
Devan keluar dari ruang rawat Bella untuk menemui Jo si pengganggu, wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat.
"Ada apa?" tanya Devan judes saat sudah berada di dekat Jo.
"Eh, tuan. Sudah tuan? Hehe," goda Jo sambil cengengesan.
"Ck, cepatlah ada apa? Aku malas melihat wajah mu yang menyebalkan," ketus Devan kesal karena kesenangannya di ganggu.
Padahal dirinya baru saja menikmati momen indah itu bersama istrinya, tapi malah datang seorang pengganggu yang mengacaukan momen romantis mereka berdua.
"Anda melupakan pesanan anda, tuan," ujar Jo malas sambil menunjukkan plastik berisi pesanan Devan tadi.
Seketika wajah Devan yang tadinya kesal, kini berubah menjadi berbinar bahagia.
"Wah." Dengan cepat, Devan langsung merebut kantong berisi rujak itu dari tangan Jo.
Jo di buat melotot karena tingkah tuannya itu, sejak kapan tuannya itu memiliki raut wajah seperti itu? Raut wajah yang berbinar, hanya karena melihat sebungkus rujak. Benar-benar membuat Jo tercengang.
Tanpa permisi Devan langsung meninggalkan Jo yang masih terdiam di tempatnya berdiri, Devan masuk dan langsung duduk di kursi samping ranjang Bella. Bella yang melihat itu pun jadi penasaran.
"Apa itu mas?" tanya Bella saat melihat Devan sibuk mengeluarkan isi dari kantong itu.
"Ini rujak, sayang."
"Bella tidak ingin rujak mas," kata Bella yang mengira bahwa Devan membelikan rujak itu untuknya. Tercium aroma pedas yang sangat menyengat di indra penciuman Bella.
"Rujak ini untuk ku sayang, bukan untuk kamu," sahut Devan yang langsung mulai melahap rujak itu.
"Mas itu kan pedas, kamu kan tidak suka pedas. Nanti mas sakit perut loh," ujar Bella yang masih mengingat ucapan pak Sam bahwa Devan paling tidak bisa makan makanan pedas, hal itu pasti akan langsung membuat Devan berakhir bolak-balik ke toilet.
"Ini tidak pedas kok, tapi manis," ucap Devan. Karena memang itulah yang terasa di lidahnya, rujaknya terasa manis dan membuat orang yang melihatnya ngiler.
"Benar?" tanya Bella memastikan.
Devan mengangguk pasti, kemudian melanjutkan memakan rujak itu dengan sangat rakus. Seperti orang yang baru merasakan makanan seenak itu.
"Hah, minum sayang," Devan gelagapan mencari minum.
"Itu mas," tunjuk Bella pada air yang ada di meja.
Devan langsung meminum air Aqua itu hingga setengahnya. pria itu mengusap bibirnya yang terlihat merah akibat kepedasan.
"Maaf sayang, aku lupa menawari," ucap Devan sambil mengusap tengkuknya yang basah karena keringat.
Bella tersenyum gemas melihat tingkah suaminya itu, kenapa suaminya yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Devan yang di kenalnya awal dulu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa mas," ujar Bella sambil tersenyum manis. Devan mengusap-usap perutnya yang mulai panas akibat rujak tadi.
"Perutnya sakit?" tanya Bella saat melihat Devan mengusap perut sixpack nya.
"Hem, sedikit. Tapi tidak apa-apa," sahut Devan.
...๐๐๐...
Sore hari, keadaan Bella sudah stabil. Wanita itu sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Jo tengah mengurus administrasi, dan Devan tengah mengemasi barang-barang Bella.
"Sudah siap sayang?" tanya Devan saat sudah selesai mengemas barang-barang Bella. Wanita itu sudah duduk di ranjang dengan senyuman yang menghiasi bibir indahnya, dia begitu senang karena akhirnya bisa segera pulang. Siapa yang tidak bosan berada di rumah sakit terus-menerus.
"Sudah mas," jawab Bella dengan mengangguk antusias.
