
Saat mendengar Kemal pergi dari ruang tahanan itu, tidak berapa lama Paman Isa mencoba untuk membuka matanya. Manik matanya menelisik ke seluruh ruangan, memeriksa keadaan sekitar. Kosong! Sepertinya Arul Juga ikut keluar dari sana. Paman Isa berpikir bagaimana cara dirinya bisa keluar dari sana, sepertinya kedua pengawal itu tidak akan membawanya keluar dari sana, melainkan hanya memanggil dokter untuk memeriksa dirinya. Paman Isa sudah memiliki ide untuk meminta tolong kepada dokter nanti. Saat tengah memikirkan cara untuk kabur dari sana, tiba-tiba suara derit pintu terbuka, membuat Paman Isa langsung menutup matanya kembali.
"Dok tolong periksa Paman saya, sejak tadi dia tidak membuka matanya," kata Arul.
"Kok kau bilang paman sih, rul?" bisik kemal bingung.
"Kalau kita bilang dia tahanan, dokter pasti akan memanggil polisi. Dan kita akan di penjara, memangnya kau mau di penjara?" ucap Arul berbisik juga.
"Eh, iya juga ya. Tidak ku sangka, ternyata kau pintar juga ya," kata Kemal.
Dokter mendekat ke arah paman Isa yang masih menutup matanya, dokter berdiri tepat di samping paman Isa. Tiba-tiba Paman Isa memegang tangan dokter, yang membuat dokter itu terkejut. Paman Isa membuka sedikit matanya memberikan kode dengan pandangan mata dan wajah memelas, dan syukurnya dokter itu paham bahwa pasiennya itu tengah membutuhkan pertolongan.
"Sepertinya Paman kalian terluka parah, sebaiknya kalian bawa ke rumah sakit saja untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Saya takut jika tidak segera di tangani, maka lukanya akan infeksi dan keadaannya akan semakin parah," ucap dokter itu.
"Apa tidak bisa di rawat di sini saja dok? Kalau di bawa ke rumah sakit tidak akan ada yang menjaganya, kami sibuk bekerja. Jika di rawat di sini kan, kami bisa pulang bergantian untuk menjaganya," ucap Kemal.
"Justru itu, jika di bawa ke rumah sakit akan ada dokter dan suster yang merawat dan memantaunya. Lukanya juga bisa di pantau dan kalian juga bisa bekerja dengan tenang," kata dokter itu.
Kemal dan Arul saling menatap, pandangan mereka beradu. Mereka harus segera menghubungi bos mereka secepatnya.
"Em, tunggu sebentar dok. Kami akan merundingkan hal ini dulu," putus kemal yang langsung menarik lengan Arul untuk keluar dari sana.
__ADS_1
Kini di dalam ruangan itu hanya tinggal paman Isa dan dokter tersebut. Paman Isa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk meminta pertolongan, dia harus meminta bantuan dokter itu.
"Dokter tolong saya, tolong keluarkan saya dari sini. Saya bukan Paman mereka, tapi saya di tahan di sini sejak beberapa bulan lalu. Tolong saya dokter, bantu saya," mohon Paman Isa dengan suara pelan.
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya dokter itu.
"Dokter, boleh saya pinjam handphone dokter?" tanya paman Isa yang di angguki dokter itu, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
Dengan cepat Paman Isa langsung mengetikkan nomor Bella di sana.
"Tolong dokter hubungi keponakan saya, namanya Bella. Katakan padanya bahwa saya ada di sini, katakan saya membutuhkan bantuan. Tolong bantu saya dokter," kata paman Isa.
"Begini dokter, kami sudah putuskan. Rumah Sakit sangat jauh dari sini, jadi kami memutuskan agar paman kami di rawat di sini saja. Kami berdua sudah sepakat akan menjaga paman secara bergantian," ucap Kemal.
"Ya sudah, terserah kalian saja. Saya akan mengobati luka di lengan paman kalian, dan setelah itu saya akan menambah darah untuknya. Karena sepertinya Paman kalian kehilangan banyak darah," ucap dokter itu.
"Baik dokter," sahut Arul.
"Kantong darah harus di periksa setiap saat, jadi saya akan menugaskan kakak saya untuk berjaga di sini. Kakak saya seorang perawat jadi dia yang akan mengontrolnya," jelas dokter itu.
"Tidak perlu dokter, kami bisa melakukannya sendiri. Jadi anda tidak perlu repot-repot mengutus kakak anda untuk ke sini," kata Arul.
__ADS_1
"Saya tidak bisa membiarkan orang yang saya tangani semakin parah kondisinya karena tidak di jaga dengan benar, maka dari itu saya memerintahkan kakak saya untuk berjaga di sini untuk mengontrolnya. Kan kalian sendiri yang tidak mengizinkan saya untuk membawa Paman kalian untuk ke rumah sakit, Kalau kalian tidak setuju kakak saya yang menjaga di sini, kalian bisa bawa ke rumah medis saya karena posisinya tidak jauh dari sini," ucap dokter itu.
"Bagaimana ini, mal? Kenapa tua bangka ini semakin hari semakin merepotkan saja," bisik Arul di telinga kemal.
"Aku juga bingung Rul, kedua pilihan itu sama-sama membuat kita dalam masalah. Kalau kita izinkan maka kita pasti akan mendapat amukan dari bos, tapi kalau tidak kita izinkan dokter itu pasti akan curiga," ucap Kemal pelan.
"Jadi bagaimana ini?" tanya Arul bingung.
"Baiklah dokter, perintahkan kakak Dokter berjaga di sini. Kalau di bawa ke rumah medis dokter, takutnya malah merepotkan." Putus Kemal pada akhirnya.
"Baiklah kalau begitu, ini mungkin hanya satu atau dua hari saja sampai kondisi Paman anda membaik. Kakak saya juga hanya akan berjaga di siang hari saja," jelas dokter itu.
Meskipun bukan siapa-siapanya, tapi dokter itu merasa kasihan kepada Paman Isa. Jadi dokter itu memutuskan untuk menolongnya, dan untuk alasan kakaknya yang berjaga di sini hanya akal-akalan dokter itu saja untuk mengulur waktu sampai bala bantuan datang menolong Paman Isa.
Kemudian dokter segera mengobati luka Paman Isa, dan memasang kantong darah. Setelah selesai dokter itu pun berpamitan untuk pergi.
"Baiklah lukanya sudah saya obati, kantong darah juga sudah saya pasang. Nanti kakak saya akan ke sini dengan membawa obat-obatan untuk pereda nyerinya," ucap dokter itu.
Kemal dan Arul hanya mengangguk, kemudian dokter itu pun pergi dari sana.
Paman Isa sangat berharap jika dokter itu akan benar-benar menolongnya dan menghubungi Bella, agar keponakannya itu mengetahui keberadaannya. Paman Isa ingin segera bebas dari sana.
__ADS_1