
Satu bulan setelah kejadian itu, hari ini Bella akan terbang ke New york bersama Hendry untuk menghadiri seminar bisnis, dan Hendry akan mengikuti fashion week karena kebetulan acaranya bersamaan.
Selama satu bulan ini, Devan selalu berusaha untuk mendapat maaf dari Bella. Meski selalu Hendry halangi, tetapi Devan tidak patah semangat. Devan juga mengetahui tentang perjalanan Bella ke New york, dan dia memiliki rencana tersendiri.
Malam hari, Bella dan Hendry sampai di new york. Mereka berdua langsung menuju ke hotel untuk beristirahat, karena acaranya akan berlangsung esok hari. Mereka masuk ke kamar masing-masing yang letaknya berdampingan.
"Masuk dan istirahat lah Dik," kata Hendry sebelum mereka masuk ke kamar.
"Iya kak, kakak juga istirahat," sahut Bella.
Mereka akhirnya masuk ke dalam kamar. Bella langsung membersihkan dirinya, lalu setelah itu dia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah akibat perjalanan panjang.
Keesokan harinya, Bella tengah bersiap-siap untuk menghadiri acara seminar. Dirinya merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, kepalanya terasa berputar dan perutnya yang seperti di aduk-aduk, rasanya begitu mual. Bella keluar dari kamar untuk pergi sarapan bersama Hendry, dia menahan gejolak dalam perutnya.
Makanan sudah di datang, terlihat enak dan menggugah selera. Tapi berbeda dengan Bella, dirinya merasa mual mencium aroma makanan itu. Bella membekap mulutnya yang ingin muntah. Hendry yang melihat hal itu pun menjadi khawatir, pasalnya kemarin Bella masih baik-baik saja.
"Dik, kamu baik-baik saja?" tanya Hendry cemas.
"Bella tidak apa-apa kak, hanya sedikit mual saja mungkin masuk angin. Nanti di kasih minyak angin juga pasti mendingan," jawab Bella.
"Tapi kamu terlihat pucat, atau mau aku belikan obat?" tawar Hendry.
"Tidak perlu kak, Bella baik-baik saja kok. Cukup di kasih minyak angin saja," ujar Bella tersenyum.
Walau mual, Bella mencoba memakan makanannya, karena sebentar lagi dirinya harus berangkat. Seminar akan di mulai satu jam lagi, dan dirinya tidak ingin terlambat walau sedetik pun.
"Kalau tidak kuat jangan di paksakan, kamu beristirahat saja di kamar," usul Hendry.
"Kalau aku di kamar, aku tidak bisa mengikuti seminar itu dong kak. Aku kan ke sini karena ingin ikut hadir dalam seminar itu," kata Bella cemberut.
"Haha, baiklah. Jangan cemberut," ucap Hendry mencubit pipi Bella gemas.
"Ya sudah hati-hati, jaga diri mu baik-baik. Kabari aku jika ada apa-apa. Taksi mu sudah menunggu di depan," sambung Hendry.
__ADS_1
"Baik kak, kalau begitu Bella duluan ya," pamit Bella meninggalkan Hendry sendirian.
Hendry dan Bella berangkat secara terpisah, karena tempat acaranya pun berbeda.
Acara seminar yang Bella ikuti berjalan dengan lancar hingga sore hari, Bella terus memaksakan diri mengikuti acara itu hingga akhir. Taksi yang Bella tumpangi berhenti tepat di loby hotel mereka menginap, rasanya dia tak mampu lagi menahan denyut di kepalanya. Kepalanya terasa berputar dan matanya mulai berkunang-kunang. Bella berpikir bahwa dirinya harus segera sampai di kamar dan beristirahat. Namun baru beberapa langkah dirinya memasuki hotel, tubuhnya tiba-tiba luruh begitu saja.
"Bella!"
Itu teriakan terakhir yang Bella dengar sebelum dirinya menutup mata.
...๐๐๐...
Di klinik terdekat, dokter baru saja selesai memeriksa kondisi Bella.
"Apa anda suami nona Bella?" tanya dokter itu.
