
Selepas kepergian Bella, paman Isa kembali masuk ke dalam. Dia langsung di hadang oleh anak dan istrinya itu.
"Bapak mau makan siang pake apa? Biar ibu masakan," ucap bibi Indri sok baik.
"Apa saja. Bapak mau ke kamar dulu," kata paman Isa.
"Ah iya, bapak pasti capek ya. Ya sudah bapak istirahat saja di kamar, nanti saat makan siang akan ibu bangunkan," katanya lagi.
Paman Isa hanya mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga. Dia berusaha bersikap seperti biasanya, pria paruh baya itu pura-pura tidak tau akan apa yang sudah di lakukan oleh istrinya itu. Itu semua demi kelancaran rencana Devan untuk menangkap Doni.
Setelah bayangan paman Isa tidak terlihat lagi, bibi Indri dan Alea langsung merubah raut wajahnya kembali. Seolah-olah mereka begitu kesal dengan kehadiran pria itu di tengah tengah mereka.
"Bu, kenapa bapak bisa kembali lagi? Bukankah kata ibu, bapak sudah di sekap di tempat yang jauh dari kota," ujar Alea setengah kesal.
"Ibu juga tidak tau, Doni tidak memberi kabar apa pun. Apakah dia sudah mengambil alih aset si tua Bangka itu atau belum, intinya kalau sudah kita tendang saja tua Bangka itu dari rumah ini," ucap Indri berapi-api.
"Ibu telpon saja om Doni, tanyakan kejelasannya," usul Alea.
"Kamu benar, kenapa ibu bisa lupa menghubungi dia. Tunggu sebentar biar ibu telpon doni dulu," kata Indri yang langsung merogoh ponsel yang ada di sakunya.
Indri langsung saja mencari kontak Doni, kemudian setelahnya langsung men-deal nomor itu. Beberapa kali mencoba, namun tak kunjung mendapat jawaban. Telpon darinya di reject oleh Doni.
"Tidak di angkat," ucap Indri.
"Coba sekali lagi Bu, siapa tau tadi dia tidak dengar," kata Alea.
"Baiklah sekali lagi."
Setelah lama tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya panggilan pun terhubung juga.
__ADS_1
"Halo!" sentak Doni dari sebrang sana.
"Sayang ini aku, kenapa kau membentak pada ku? Apa salah ku?" tanya Indri dengan nada agak pelan.
"Kau rupanya yang mengganggu ku! Ada apa, hah!?" tanya Doni.
Samar-samar Indri mendengar suara des*han dari sebrang telpon, sepertinya Doni sedang melakukan sesuatu di sana.
"Ss-sh owhh, e-enghhh." suara ******* seorang wanita terdengar jelas di telinga Indri, namun dia sudah terbiasa dengan hal itu. Karena dia tau, Doni memang suka bermain dengan jal*ng.
plokk... Plok... Plokkk...
"Sayang kau sedang apa di sana?" tanya Indri penasaran. Meski dia sudah bisa menduga apa yang di lakukan oleh pria itu.
Doni langsung memperlambat gerakannya, "Ck, banyak tanya! Cepat katakan ada apa? Kalau tidak akan aku matikan," kata Doni.
"Apa?"
"Isa ada di rumah. Katakan, apakah kau sudah berhasil mendapatkan perusahaan dan aset lainnya?" tanya Indri.
mendengar ucapan Indri, Doni yang sedang memacu hasrat dengan beberapa jal*ngnya pun langsung menghentikan aktivitasnya.
"Ahh, sayang kenapah di cabuth?" rengek jal*ng itu.
"Diam!"
Doni langsung bangkit, dia sangat tertarik dengan berita yang di ucapkan oleh Indri.
"S*al! Isa di rumah? Kapan dia kembali?" tanya Doni.
__ADS_1
"Tadi, baru beberapa menit lalu. Katakan, apa kah kau sudah mendapatkan semuanya?" tanya Indri lagi.
"Mendapatkan apa, dia kabur sebelum aku mendapatkan semuanya. Ada yang menolongnya!" jelas Doni dengan nada emosi.
"Apa! Jadi perusahaan itu masih milik tua bangka itu? Ck! Bodoh sekali kau ini," ketus Indri.
"Heh, jaga bicara mu! Atau kau akan tau akibatnya!" ancam Doni.
"Jangan biarkan dia pergi ke mana pun, pastikan dia tidak pergi jauh dari rumah itu. Aku akan mengatur rencana untuk kembali menyanderanya sampai dia memberikan perusahaan itu pada ku! Kau mengerti?!" sambung Doni lagi.
"Ck, ya ya. Aku tau!"
Sambungan telpon pun terputus. Doni yang di landa kemarahan pun membanting semua barang yang ada di kamar itu, dua jal*ng yang tadinya berbaring di ranjang pun beringsut mulai memakai pakaiannya masing-masing.
"Sh***!" umpat Doni yang langsung keluar dari kamarnya.
Sedangkan Indri dan Alea, dua wanita itu tengah memaki Doni habis-habisan.
"Ck, Doni bodoh!" maki Indri.
"Ada apa Bu? Kenapa?" tanya Alea.
"Si bodoh itu, melakukan hal seperti itu saja tidak bisa. Sudah beberapa bulan dia menyekap Isa, tapi masih belum bisa mengambil alih aset keluarga ini," jelas Indri.
"Apa?! Jadi kita masih numpang dong di rumah ini?"
"Kita harus mencari cara untuk mendapatkan semuanya, ibu sudah tidak tahan ingin menendang tua bangka itu dari sini," ucap Indri.
"Iya Bu, ibu benar. Kita harus menyingkirkan bapak, dan setelah itu kita akan kaya!"
__ADS_1