menunggu terlalu lama dan malah akan semakin marah. Tetapi Bella tidak tau, jika dirinya akan di jadikan samsak kemarahan Devan.
"Ini kopinya tuan," ucap Bella setelah meletakkan kopinya di hadapan Devan.
Devan langsung meminum kopi itu begitu saja, dan...
Byuuuurr.
Devan menyemburkan kopi itu karena panas.
"Kau mau membunuh ku?!" teriak Devan lantang dengan wajah merah padam menahan amarah.
"M-maaf tuan, s-saya tidak bermaksud," ucap Bella lirih, dirinya benar-benar takut sekarang.
"Kau tau, kesalahan mu ini sangat fatal!" hardik Devan, matanya kini sudah merah menyalak tajam.
Jo tau jika tuannya itu sedang melampiaskan kemarahannya pada Bella, dia merasa iba pada gadis malang yang tidak bersalah itu, dia ingin menolong tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Pak Sam, bawa wanita ini ke rumah pasung! Kurung dan jangan beri dia makan!" perintah Devan sadis.
"Tuan maafkan saya," mohon Bella namun tak di gubris oleh Devan.
Bella terisak saat pak Sam membawanya ke rumah pasung, di sana sangat gelap dan juga menyeramkan.
"Maafkan saya nona, saya tidak bisa menolong anda," ujar pak Sam lirih, dia sebenarnya tidak tega jika harus membiarkan Bella di rumah itu sendirian. Bella terlalu baik, tidak pantas mendapat hukuman seperti ini.
"Tidak apa-apa pak Sam, ini bukan salah bapak," sahut Bella.
"Saya akan mengantarkan makanan untuk anda jika tuan Devan tidak ada," bisik pak Sam pelan.
"Terima kasih pak," ucap Bella terharu karena masih ada orang yang peduli padanya.
"Kalau begitu saya ke dalam dulu nona, jaga diri anda baik-baik nona," pamit pak Sam kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan rumah pasung.
Sedangkan Devan langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja, emosinya masih juga belum mereda walaupun sudah melampiaskannya pada Bella.
Baru saja Devan akan membuka laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya, terdengar dering ponsel pertanda panggilan masuk. Tertera nama papa Andra di sana. Mau tak mau Devan harus menjawab panggilan telpon itu.
__ADS_1
"Halo pa," ucap Devan dengan malas.