Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
kembali


__ADS_3

Sesampainya di klinik, dokter Vita membawa Devan ke dalam ruang rawat. Dia harus segera mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan kiri Devan, di bantu dengan beberapa suster. Sedangkan Eva, dia menunggu paman Isa yang di bawa ke ruang UGD untuk di periksa. Membutuhkan waktu sekitar 30 menit bagi dokter Eva untuk mengeluarkan peluru itu, setelah selesai dokter Vita segera memasangkan cairan infus pada lengan Devan.


Keadaan Paman Isa sudah lebih baik setelah menghabiskan satu kantong cairan infus, sedangkan Devan pria itu harus di rawat terlebih dahulu, sekitar 2 atau 3 hari lamanya. Sebenarnya Devan sudah bisa tidak perlu di rawat, karena memang keadaannya sudah baik-baik saja. Tetapi dokter Vita memanfaatkan keadaan ini untuk terus berdekatan dengan Devan, wanita itu sepertinya melupakan bahwa Devan adalah pria beristri.


"Paman baik-baik saja?" tanya Devan saat melihat kedatangan Paman Isa di ruang rawatnya.


"Ya, Paman sudah lebih baik. Bagaimana dengan keadaan mu, nak?" tanya Paman Isa.


"Aku baik-baik saja paman, hanya tangan kiri ku yang terluka, tidak dengan tubuh ku yang lainnya," sahut Devan.


"Tapi kamu harus di rawat sekitar dua atau tiga hari lagi Dev," kata dokter Vita menimpali.


Devan tidak menanggapi ucapan wanita itu, dia hanya terfokus pada Paman Isa.


"Kenapa Paman tidak pernah memberitahu ku kalau selama ini Paman sedang dalam masalah?" tanya Devan.


"Maaf nak, paman hanya tidak ingin merepotkan kalian. apa lagi kalau Paman sampai mengatakan hal ini, Bella pasti akan khawatir pada paman," jawab Paman Isa.


"Tapi dengan kejadian seperti ini Bella jadi lebih khawatir pada paman. Dan paman tidak memikirkan hal itu bukan?" ujar Devan.


"Maafkan Paman nak, Paman akan segera menghubungi Bella," ujar Paman Isa.


"Ya segera hubungi istri ku agar dia tidak terlalu khawatir pada paman, tapi jangan katakan tentang keadaan ku. Itu akan membuatnya khawatir dan itu bisa berdampak pada kehamilannya," pinta Devan.


"Bella hamil?" tanya Paman Isa memastikan.


"Ya paman, Bella sedang mengandung buah hati kami," ujar Devan memperjelas semuanya, agar dokter vita juga mendengarnya bahwa dia sudah memiliki istri dan akan segera menjadi seorang ayah.

__ADS_1


'Apa? Jadi Bella itu sedang mengandung ya?' gumam dokter Vita dalam hati, kemudian Wanita itu pergi dari ruang rawat Devan.


"Syukurlah kalau begitu, aku akan segera mempunyai cucu," ujar Paman Isa tersenyum.


"Oh ya paman, wanita yang bersama paman tadi siapa?" tanya Devan pada Paman Isa.


"Siapa? Dokter itu?" tanya Paman Isa balik.


"Bukan! Wanita satunya yang membawa paman ke klinik tadi."


"Namanya Eva, dia adalah kakak kandung Bella. Dia anak pertama dari kak Bram," jelas paman Isa.


"Benarkah? apa Paman yakin? Bukankah mereka semua tidak selamat dari kecelakaan itu kecuali Bella," tanya Devan memastikan.


"Itu memang benar, Paman juga sempat mengira Eva sudah meninggal karena tragedi itu. Tapi takdir menolongnya, dokter itu yang menemukan dan menolong Eva saat itu," Kata paman Isa.


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Satu hari berlalu, Devan masih di haruskan di rawat di klinik. Namun pria itu kekeh ingin segera kembali ke Jakarta agar bisa berkumpul dengan istrinya. Baginya dia tidak butuh di rawat, yang dia butuhkan hanyalah bertemu dengan istrinya dan memeluknya, itu adalah obat paling ampuh yang bisa menyembuhkan luka di tubuhnya. Dokter Vita pun tidak mau kalah, dia tetap melarang Devan yang ingi segera kembali. Eva yang melihat hal itu pun ikut berbicara.


"Devan, bersabarlah hingga besok. Kamu hanya perlu menunggu sampai besok, luka mu belum kering," ujar Eva.


"Iya Dev, luka mu belum sembuh. Takutnya terjadi infeksi yang akan memperlambat penyembuhannya," ucap Dokter Vita menimpali.


"Aku baik-baik saja, aku tau tentang kondisi tubuh ku sendiri karena aku yang merasakannya," kata Devan datar.


"Tapi dev-" ucapan dokter Vita terpotong karena Devan dengan cepat menyergah.

__ADS_1


"Aku tidak butuh saran dari siapa pun!" kata Devan dingin.


Paman Isa dan Jo yang sudah mengetahui bagaimana watak asli dari Devan langsung merinding saat mendengar kalimat Devan, paman Isa takut jika Devan sampai murka hanya karena hal sepele seperti ini.


"Sebaiknya kita kembali ke Jakarta saja, karena di sana Devan pasti bisa mendapat perawatan yang lebih baik," saran paman Isa.


"Benar, lagi pula tuan muda juga sudah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Jadi perjalanan ke Jakarta bisa kita lakukan," sahut Jo menimpali.


"Kau persiapkan semuanya Jo, kita kembali hari ini juga," ucap Devan tegas dan tanpa penolakan Jo langsung melaksanakan tugasnya.


Terlihat raut kecewa di wajah dokter Vita, usahanya untuk berdekatan dengan Devan lebih lama lagi, gagal sudah.


"Apa kamu tidak ingin jalan-jalan dulu melihat pemandangan di sini Dev?" tanya dokter Vita mencoba mencegah kepergian mereka.


"Aku akan ke sini dengan istri ku nanti, aku tidak akan jalan-jalan tanpa istri ku!" sahut Devan menegaskan bahwa dia begitu mencintai istrinya.


Devan bisa membaca gelagat aneh dari dokter Vita, ternyata yang di ucapkan oleh Jaka ada benarnya juga. Sepertinya wanita itu ada rasa tertarik pada dirinya, dan Devan berusaha menghindari kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.


Mendengar jawaban Devan yang terkesan bucin pada istrinya membuat semua orang terkekeh, kecuali Vita yang langsung memasang wajah masam.


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Sore harinya, Devan dan rombongan akan terbang kembali ke Jakarta. Setelah keputusan mutlak Devan tadi, mereka semua langsung bergegas pergi dari desa itu. Karena jadwal keberangkatan mereka akan di lakukan sore hari, Devan membawa serta dokter Vita bersama mereka atas permintaan Eva, kakak kandung dari istrinya itu.


Meski Vita merasa sedikit kesal karena usahanya gagal, dia tetap senang karena Devan membawanya ke sana. Dan hal itu bisa membuatnya selalu bertemu dengan Devan kapan saja.


tepat pukul 18.00 pesawat yang mereka tumpangi akan segera take off, Devan dan rombongan sudah duduk di dalam pesawat dan bersiap untuk kembali. Devan memutuskan untuk memejamkan matanya guna mengisi energi sebelum bertemu dengan istrinya nanti, karena perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1 jam lamanya.

__ADS_1


__ADS_2