
Di ruang rawat Bella kini ada papa Andra dan juga Devan tentunya, mereka berbincang kecil dan sesekali di bubuhi tawa. Saat sedang asik mengobrol tiba-tiba Jo datang dan membisikan sesuatu ke telinga Devan.
"Sayang, aku keluar sebentar ada yang harus aku bahas dengan Jo," kata Devan pada Bella.
Bella hanya mengangguk tanpa bertanya ada apa.
"Pa Devan titip Bella dulu," ucap Devan pada papa Andra.
"Ada apa, son?" tanya papa Andra.
"Ada sedikit masalah di perusahaan, tuan besar," sahut Jo.
"Baiklah, jika ada apa-apa kabari papa. Biar papa bantu," kata papa Andra.
"Devan masih sanggup menanganinya pa," ucap Devan.
Papa Andra mengangguk saja, kemudian Devan dan Jo keluar dari ruang perawatan Bella.
Kini Jo dan Devan berada di lorong rumah sakit, di sana tampak sepi karena memang jarang di lewati orang.
"Katakan!" kata Devan yang sudah kembali ke setelan awal, yaitu dingin dan tegas.
"Saya sudah mengetahui siapa pelaku yang sudah menabrak nona, tuan. orangnya adalah nona Nesva," ujar Jo.
Devan mengangkat sebelah alisnya, dia jadi semakin membenci wanita itu, "Wanita itu lagi?"
"Benar tuan, nona Nesva kebetulan juga berada di sana saat anda dan nona Bella di taman. Dan saat melihat nona Bella menyebrang, dia langsung memiliki niat jahat untuk menabrak nona Bella. Karena menurutnya, jika nona Bella tidak hadir dalam hidup anda, maka anda pasti akan memilih dia sebagai pasangan hidupnya," jelas Jo yang membuat Devan geram.
"Dasar wanita tidak tau diri! Bagaimana bisa dia menyimpulkan hal bodoh seperti itu? Kau tau apa yang harus kau lakukan, kan Jo?" ucap Devan.
"Baik tuan, akan saya laksanakan," sahut Jo.
"Hancurkan perusahaan tuan Smith, sampai tidak bersisa sedikit pun. Setelahnya kirim wanita itu sejauh mungkin dari kehidupan ku dan istri ku! Kirim wanita itu ke daerah terpencil yang sulit untuk di jangkau, jangan biarkan dia kabur!" kata Devan dengan tersenyum smirk.
Jo yang sudah lama tidak melihat itu, menjadi bergidik ngeri di buatnya.
'Yayaya, tuan ku yang dulu sudah kembali. Tunggu kehancuran mu, nona Nesva,' batin Jo.
"Baik tuan, kalau begitu saya akan kembali ke kantor lebih dulu," pamit Jo.
__ADS_1
"Eh, tunggu Jo!" panggil Devan sambil menarik lengan baju Jo.
"Ada apa tuan?" tanya Jo.
"Sebelum kembali ke kantor, belikan aku rujak dan antar ke sini dulu. Aku ingin yang pedas! Sangat pedas!" ucap Devan sambil meneguk air liurnya yang seakan akan menetes karena membayangkan betapa nikmatnya rujak buah.
"Apa anda yakin tuan? Anda kan, tidak suka pedas," tanya Jo memastikan.
"Ck jangan membantah! cepat sana pergi," usir Devan yang langsung meninggalkan Jo yang masih ternganga tidak percaya.
"Pedas? Apa aku salah dengar, atau tuan yang salah bicara? Bisa jadi kan, lidah tuan sedang keseleo," gumam Jo.
"Pedas atau tidak sih? Aku takut tuan mengerjai ku dan setelah aku salah aku akan di hukum," bingung Jo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ah sudahlah peduli apa aku."
Jo langsung pergi untuk melaksanakan tugas aneh yang di berikan tuannya anehnya itu.
Di ruang rawat Bella, Devan baru saja masuk dengan tatapan mata yang sudah kembali melembut.
