Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
dasar pencuri


__ADS_3

Devan telah berhasil membawa paman Isa dari sekapan anak buah Doni. Berhubung di sana hanya di jaga oleh dua pengawal, dan Devan membawa rombongan, hal itu memudahkan Devan untuk membebaskan paman Isa.


Devan meninggalkan paman Isa, Eva, dan juga Dokter Vita di apartemen miliknya yang tidak terpakai. Dia sengaja melakukan hal itu karena dia tidak suka dengan gelagat dokter Vita, wanita itu nampak jelas sekali menaruh rasa pada dirinya. Hal itu membuat Devan berpikir ulang jika membawanya ke Mansion, dirinya takut akan terjadi ke salah pahaman dengan Bella dan bisa menimbulkan masalah. Karena cukup sekali baginya merasa kehilangan Bella, dia merasa seperti kehilangan separuh nyawanya.


Malam harinya, Devan telah sampai di Mansion. Wajahnya terlihat sedikit pucat karena merasakan nyeri di bagian lengannya luka tembakan itu, namun sebisa mungkin Devan menyembunyikan hal itu dari Bella. Di hadapan Bella, pria itu mencoba menampilkan senyum manis di bibirnya, agar istrinya itu tidak curiga dan khawatir.


"Sayang akhirnya kamu pulang, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Bella khawatir, wanita itu langsung memeluk suaminya dengan erat.


Setelah mendapat kabar dari Jo tadi, Bella memutuskan untuk menunggu kedatangan suaminya itu di temani oleh papa Andra.


"Ssh," Rintih Devan saat Bella tidak sengaja menekan luka di lengan devan.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Bella dengan wajah khawatir, karena mendengar Devan merintih.


"Tidak apa-apa sayang, hanya saja kamu terlalu erat memeluk ku," kilah Devan berbohong.


"Maaf Mas, aku begitu merindukan mu," sesal Bella kemudian merenggangkan pelukannya.


"Sayang, di mana Paman?" tanya Bella sambil melihat ke arah luar, Bella mengira bahwa pamannya belum masuk.


"Ada di apartemen, sayang," jawab Devan.


"Kenapa tidak di ajak ke sini? Aku kan rindu padanya," ucap Bella.


"Karena dia tidak seorang diri, melainkan ada seseorang yang ikut bersamanya," sahut Devan membuat bingung.


"Siapa mas?" tanya Bella penasaran.


"Iya Dev, siapa memangnya?" tanya papa Andra menimpali.


"Akan aku jelaskan nanti, sekarang aku ingin istirahat dulu," ujar Devan.


Devan menggandeng lengan Bella menuju ke kamar, yang Devan inginkan sekarang adalah tidur sambil memeluk istrinya itu.


"Pa, kami ke kamar dulu," ucap Bella saat dirinya di ajak ke kamar.

__ADS_1


"Ya nak, ajak Devan istirahat. Dia pasti lelah," sahut papa Andra.


sesampainya di kamar, Devan langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Tubuhnya terasa begitu lelah, dan luka bekas peluru itu terasa berdenyut. Sedangkan Bella, wanita itu hendak ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Devan mandi.


"Sayang kamu mau ke mana?" tanya Devan.


"Bella akan menyiapkan air mandi untuk mu mas," sahut Bella.


"Kemari lah," perintah Devan menjentikkan tangannya.


Bella mengerutkan keningnya, namun dia tetap menuruti perintah dari suaminya itu. Devan langsung membawa Bella ke dalam dekapannya, dia begitu merindukan istrinya yang cantik itu.


"Aku tidak ingin mandi sayang, aku hanya ingin tidur sambil memeluk mu," ucap Devan dengan suara beratnya.


Bulu kuduk Bella terasa meremang mendengarnya, "Iya sayang."


"Hy boy, kamu merindukan Daddy? Daddy juga merindukan mu," ucap Devan pada perut Bella, tangannya bergerak mengusap lembut perut Bella. Terasa tendangan-tendangan kecil dari dalam sana, yang berarti anaknya di dalam sana merespon ucapannya, membuat Devan senang. Rasa lelahnya seketika menguap begitu saja.


"Sayang lihat, dia begitu merindukan daddynya. Aku boleh menjenguknya, kan?" ucap Devan menatap dalam manik mata istrinya itu.


wajah Devan langsung murung mendengarnya, tapi yang di katakan oleh istrinya itu ada benarnya juga. Tubuhnya masih lelah, dan lukanya juga terasa nyeri. Dan lagi pula ini sudah malam, "Baiklah sayang, janji ya besok?"


