
Devan tertidur dengan menumpukan kepalanya di samping ranjang Bella. Sedangkan Bella, wanita itu mulai mengerjapkan matanya, kemudian perlahan-lahan mulai membuka matanya. Pandangannya mulai menelisik ke seluruh ruangan, tercium bau obat yang menyeruak di indra penciumannya. Maka sudah di pastikan bahwa dirinya kini tengah berada di rumah sakit.
"Aku di rumah sakit?" gumam Bella.
Saat hendak menggerakkan tangannya, Bella merasa bahwa ada yang menggenggam jemarinya. Di lihatnya sang suami tengah tertidur pulas, wajahnya tampak lelah mungkin akibat selalu begadang menunggu dirinya. Tangan kiri Bella perlahan terangkat untuk mengusap kepala Devan, Devan yang sedang tertidur pun merasa terusik. Pria itu langsung mengangkat wajahnya dan dirinya di sambut oleh senyuman manis dari sang istri, meskipun wajahnya masih pucat.
"Sayang," Panggil Devan antusias, Bella tersenyum manis menatap suaminya itu.
"Tunggu sebentar, aku panggilkan dokter."
Bella menahan tangan Devan yang hendak memencet tombol darurat itu, wanita itu menggeleng pelan. "Tidak perlu mas, aku sudah baik-baik saja kok."
Devan kemudian mengangguk lalu di peluknya tubuh sang istri penuh kerinduan.
"Sayang apa ada yang sakit?" tanya Devan setelah mengurai pelukan mereka.
"Tidak sayang, Bella baik-baik saja," sahut Bella sambil tersenyum.
"Sudah berapa lama aku di sini, mas?" tanya Bella.
"Sudah satu minggu lebih sayang, kamu benar-benar tega menyiksa ku seperti ini."
Bella mengerutkan alisnya bingung, "Kamu menyiksa ku dengan tidur terlalu lama, apa kamu tidak merindukan suami mu ini?" rajuk Devan.
"Maaf," ucap Bella lirih.
"Baiklah maafkan aku," ucap Devan.
"Bagaimana perasaan mu?" tanya Devan lagi.
"Aku baik-baik saja mas!" Bella merasa gemas kepada Devan yang terus-terusan menanyakan hal yang sama sejak tadi.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Devan.
Bella mengangguk mengiyakan, "Minum, sayang."
Devan segera mengambil air yang ada di meja samping ranjang Bella, pria itu dengan sigap membantu Bella minum.
"Ada lagi?" kata Devan.
__ADS_1
Bella menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Baiklah sayang, kalau begitu aku akan mengabarkan kondisi mu pada Papa dulu." Devan beranjak dari samping Bella setelah mendapatkan anggukan dari istrinya itu.
Pria jangkung itu berdiri tepat di depan pintu ruang rawat Bella, dia tidak akan melangkahkan kakinya terlalu jauh dari sana. Kemudian Devan merogoh ponsel yang ada di saku celananya.
"Halo Pa," sapa Devan saat panggilan telepon tersambung.
"Ya son, ada apa? apa terjadi sesuatu pada menantu papa?" tanya papa Andra khawatir.
"Istri ku sudah sadar Pah," ucap Devan.
"Benarkah? syukurlah kalau begitu, papa akan segera ke sana," ucap papa Andra.
Setelah selesai, Devan mematikan sambungan telponnya kemudian segera masuk kembali untuk menemani sang istri.
...💜💜💜...
Sementara di lain tempat, Paman Isa tengah mencari cara untuk kabur dari orang yang menyekapnya. Saat tengah memikirkan cara untuk kabur dari sana, Paman Isa melihat ada pisau lipat tidak jauh dari ruang tahanannya. Seketika muncul lah ide untuk bisa keluar dari sana. Dia berencana akan menyayat bagian tubuhnya, mungkin cara ini bisa di pakai untuk mencari bantuan. Paman Isa yakin jika di luaran sana pasti ada yang sedang mencarinya, namun sulit untuk menemukan keberadaannya.
