
"Eva," panggil paman Isa.
"Apa paman mengenal kakak saya?" tanya Vita penasaran.
"Dia-" ucap Paman Isa terputus karena dia anak buah itu membuka pintu.
Ceklek!
"Kita lanjutkan ceritanya nanti saja setelah aman," ucap Vita sangat pelan namun paman Isa masih bisa mendengarnya karena posisinya memang sangat dekat.
Paman Isa hanya terdiam dan mengangguk kecil, sementara Eva Kakak dari dokter Vita, wanita itu menatap miris kepada pria paruh baya yang menjadi pasiennya itu. Dokter Vita telah menceritakan bahwa pasiennya itu adalah seorang tawanan, jadi Eva berpura-pura tidak mengenal Paman Isa dan bersikap biasa saja.
"Kenapa kalian masuk terus sih, kalian itu membuat kami tidak fokus tau!" ketus dokter Vita dengan mata melotot ke arah dua pengawal itu.
"Kami hanya akan berdiri di sini untuk memantau apakah dokter melakukan tugas dokter dengan benar atau tidak," kata Kemal santai.
"Ya sudah, kalian berdiri saja di sana!" ketus dokter Vita.
Dua anak buah itu, Kemal dan Arul berdiri di depan pintu. Mereka berdiri seperti patung namun matanya memperhatikan apa yang di lakukan oleh dokter itu.
"Tuan, tahan sebentar ya. Saya akan pasang jarum untuk menambah darah anda. Ini mungkin akan sedikit sakit," kata Eva yang seorang perawat.
__ADS_1
"Iya," sahut paman Isa.
Eva mulai mencari urat nadi paman Isa, kemudian setelah nya, wanita itu memasangkan jarumnya.
"Sudah selesai paman, saya akan kembali ke rumah dinas. Jika ada apa-apa katakan pada Kak Eva agar nanti kakak yang akan memberitahukannya pada ku," ucap dokter Vita.
Dokter Vita pergi meninggalkan rumah tua itu.
Ide untuk meninggalkan Eva di sana menjaga Paman Isa memanglah tidak masuk akal, selain berbahaya bagi Paman Isa bisa juga berdampak pada Eva. Namun mau bagaimana lagi, Vita tidak ada jalan lain untuk membantu Paman Isa agar segera terbebas dari sana. Dan yang menjadi pertanyaan besar di kepala dokter Vita adalah, bagaimana bisa pria paruh baya itu mengenal kakaknya, apa mungkin Kakaknya juga mengenal Paman Isa? Jika sampai dua pengawal itu tahu kalau Paman Isa mengenal Eva, maka semua akan semakin menjadi kacau. Dia harus segera menghubungi keponakan dari pria itu, agar urusan ini segera selesai. Dokter Vita tidak ingin keluarga satu-satunya yang dia miliki itu terluka, karena di dunia ini dia hanya memiliki Eva saja.
Dokter Vita sampai di rumah dinasnya, kemudian wanita itu memutuskan untuk menghubungi Bella, untuk memberitahu agar segera membebaskan Paman Isa dari sana.
"Halo dokter, Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Bella dari seberang sana.
"Nona, saya harap anda segera datang ke sini untuk menyelamatkan Paman anda. Karena saya tidak mau ambil resiko, saya takut hal ini akan berimbas terhadap kakak saya juga," kata dokter Vita.
"Dokter kami sedang menyusun rencana untuk segera sampai di sana, tolong ulur waktu hingga lusa. Saya pasti akan segera ke sana," sahut Bella.
"Baiklah kalau begitu Nona, hanya sampai lusa. Jika lusa anda tidak segera datang maka saya tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi," sahut dokter Vita.
"Terima kasih atas kebaikannya dokter, saya sangat berterima kasih karena anda mau membantu saya. Saya pasti akan membalas kebaikan anda," ucap Bela tulus.
__ADS_1
"Tidak perlu membalas apapun nona, saya membantu anda tulus dan ikhlas. Ya sudah, kalau begitu saya tutup dulu teleponnya."
Sambungan telepon itu pun berakhir, Bella segera mendekati suaminya, untuk memberitahukan kabar ini.
"Sayang apakah tidak bisa di percepat saja? Bella takut akan terjadi sesuatu hal yang lebih buruk pada paman," ucap Bella dengan wajah khawatir.
"Aku, Jo dan juga beberapa anak buah ku yang lain akan menuju ke sana malam ini. Kamu tenang ya sayang, aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk paman," jawab Devan sambil mengelus lembut surai panjang Bella.
"Bella oleh ikut, kan?" tanya Bella antusias.
"Tidak sayang, tentu saja aku tidak akan mengizinkan diri mu ikut. Karena itu pasti akan sangat berbahaya, aku tidak ingin kamu dan calon anak kita, kenapa-napa. Aku berjanji akan membawa pulang paman dengan selamat dan sehat," ucap Devan meyakinkan.
"Tapi aku sangat merindukan paman, aku berjanji tidak akan membuat masalah. Aku juga bisa menjaga diri ku sendiri," ucap Bela.
"Sayang apa kamu tidak percaya pada suami mu ini? Ku mohon mengertilah, jika kamu ikut maka pikiran ku akan terbagi antara kamu dan Paman. Tapi jika di rumah, kamu bisa aman karena masih ada papa, jadi aku bisa fokus untuk segera membebaskan paman," jelas Devan dengan penuh kelembutan.
"Nanti akan ada anak buah Papa yang menjaga mu di Mansion, jadi aku bisa tenang untuk menjalankan misi ini. Dan jangan lupa, kamu tidak boleh bepergian sendiri apa lagi tanpa memberitahu orang rumah. Jika kamu ingin ke mana pun katakan pada papa, dia pasti akan menemani mu. Aku sudah mengatakan hal ini pada papa dan dia tidak keberatan. Kamu percaya pada ku, kan?" kata Devan.
"baiklah, aku akan di rumah saja. Terima kasih Mas, Terima kasih sudah mau aku repotkan," ucap Bella sambil tersenyum manis.
"Tidak perlu berterima kasih sayang ku, apa pun akan aku lakukan untuk pujaan hati ku ini," ujar Devan sambil mengecup lembut kening Bella, kemudian pria itu membawa Bella ke dalam dekapannya.
__ADS_1