"Sepertinya istri ku sangat senang," goda Devan.
"Tentu saja!" jawab Bella dengan tersenyum lebar.
"Kita tunggu Jo sebentar ya sayang, setelah itu kita pulang," kata Devan yang di angguki oleh istrinya itu.
Tidak berapa lama kemudian, Jo datang dengan mendorong kursi roda untuk Bella, "Sudah tuan." Jo langsung membawa barang-barang Bella menuju ke mobil.
"Ayo sayang," ucap Devan hendak membopong Bella untuk di dudukan di kursi roda di tahan oleh Bella.
"Mas, Bella tidak mau pakai kursi roda. Bella mau jalan saja," ujar Bella menggelengkan kepalanya.
"Bella tidak lelah mas," rengek Bella.
"Tetap tidak boleh!" tegas Devan.
"Sayang ayolah, ya ya ya?" pinta Bella dengan menampilkan puppy eyes nya.
'Argh! Kenapa dia begitu imut, kalau begini caranya mana tahan aku,' gerutu Devan dalam hati.
"Hemm!" Devan berdehem sebelum bicara, "Ya sudah tidak pakai kursi roda, tapi cium dulu," kata Devan dengan menyodorkan pipinya ke arah Bella.
"Tapi janji ya, tidak pakai kursi roda," ucap Bella yang di angguki oleh Devan. Dengan segera Bella mengecup pipi devan.
Cup!
"Sudah."
"Yang sebelah bakalan iri," kata Devan menyodorkan pipinya satu lagi.
Cup!
__ADS_1
"Sudah, ayo pulang," ajak Bella sambil cemberut.
Tiba-tiba saja devan menggendong Bella ala bridal style, yang membuat Bella terkejut.
"Aaaa... Mas turunkan Bella!" pinta Bella meronta minta turun.
"Diam sayang, nanti kamu jatuh," ucap Devan lembut.
Bella langsung mengalungkan lengannya ke leher Devan, "Tadi mas sudah janji, akan membiarkan aku jalan sendiri."
"Memangnya mas bilang begitu? Tadi kamu hanya mengatakan tidak mau menggunakan kursi roda, jadi mas tidak salah kan?" ujar Devan menaik turunkan alisnya.
"Dasar pembohong," kesal Bella yang langsung memanyunkan bibirnya.
"Bibirnya mau di cium?" goda Devan.
Bella langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher devan, membuat pria itu terkekeh pelan. Di sepanjang koridor rumah sakit mereka menjadi pusat perhatian. Bella pun semakin menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Mas malu," cicit Bella pelan.
"Jangan pedulikan mereka."
Devan tampak acuh dan terus berjalan keluar rumah sakit menuju mobil, dia tidak menghiraukan orang-orang yang menatap ke arahnya.
Sesampainya di mobil Devan langsung mendudukkan bella dengan hati-hati, dan Devan duduk di sebelah Bella. Mobil yang di kendarai Jo itu langsung melaju meninggalkan rumah sakit. Bella mengarahkan pandangannya ke luar jendela, dia begitu menikmati pemandangan di sore hari itu, Devan yang merasa di acuhkan pun menjadi kesal. Dengan sekali sentakan, kini Bella sudah berpindah tempat duduk di paha Devan.
"Mas?" protes Bella.
"Apa? Kamu mau mengacuhkan suami mu lagi? Padahal sudah lebih dari seminggu ini kamu mengabaikan ku hingga aku jadi Kumal seperti ini," cerocos Devan.
Bella langsung terdiam, dia tidak lagi melanjutkan aksi protesnya itu. Sedang Devan, pria itu langsung melingkarkan tangannya di perut Bella, dan kepalanya di sandarkan di bahu Bella. Di usapnya dengan lembut perut yang tengah mengandung buah hatinya itu.
"Sayang lihat mommy mu, dia mengacuhkan Daddy sejak seminggu lalu. Dan sekarang lagi-lagi dia mau mengacuhkan Daddy, Daddy sedih sekali," ucap Devan sambil mengelus perut Bella yang masih rata.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.