
Lima belas menit kemudian, Devan telah menyelesaikan acara mandinya. Dia sudah tidak melihat keberadaan Bella di kamar itu, yang ia lihat adalah sepasang pakaian santai yang berada di atas ranjang. Bella memilih celana panjang casual dan kaos lengan pendek berwarna putih, sedikit bertolak belakang dengan karakter Devan yang keras dan dingin, tetapi Devan tetap memakainya.
Suasana makan malam tampak hening seperti biasanya, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu, mereka makan dalam diam. Devan makan dengan lahap, Devan merasa agak aneh dengan dirinya. Nafsu makannya yang meningkat atau masakan pak Sam yang berubah rasa menjadi lebih enak? Entahlah Devan pun tidak tau.
Setelah selesai, Devan langsung menuju ke ruang kerjanya. Sedangkan papa dan Bella pergi ke ruang keluarga, mereka menonton tv sambil bersantai.
"Kamu biasanya melakukan kegiatan apa saja nak?" Tanya papa memecah keheningan di antara mereka.
"Kegiatan Bella dulu biasanya kuliah pa, tapi sekarang tidak lagi. Bella ambil off selama satu tahun ini." Ujar Bella.
"Loh kenapa off?" Tanya papa bingung.
"Hehe biasa pa."
"Kamu mau, mulai kuliah lagi? Biar papa uruskan." Tawar papa.
"Tidak perlu pa, Bella tidak mau merepotkan papa dan tuan Devan." Sahut Bella merasa tak enak.
"Merepotkan apanya? kamu itu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, jadi mana mungkin merepotkan."
"tidak apa-apa pa, Bella di rumah saja dulu. Bella ingin fokus mengurus suami Bella dulu." Jelas Bella.
Papa sangat bangga dengan pemikiran dewasa menantunya itu, hal itu semakin membuatnya yakin jika Bella adalah gadis baik-baik. Bella begitu peduli kepadanya dan juga Devan, Bella tidak memanfaatkan tawaran papa agar bisa kembali masuk kuliah.
*****
Pagi harinya, seperti biasa Bella bangun sebelum Devan terbangun. Rutinitas Bella di pagi hari adalah menyiapkan segala kebutuhan Devan, mulai dari menyiapkan setelan kerja dan menyiapkan sarapan untuk Devan. Bella sudah mulai terbiasa dengan itu, dia juga merasa nyaman berada di rumah itu, karena papa mertua yang baik serta para pelayan yang menghormatinya.
Devan tampak sudah rapi dengan setelan kerjanya yang berwarna gelap, dia sangat tampan jika sedang memakai pakaian seperti itu. Eh tapi dia memang selalu tampan kan? Haha.
Seperti biasa, mereka makan dalam diam. Hanya ada bunyi dentingan sendok yang saling bersahutan.
__ADS_1
"Dev, papa akan pulang hari ini." Ujar papa saat sudah menyelesaikan acara sarapan paginya.
Papa Devan berniat kembali ke Amerika, di sana papa membantu Devan mengurus cabang perusahaannya di sana. Mengurus cabang tidaklah seberat mengurus kantor pusat, papa akan datang sesekali untuk mengecek laporan. Jadi papa memiliki banyak waktu untuk beristirahat.
"Kenapa buru-buru sekali pa?" Tanya Devan.
"Tidak ada masalah apa pun Dev, papa hanya merasa kalian membutuhkan waktu untuk berdua jadi papa memutuskan akan kembali pagi ini."
"Pa, ayolah." Ujar Devan.
"Kalian harus sering-sering menghabiskan waktu berdua, agar kalian lebih mengenal satu sama lain. Kau paham kan Dev?" Tanya papa.
"Baiklah, terserah papa saja." Sahut Devan mengalah.
Tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar, entah siapa yang membuat keributan di pagi hari, memancing emosi Devan saja.
Devan bangkit dari kursinya, kemudian menuju ke depan untuk melihat, siapa dalang dari keributan itu. Terlihat di sana, Tante Indri dan putrinya Alea memaksa untuk masuk namun di cegah oleh penjaga.
