Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
mirip


__ADS_3

"Sepertinya dokter itu suka dengan mu," bisik Jaka tepat di telinga Devan.


"Aku tidak peduli, aku adalah pria beristri. Aku sudah tidak tertarik pada wanita mana pun, silahkan saja jika dia ingin cari mati dengan istri ku," kata Devan santai.


"Wah ternyata kamu sangat mencintai istri mu ya? Devan yang dulu sudah berubah," goda Jaka.


Devan menoyor kepala Jaka pelan, dia tidak suka jika ada yang membahas wanita lain di hadapannya. Tujuannya ke sini adalah untuk membebaskan sang paman, dan segera kembali agar bisa berkumpul dengan istrinya lagi.


Sesuai dengan arahan, mereka langsung menuju ke tempat Paman isa. Sesampainya di rumah tua itu, mereka berkumpul terlebih dahulu. Sementara Eva yang diam-diam mengikuti dari belakang, pun sudah sampai. Dengan santainya wanita itu langsung masuk ke dalam melewati anak buah Devan yang sedang berkumpul menyusun langkah.


Jo yang melihat hal itu langsung membisikkan sesuatu ke telinga Devan, "Tuan, lihat wanita itu. Wajahnya terlihat mirip dengan nona, apa itu kakaknya?"


Devan langsung menoleh. Dan benar saja, wanita itu terlihat mirip dengan istrinya. Bedanya hanya, istrinya itu langsing sedangkan wanita itu agak berisi.


'Benar, wanita itu mirip dengan istri ku. Siapa dia? Ah sudahlah, akan aku urus hal itu nanti saja,' batin Devan memperhatikan Eva dengan seksama.


Vita sudah ada di dalam, dan Eva berdiri tepat di belakang Vita tanpa mengeluarkan suara apa pun. Vita menoleh ke belakang, dia mengira yang ada di belakangnya itu adalah Devan.


"Kakak?" Vita terkejut ternyata Eva lah yang ada di sana.


"Kenapa kakak ada di sini?" tanya Eva.


"Aku ingin melihat suami dari adik ku, sekaligus memastikan keadaan paman," sahut Eva.


"Kamu sendiri kenapa ada di sini? Bukankah kamu bilang akan pergi kencan dengan calon pacar mu?" tanya Eva menyelidik.


"Em itu kak, anu. D-dia membatalkan janji kencan kami, ya dia membatalkannya," jawab vita gugup.

__ADS_1


Devan dan Jo masuk, sedangkan anak buah mereka berjaga di depan.


"Di mana?" tanya Devan dengan wajah dinginnya.


Vita yang mengerti pun langsung menuju ke ruangan tempat Paman Isa di sekap, dan setelah terbuka hal yang mengejutkan terjadi.


"Sepertinya mereka mengetahui rencana kita untuk menyelamatkan tuan Isa, mereka kabur tuan," kata Jo.


"Suruh anak buah berpencar, cari di mana paman Isa! Sepertinya mereka belum jauh," perintah Devan.


Jo langsung keluar dan anak buah Devan berpencar untuk mencari keberadaan paman Isa. Arul dan kemal yang hanya berjalan kaki saat membawa paman Isa kabur, terkejar oleh anak buah Devan yang menggunakan motor. Segera anak buah Devan menghadang mereka.


"Menjauh, atau aku tembak tua Bangka ini!" ancam kemal yang mengarahkan pistol ke kepala paman Isa.


"Tembak saja, maka kau juga akan aku tembak!" Devan muncul dari belakang.


Arul sedang mengukur waktu sampai Doni datang, dia sudah menghubungi Doni tentang rencana pembebasan paman Isa tadi. Dia tidak sengaja mendengar perbincangan Vita dan Devan saat di pertemuan tadi, karena kebetulan dirinya sedang pergi keluar mencari makan.


"Tuan mu, ya? Bagaimana kalau aku beri penawaran. Lepaskan dia, dan aku akan memberikan uang yang banyak untuk mu," kata Devan.