"Iya mas janji," sahut Bella.


Mereka pun akhirnya tidur sambil berpelukan, Devan butuh istirahat untuk memulihkan staminanya.


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Sementara di lain tempat, Doni tengah memarahi anak buahnya yang tidak becus menahan Isa di tangannya.


"Dasar bodoh menjaga satu tua bangka saja tidak bisa!" maki doni pada kemal dan anak buah lainnya.


"Maaf tuan anggota kita terlalu sedikit, makanya mereka berhasil membawa kabur pria tua itu," sahut Kemal.


Doni begitu murka karena rencananya gagal, padahal hanya tinggal satu langkah lagi perusahaan itu akan menjadi miliknya. Tapi kini gagal total. itu akan menjadi miliknya.

__ADS_1


"Dasar tidak berguna kalian semua! pergi dari hadapan ku!" teriak Doni seperti kesetanan.


Kemal dan beberapa anak buah Doni pun pergi meninggalkan bosnya yang sedang di landa amarah, Doni membanting barang-barang yang ada di sekitarnya untuk melampiaskan amarahnya.


'Dasar pria tua tidak berguna! Bisanya hanya marah-marah saja, tahu begini aku kabur saja tadi,' gerutu Kemal dalam hati.


Setelah mengalami kekalahan melawan anak buah Devan, mereka memutuskan untuk melarikan diri agar tidak di tangkap oleh Devan. Karena hal itu beresiko, dirinya akan masuk ke penjara. Kemal merutuki kebodohannya karena tidak segera menyetujui penawaran yang devan berikan tadi. Jika saja dia menerima penawaran dari Devan, dia pasti akan mendapatkan uang yang banyak, dan bisa kabur sejauh mungkin untuk menghindari Doni.


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Pagi harinya, Devan terbangun lebih dahulu dari pada Bella. Pria itu memandang lekat wajah damai Bella ketika sedang tertidur, istrinya itu tetap terlihat cantik dan menggemaskan dalam keadaan apapun. Ketika Bella menggeliat pelan, entah apa yang menarik dari hal itu, tetapi Devan begitu menyukainya. Saat lentik mata indah Bella mulai mengerjap, Devan kembali menutup matanya pura-pura tidur kembali. Saat Membuka matanya, hal pertama yang di lihat oleh Bella adalah wajah tampan suaminya yang masih tetap mendekap erat tubuhnya. Senyum manis mengembang di bibirnya, dia begitu merasa bahagia karena telah di cintai dengan begitu hebat. Bella bergerak perlahan mendongakkan kepalanya, kemudian mengecup lembut bibir Devan.


"Selamat pagi suami ku yang tampan," ucap Bella dengan nada sangat pelan seperti berbisik, namun Devan masih bisa mendengarnya, karena memang jarak mereka yang masih menempel satu sama lain.


Bella menatap kagum suaminya itu, bagaimana bisa ada seseorang yang memiliki wajah sempurna seperti suaminya itu. Garis wajah tegas, hidung mancung, alis yang tebal, bulu mata yang lentik dan bibir yang seksi menggoda. Sekali lagi di kecupnya bibir Devan, kemudian Bella berniat beranjak dari tempat tidur untuk membuat sarapan. Namun baru saja Bella akan bangkit, tangannya sudah kembali di tarik oleh Devan.


"Dasar pencuri," ucap Devan masih dengan mata berapa jam terpejam


"Mas sudah bangun?" tanya Bella.


"Bagaimana rasanya mencuri ciuman dari suami mu yang tampan ini?" tanya Devan menatap dalam manik mata istrinya itu.


"m-maksudnya?"


"Pura-pura tidak tau?"


"T-tidak kok, siapa yang mencuri ciuman?" kilah Bella gugup.


Devan tidak mengeluarkan suara apapun, pria itu langsung membawa Bella ke dalam dekapannya. Pria itu menelusupkan wajahnya di ceruk leher Bella.


"Masih tidak mau mengaku?" desak Devan sambil sesekali menggigit leher Bella yang membuat sang empunya panas dingin.


"A-aku..."


"Aku ingin menagih janji mu tadi malam sayang," kata Devan yang langsung melancarkan serangan-serangan yang membuat Bella mendesah keenakan. Perlakuan Devan yang lembut, membuat Bella terbuai. Tubuhnya kelenjotan ke sana kemari mencoba menyalurkan rasa nikmat yang di rasakannya.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka melakukan penyatuan yang nikmat di pagi hari, Devan dengan semangat membara menyalurkan hasratnya yang sudah di tahan sejak tadi malam.


__ADS_2