"Menantu, kenapa kami tidak di izinkan masuk? Aku ini ibu mertua mu, kenapa kau bersikap seperti ini pada kami?" Tanya Tante Indri.
"Iya kakak ipar, bukankah kita sudah menjadi keluarga. Jadi kami bebas dong main-main ke rumah ini." Sambung Alea tidak tau malu.
"Kalian benar-benar tidak punya malu, apa kalian sudah tidak waras? Hah!" Kecam Devan, emosinya sudah naik sampai ke ubun-ubun.
"Dev, sudahlah tenangkan diri mu." Ujar papa Devan menenangkan.
"Papa tidak lihat? Manusia ini benar-benar tidak tau malu, bertamu di pagi buta seperti ini dan membuat keributan!"
Devan segera berlalu dari sana, moodnya sudah memburuk hanya karena dua sampah itu.
"Bella, kau tidak mau mempersilahkan kami masuk?! Kau akan membiarkan kami berdiri di sini saja?" Tanya bibi Indri judes.
__ADS_1
"Maaf bibi, aku tidak memiliki hak untuk mengizinkan kalian masuk. Lebih baik kalian kembali, aku tidak ingin jika suami ku semakin marah." Jawab Bella.
"Kau tegas sekali Bella, kami berdua ini keluarga mu. Kami itu mau menjenguk mu, dan kau malah mengusir kami." Ketus Alea.
"Kak, aku mohon kalian mengertilah. Aku di sini tidak memiliki hak untuk apapun, ini rumah suami ku bukan rumah ku. Jika dia tidak mengizinkan masuk, aku pun tidak bisa melanggar perintahnya." Jelas Bella.
Bibi Indri dan Alea keluar dari mansion Devan dengan perasaan kesal, karena niatnya sarapan bersama Devan gagal. Setelah kepergian bibi dan Alea, Bella melangkahkan kakinya memasuki rumah untuk menyusul Devan.
Baru saja selesai dengan keluarga Bella, kini datanglah nesva yang kembali membuat keributan. Dia masuk ke halaman rumah dengan memencet klakson mobilnya secara berulang-ulang.
"Devan!"
"Devan!" Teriak nesva.
"Siapa lagi itu? Kenapa banyak sekali pengganggu yang datang ke sini?" Tanya papa Devan heran.
"Itu pasti nesva, mau apa wanita itu datang kemari?" Gerutu Devan kesal, di pagi buta seperti ini sudah banyak yang membuat moodnya hancur.
Mendengar gerutuan Devan, papa dan Bella memilih untuk diam. Papa tidak ingin ikut campur urusan pribadi Devan, sedangkan Bella yang tidak tahu apapun memilih pergi ke kamar agar tidak menjadi pelampiasan kemarahan Devan, Bella lebih memilih mencari aman saja.
Devan nampak keluar dengan wajah dinginnya. Sedangkan nesva yang melihat kedatangan Devan segera keluar dari mobil dan berlari untuk memeluk Devan.
"Aaa Devan aku merindukan mu!" Ujar Nesva sembari merentangkan kedua tangannya.
Devan berhenti agak jauh dari nesva, dia begitu enggan berdekatan dengan wanita itu.
"Devan kenapa kau hanya berhenti di sana? Kenapa kau tidak datang dan memeluk ku, bukankah kita akan segera menikah? Apa kau tidak merindukan ku?" Tanya nesva dengan suara lantang agar seluruh pelayan mendengarnya.
"Tidak perlu berbasa-basi, cepat katakan apa tujuan mu datang kemari?!" Tanya Devan penuh penekanan.
"Devan kau kasar sekali, apa begini cara mu memperlakukan calon istri mu? Kita sudah sepakat di jodohkan, bahkan kau sudah menandatangani surat perjanjian itu. Kau pasti tau kan apa akibatnya jika kau melanggar?" Ancam nesva.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat mood Devan semakin kacau, dirinya mencoba mengingat-ingat apakah dia pernah menandatangani sesuatu, dia pun merasa aneh akan hal ini.