"Kau sudah kembali Dev? Kalau begitu papa pulang dulu ya, pinggang apa nyeri karena duduk terlalu lama. biasa, orang tua memang begini," kata papa Andra sambil memegangi pinggangnya.
"Iya pa, papa pulang saja. Devan sudah selesai kok," sahut Devan.
"Ya sudah, kalau begitu papa tinggal," kata papa Andra kemudian keluar dari sana.
Devan masuk kemudian berjalan mendekat ke ranjang sang istri.
"Sudah selesai mas?" tanya Bella ketika Devan sudah duduk di samping ranjangnya.
Devan mengangguk tanda iya, "Sudah sayang."
"Sayang kamu menginginkan sesuatu? Biar sekalian Jo carikan, tadi Jo aku suruh keluar," ucap Devan.
Lah, kenapa Jo? Bella kira devan yang akan mencarikannya. Dasar tukang perintah.
"Tidak sayang, memangnya mas ingin apa?" tanya Bella.
"Aku ingin rujak sayang, sluuurp ah sepertinya benar-benar enak," kata Devan sambil menutup matanya.
__ADS_1
Bella mengerutkan keningnya melihat sikap Devan, tapi Bella malas bertanya.
"Mas, kapan Bella boleh pulang?" tanya Bella.
"Kita tanya dokter saja ya sayang," ucap devan yang langsung bangkit kemudian memencet tombol untuk memanggil dokter.
Tidak lama kemudian, dokter masuk untuk memeriksa keadaan Bella.
"Bagaimana perasaan anda, nona?" tanya dokter itu sambil tersenyum ramah.
"Sudah lebih baik dok, hanya terkadang saya merasa sesak. Itu saja," sahut Bella.
"Baik, saya periksa dulu ya nona."
Dokter mengeluarkan stetoskop dari balik saku almamaternya untuk memeriksa keadaan Bella.
"Kondisi nona Bella sudah mulai membaik, hanya tinggal pemulihan saja. Kondisi janinnya juga sehat," ucap dokter setelah selesai memeriksa.
"Apa saya sudah boleh pulang dok?" tanya Bella.
"Kita pantau sampai nanti sore ya nona, jika semua normal maka anda sudah boleh pulang," kata dokter itu.
"Baik dok, terima kasih," ucap Devan.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa panggil saya atau suster yang berjaga," ucap dokter itu kemudian keluar dari ruang rawat Bella.
Selepas kepergian dokter, Devan menggenggam jemari Bella. Di tatapnya manik mata Bella yang teduh.
"Sayang terima kasih, karena kamu sudah mau memaafkan kesalahan ku dan kembali pada ku. Terima kasih karena sudah mau mengandung anak ku. Aku tau kata maaf tidak akan bisa menghapus luka yang aku torehkan di hati mu, tapi dengan hebatnya kamu masih sudi memaafkan semua kesalahan ku," ucap Devan dengan mata yang mengembun.
Bella tersenyum bahagia, tidak di sangka ternyata Devan mau menerima janin yang di kandungnya. Terlebih lagi ternyata Devan juga membalas perasaannya. Tuhan begitu adil, Bella yang dulunya selalu bersedih kini dia sudah bahagia. Kini dia tinggal menikmati buah dari kesabarannya selama ini.
Tangan Bella terulur memeluk tubuh tegap Devan, pria itu pun menyambutnya dengan senang hati. Suasana mendadak haru, tidak ada yang lebih membahagiakan dari cinta sejati yang menyatu.
Dan entah siapa yang memulai, kini bibir mereka saling menyatu. Mereka hanyut dalam ciuman yang mesra.
"Tuan ini pesa-" Ucapan Jo terpotong saat dirinya hadir di waktu yang tidak tepat.
"Silahkan di lanjutkan, saya tidak melihat apa apa kok," kata Jo sambil keluar menutup pintunya kembali.
__ADS_1
Devan dan Bella langsung menghentikan kegiatan mereka, Bella langsung menutup wajahnya dengan selimut. Wajahnya memerah menahan malu. Sedangkan Devan, pria itu langsung kesal seketika.
"Ck, Jo! Dasar pengganggu!" geram devan kesal.