Kemal yang memang pecinta uang layaknya tuan krab di Spongebob, langsung berbinar. Dia langsung terkecoh oleh uang, "Memangnya anda bisa memberi kami berapa?"


"Kau maunya berapa?" tantang Devan.


"Kalau kau bisa memberi kami 200 juta, maka akan ku pertimbangkan," kata kemal.


"Kemal penghianat kau!" pekik Arul.

__ADS_1


"Sttt, diam kau!" sentak kemal.


"Kau yakin hanya 200 juta?" Devan mengangkat sebelah alisnya.


"Ya itu sudah banyak."


"Baiklah, aku akan memberi mu 500 juta," putus Devan yang membuat kemal membulatkan matanya tidak percaya.


"Wah aku akan kaya," gumam Kemal gelap mata.


"Kau akan mendapat hukuman yang besar dari tuan Doni!" Kata Arul mengingatkan.


"Aku tidak peduli, yang penting aku punya banyak uang! aku kaya! Lagi pula dia hanya bos yang bodoh, hanya mampu mengandalkan anak buahnya. Pria bodoh itu hanya bisa marah-marah saja," kata Kemal tidak peduli.


"Kesempatan tidak datang dua kali, keputusan ada di tangan kalian. Aku beri waktu 10 detik dari sekarang untuk jawabannya," kata Devan datar.


Dokter Vita dan Eva sampai di dekat mereka, Eva yang melihat pamannya sedang terluka pun hanya bisa menangis dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa berdoa semoga Devan berhasil menyelamatkan Paman Isa dan kejadian mengerikan ini segera berakhir. Sedangkan dokter Vita, wanita itu tidak henti-hentinya menatap kagum ke arah devan. Sepertinya wanita itu mulai menyukai Pria beristri itu. Padahal Devan tidak pernah menatap wanita itu, ketika berbicara pun, Devan tidak pernah mengangkat pandangannya untuk menatapnya. Tapi karena devan yang memiliki wajah tampan dan tegas, membuat wanita manapun pasti akan langsung membuatnya jatuh cinta.


Dua orang anak buah Devan bergerak dengan hati-hati mendekati Paman Isa, karena mereka sudah bisa membaca gelagat Kemal yang sudah terkecoh. pria itu mulai lengah dan tangannya mulai menurunkan pistol, dia langsung juga langsung melepaskan pegangan tangannya pada pangan paman Isa. Anak buah Devan sigap langsung menarik Paman Isa ke sisi mereka, dan entah sejak kapan pistol yang berada di tangan Kemal tadi, kini berpindah ke tangan Arul. Pria itu langsung menembak ke arah devan, Jo yang melihat hal itu langsung mendorong Devan namun terlambat tembakan itu mengenai lengan kiri devan. Dengan sigap Jo langsung mengarahkan pistol yang ada di tangannya ke arah Arul, dan peluru itu tepat mengenai jantung Arul, hingga membuat nyawa pria itu melayang seketika.


Keadaan semakin kacau, Doni datang dengan membawa serta anak buah. gas Jo memberi instruksi pada dokter Vita dan eva agar membawa devan dan paman Isa ke klinik, di dampingi oleh dua anak buah Devan tadi. Sedangkan anak buah yang lainnya akan mengurus Doni dan anak buahnya.


Sementara di lain tempat Bella yang tengah memotong sayuran tanpa sengaja melukai jarinya.


"Ada apa ini?" perasaan Bella mulai gundah, pikiran buruk mulai menyelimuti dirinya, dan kini pikirannya hanya tertuju pada suaminya itu.


'Ya Tuhan jaga suami ku, lindungilah dia di mana pun dia berada,' kata Bella dalam hati

__ADS_1


Bella terus berdoa agar semua baik-baik saja, dia takut terjadi sesuatu pada suaminya itu. Karena setelah dua hari kepergian suaminya, Bella belum mendapat kabar sama sekali. Saat dia mencoba menghubungi nomor Devan atau Jo, semuanya tidak aktif. Hal itu membuatnya semakin khawatir.


__ADS_2