Paman Isa memutuskan untuk mengambil pisau lipat itu, kemudian di sayatlah lengannya hingga lebar. Darah bercucuran ke mana-mana.
Tidak di sangka-sangka, dua orang pengawal datang menghampiri paman Isa. Kedua pengawal itu melihat Paman Isa yang sudah terbaring lemas di tempat tidur.
"Heh orang tua! apa yang sudah kau lakukan bodoh?! kau benar-benar ingin mati ya?" bentak pengawal satunya yang di kenal sebagai kemal.
"A-aku ingin ma-ti saja," sahut Paman Isa terbata.
"Ya sudah mati saja kau! Dasar tua bangka merepotkan!" kata kemal.
"Aargh!" rintih Paman Isa lagi.
"Kemal dengar, Bos mengatakan agar jangan sampai dia mati. Karena bos belum mendapatkan surat surat itu. Maka kika sampai dia mati, maka kau tahu akibatnya!" ucap pengawal satunya yang bernama Arul.
"Dasar tua bangka si*lan! Kau membuat kami dalam masalah saja!" bentak kemal.
"Kita telepon Bos saja, katakan kondisi pria tua ini dan tanyakan bagaimana baiknya," ucap Arul saran.
"Kau benar, lebih baik kita telepon bos dulu," ucapnya.
__ADS_1
Kemal segera mendeal nomor bosnya. Panggilan terhubung, namun tidak di jawab oleh sang empunya. Kemal mencobanya sekali lagi, namun hingga dering terakhir pun lagi-lagi tidak mendapatkan jawaban apapun. Setelah beberapa saat, ponsel Kemal kembali berdering dan ternyata sang bos yang menghubunginya.
"Halo bos," sapa Kemal saat panggilan terhubung.
”Hah-lohh ah," kata bosnya dengan di iringi *******.
Kemal dapat mendengar suara ******* yang saling bersahutan di seberang sana. Rupanya sang Bosnya itu tengah bermain gila dengan beberapa jal*ng, karena Kemal tidak hanya mendengar satu suara saja, melainkan ada beberapa suara ******* wanita.
"Aaaah, sssh jal*ngh y-angh pintar," desah sang bos.
"Ooowchh emhhh," suara ******* ******* itu.
Kemal yang mendengar hal itu pun menjadi bergairah dan sedikit kesal, pengawal itu kemudian melempar ponselnya asal.
"Mal, kau kenapa?" tanya Arul.
"Bos bodoh itu begitu menyebalkan! Kita berdua kerepotan di sini menjaga pria tua ini, dan dia malah asik kuda-kudaan dengan para biduannya!" ketus Kemal.
"Wah bos sedang main kuda-kudaan ya? Kenapa malam-malam bermain kuda, memangnya kudanya tidak mengantuk?" tanya Arul polos.
Arul memang sedikit polos orangnya, karena pengawal itu belum pernah melakukan hal seperti itu.
"Kudanya di kasih obat kuat, biar tidak ngantuk, kan mereka mau menuju ke puncak Nirwana," sahut Kemal asal.
"Kenapa bos tidak mengajak kita?"
"Dia itu sedang mengocok wanita, bodoh!' sentak Kemal mulai geram dengan kepolosan Arul.
Arul hanya mengangguk-angguk seolah mengerti, padahal dirinya sama sekali tidak mengerti.
"Lalu bagaimana nasib tua bangka ini? kondisinya akan semakin melemah," kata Arul.
"Aku akan pergi memanggil dokter untuk memeriksanya, karena bos melarang kita membawanya keluar dari sini," ucap Kemal.
"Kau jaga dia baik-baik, jangan sampai dia kabur!" peringat Kemal.
"Tidak mungkin dia bisa kabur, lihat saja kondisinya saja lemah tak berdaya seperti itu," sahut Arul enteng.
Kemal hanya mengangguk, kemudian beranjak dari sana untuk memanggil dokter. Memang benar, kondisi Paman Isa terlihat sangat lemah jadi tidak akan mungkin jika pria itu akan kabur. Ya kan? Itulah yang mereka berdua pikirkan.
__ADS_1