
setelah drama sarapan yang membuat Bella malu setengah mati, kini Devan akan berangkat ke kantor seperti biasanya. Bella mengantar Devan ke depan, terlihat sudah ada Jo yang menunggu di sana.
"Sayang cium," pinta Devan tidak tau tempat.
Cup... Cup...
"Sudah, cepat berangkat," ucap Bella setelah mendaratkan kecupan singkat di kedua pipi Devan.
"Aku maunya di sini sayang," ujar Devan menunjuk bibirnya.
"Sayang, kan sudah di cium dua kali. Sana berangkat," perintah Bella.
"No! Itu bukan ciuman, itu hanya kecupan. Aku tidak akan berangkat sebelum mendapatkan ciuman itu," sahut Devan dengan wajah datarnya.
"Mas, ada Jo. Nanti setelah pulang saja ya," kata Bella hati-hati takut suaminya itu ngambek lagi.
"Tidak mau! Sayang ayo cium, atau aku tidak jadi ke kantor," ancam Devan.
"Ck, menyebalkan!" gumam Bella lirih.
"Aku mendengarnya sayang."
"Hehe, iya iya. Tapi sebentar saja ya," ucap Bella.
Devan mengangguk antusias, dan hal itu tampak menggemaskan di mata Bella. Devan seperti anak kecil jika sudah mode manja seperti ini. Bella tidak pernah membayangkan jika dia dan suaminya akan menjadi pasangan yang saling mencintai satu sama lain, sebisa mungkin dia menjaga keharmonisan keluarganya.
"Menunduk lah," kata Bella.
__ADS_1
Devan langsung menunduk, setelahnya Bella langsung mencium bibir seksi Devan. Sebelah tangannya telulur untuk menutupi kegiatan mereka agar Jo tidak melihat apa yang mereka lakukan. Namun karena jarak antara mereka lumayan dekat, dan dari gerak-gerik keduanya Jo langsung bisa mengetahui apa yang di lakukan oleh kedua majikannya itu.
"Dasar tidak tahu tempat! Pagi-pagi seperti ini aku sudah di suguhkan oleh keUWUan mereka. Ck, membuat ku iri saja, nasib nasib jadi orang jomblo," gumam Jo pelan sambil menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah tuannya itu.
Setelah melihat istrinya itu hampir kehabisan nafas, Devan menyudahi ciuman mereka. Devan mengusap lembut sudut bibir istrinya itu, menghapus jejak liur mereka yang bercampur menjadi satu.
"Katanya sebentar doang, bohong kamu," kesal Bella sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf sayang aku kelepasan, Ya sudah aku berangkat ya," pamit Devan yang langsung mengecup kening istrinya, sebelum pergi.
Devan berjalan ke arah Jo yang sudah menunggu di mobil, terlihat raut wajah Jo tampak masam.
"Kau kenapa Jo?" tanya Devan dengan polosnya.
"Sudah tuan, romantis-romantisannya?" tanya Jo.
"Sebenarnya belum, tapi berhubung kau sudah menunggu ku sejak tadi, jadi aku putuskan untuk berangkat sekarang," jawab Devan tanpa rasa bersalah.
Mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan pelataran Mansion. Devan sudah beberapa hari tidak datang ke kantor, perusahaan hanya di cek saja oleh papa Andra.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Devan sampai di kantor. seperti biasa, jika dirinya turun maka pasti akan menjadi pusat perhatian para karyawannya, terlebih para wanita. Aura yang begitu mahal dan berwibawa, wajah tampan dan tegas membuat wanita mana saja yang menatapnya langsung jatuh cinta.
"Baru beberapa hari tidak terlihat, sekarang sudah tambah tampan saja ya," bisik resepsionis pada temannya.
"Iya, aku juga heran kenapa bisa ada orang setampan tuan Devan. Istrinya pasti sangat beruntung mendapatkannya," jawab temannya itu.
Meski lirih, Devan dapat mendengar bisikan karyawannya itu. Namun dia tidak mau menanggapi, selagi tidak ada yang menjelek-jelekan istrinya maka Devan tidak masalah.
__ADS_1
'Salah besar jika mereka menganggap istri ku beruntung karena mendapatkan aku. Aku! Akulah yang sangat beruntung karena sudah mendapatkan wanita hebat seperti cinta ku itu,' kata Devan dalam hati.
Devan terus berjalan ke arah lift, pandangannya lurus ke depan. Namun telinganya tajam mendengar apa yang di ucapkan oleh para karyawannya.
Setelah sampai di lantai paling atas, Devan langsung menuju ke ruangannya di ikuti Jo di belakangnya. Devan langsung menjatuhkan diri di kursi kebesarannya, rasanya dia begitu malas masuk ke kantor. Jika tidak karena Bella yang menyuruhnya bekerja, maka dia pasti akan di rumah seharian menghabiskan waktu bersama istri tercintanya.
"Apa schedule hari ini Jo?" tanya Devan dengan malas.
"Schedule hari ini, anda harus memeriksa berkas-berkas ini dan setelahnya tanda tangani. Itu saja tuan," jawab Jo sambil menunjuk ke arah tumpukan berkas di atas meja Devan yang menggunung.
"Kenapa bisa sebanyak ini, Jo? Apa saja kerja mu selama ini, jika masih harus aku yang menyelesaikannya?" tanya Devan menatap malas tumpukan itu.
"Ini baru setengahnya tuan, setengahnya lagi masih ada di ruangan saya," kata Jo yang membuat Devan menghembuskan napasnya kasar.
"Ck! Si*lan kau Jo," rutuk Devan kesal.
"Sebentar tuan, akan saya ambil berkasnya," ucap Jo yang langsung keluar dari ruangan Devan.
Tidak lama kemudian, Jo kembali masuk ke ruangan Devan dengan membawa setumpuk berkas di tangannya. Salah sendiri sampai beberapa hari tidak berangkat ke kantor, kan jadi banyak pekerjaannya.
Untuk yang ke sekian kalinya Devan kembali menghela napas panjang, mau tidak mau dia harus mengerjakan semua ini. Ya mau bagaimana lagi, memberi tanda tangan pada berkas perusahaan adalah tugasnya. Jadi jangan salahkan Jo, oke.
"Ini semua sudah saya periksa, anda hanya perlu membaca ulang sebelum menanda tanganinya," ucap Jo.
"Ya aku sudah tau, pergilah!" usir Devan.
"Dengan senang hati tuan," jawab Jo yang langsung beranjak ke luar dari ruangan Devan.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Jo, membuat Devan mendelik kesal. Apa katanya? Dengan senang hati? Apa dia tidak memiliki inisiatif untuk membantu bosnya itu? Ck dasar Jo tidak pengertian, tidak peka.
"Ck, sudah jelek menyebalkan pula!" gerutu Devan.