"E-eh? I-iya dok, saya suaminya. Ada apa dengan i-istri saya?" jawab Hendry. Ya, Hendry lah orang yang membawa Bella ke klinik.
"Selamat tuan, istri anda sedang mengandung," ujar dokter.
"Hamil, tuan. Istri anda sedang hamil," jelas dokter itu.
"Hamil?! What! Hamil dok?" pekik Hendry terkejut.
"Benar tuan. Ini saya sudah tuliskan resep vitamin untuk nona Bella, nanti silahkan tebus di apotek. Pesan saya, tolong di jaga baik-baik ya tuan, karena usia kandungan yang masih muda itu rentan keguguran. Jaga pola makan, jangan capek dan jangan stres," jelas dokter itu sembari menyodorkan resep vitamin untuk Bella.
"Tapi kenapa dia belum sadar dok?" tanya Hendry.
"Itu karena nona Bella kelelahan dan terlalu banyak pikiran, sebentar lagi juga akan sadar," kata dokter.
Hendry melangkah mendekat ke arah Bella yang terbaring di ranjang pasien, wajahnya terlihat begitu pucat.
"Dik, aku tidak tau ini akan menjadi kabar gembira atau kabar tidak mengenakan untuk mu. Jika nanti kamu ingin kembali bersama Devan, aku akan mengijinkannya dengan syarat Devan harus berubah. Tapi jika kamu tidak mau, maka dengan suka rela aku akan membantu merawatnya. Ponakan uncle, sehat-sehat ya di dalam sana. Jadilah anak baik dan jangan membuat ibu mu sakit." Hendry mengusap pelan perut Bella yang masih rata.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Bella mulai mengerjapkan matanya. Tangannya memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Ssh, aku di mana kak?" tanya Bella pada Hendry yang berdiri di samping ranjangnya.
"Kamu ada di klinik Dik, kamu pingsan tadi," jawab Hendry.
"Mungkin karena aku kelelahan kak, jadi tubuh ku kurang fit," ucap Bella lemah.
"Kondisi tubuh mu baik-baik saja Dik, hanya saja..." Hendry menggantungkan ucapannya.
"Ada apa kak?" tanya Bella penasaran.
"Kamu sedang hamil Dik," jawab Hendry.
"A-aku hamil kak?" tanya Bella tidak percaya.
"Iya Dik, kamu hamil sudah lima Minggu," jelas Hendry.
Air mata Bella langsung luruh seketika, Bella tidak tau harus mengekpresikan kabar ini bagaimana. Haruskah dia bersedih? Atau bahagia? Perasaan gamang menyelimuti dirinya.
"Kamu menangis karena sedih atau bahagia, Dik?" tanya Hendry.
"Aku tidak tau kak, semuanya bercampur menjadi satu. Aku takut Devan akan merebut anak ini dari ku, atau mungkin, dia tidak akan mengakui anak ini," ujar Bella mengatakan kekhawatirannya.
"Kamu tenang saja Dik, selama masih ada aku, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian berdua. Jika kamu tidak ingin kembali pada Devan, tidak apa-apa kita besarkan dia bersama sama. Aku tentu senang mempunyai keponakan yang akan aku ajak main nantinya," hibur Hendry.
"Kak, maafkan aku yang selalu merepotkan kakak. Aku janji, setelah aku sukses nanti aku akan membalas kebaikan kakak," ucap Bella tersenyum tulus.
"Tidak ada kata merepotkan untuk mu. Aku senang, karena berkat kamu, aku jadi merasa memiliki keluarga. Aku bahkan seperti menemukan sosok adik ku di dalam diri mu," kata Hendry.
"Kakak punya adik? Di mana adik kakak?" tanya Bella.
"Kakak punya seorang adik perempuan, saat kecil kami selalu bersama. Tapi karena sebuah tragedi jadi kami terpisahkan. Sudahlah lupakan saja, itu hanya akan membuat aku sedih."
__ADS_1
"Maaf kak," ucap Bella merasa bersalah.
"Tidak apa-apa kok."