Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
menyukainya


__ADS_3

"Pak Sam, kemari lah." Panggil papa.


Papa berniat menanyakan sesuatu pada pak Sam, apakah pak Sam sependapat dengan dirinya.


"Ya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Sam.


"Apakah pak Sam sudah lama mengenal gadis itu?" tanya papa penasaran.


"Belum tuan, saya mengenal nona saat dia di bawa ke sini." Jawab pak Sam.


"Sepertinya dia gadis yang baik, bagaimana menurut mu?" Tanya papa Devan meminta pendapat.


"Jika saya di izinkan memberi pendapat, menurut saya nona adalah wanita yang baik. Di lihat dari tutur kata dan attitude nya, dia mau melayani kebutuhan tuan muda walaupun tidak ada perintah apapun. Dia berbeda dengan kebanyakan wanita yang selama ini mendekati tuan muda, jadi saya rasa nyonya adalah orang yang tepat untuk tuan muda." Ujar pak Sam.


"Aku sependapat dengan mu pak Sam, walaupun aku belum lama mengenalnya, aku sangat yakin kalau dia adalah orang yang tepat untuk putra ku." Sahut papa Devan.


"Benar tuan."


"Jaga dia untuk Devan, buatlah dia nyaman berada di rumah ini." Ujar Papa.


"Baik tuan, akan saya lakukan. Kalau begitu saya permisi dulu tuan." Pamit pak Sam setelah selesai membereskan meja makan.


Selepas kepergian pak Sam, tak lama kemudian Bella turun dengan gaun selutut yang sederhana. Meski sederhana, namun tampak elegan di tubuh rampingnya. Meskipun kini dirinya sudah menjadi istri dari orang yang kaya raya, Bella tetap bergaya sederhana. Karena baginya, kenyamanan adalah hal yang paling penting.


Mobil yang mereka tumpangi tampak sudah meninggalkan halaman rumah, papa berencana akan pergi ke tempat bermain tenis. Dia sudah membuat janji dengan beberapa kolega bisnisnya akan bermain tenis, papa Devan sengaja mengajak Bella dengan tujuan akan mengenalkan pada semua koleganya jika dirinya mempunyai menantu yang sangat cantik, agar tidak ada isu buruk yang menimpa putranya.


*****


Sementara di lain tempat, Devan tengah fokus memeriksa berkas-berkas. Terdengar suara gaduh dari depan ruangannya, dan Devan tidak mempedulikan hal itu, dia tetap fokus pada kegiatan nya.


"Maaf tuan, nona nesva memaksa masuk." Lapor Jo.


"Devan lihat sekertaris mu ini, dia melarang ku masuk." Adu nesva dengan suara manja.

__ADS_1


"Ada perlu apa kau datang kemari?" Tanya Devan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Devan kau tidak mau mempersilahkan aku masuk?" Tanya nesva.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang seperti mu, jadi cepat katakan apa yang membawa mu kemari?" Devan mulai terpancing emosi.


"Baiklah baiklah, jangan marah. Aku ke sini ingin menanyakan apa keputusan mu tentang perjodohan yang di tawarkan oleh papa ku"


"Aku sudah menikah, jadi tawaran itu tidak berlaku apapun untuk ku." Sahut Devan.


"Apa?! Tidak mungkin, kau pasti berbohong kan Dev?" Tanya nesva tidak percaya.


"Apa aku terlihat berbohong?"


"Kau tega Dev, aku akan adukan hal ini ke papa ku. Kau lihat saja apa yang akan di lakukan oleh papa ku." Ancam nesva.


"Memangnya apa yang bisa di lakukan oleh papa mu? Lagi pula, sejak awal aku tidak pernah menyetujui tawaran perjodohan itu. Jadi tidak ada hal yang mengikat antara aku dan kau." Jelas Devan.


"Kau-" Tunjuk nesva tidak bisa berkata kata.


"Ternyata ada untungnya juga aku menikah, meskipun aku tidak mencintai gadis itu, tapi dia bisa aku manfaatkan untuk mengusir mahluk-mahluk menyebalkan seperti nesva." Gumam Devan kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.


*****


Kini papa Devan dan Bella sudah sampai di tempat bermain tenis, tampak di sana sudah ada beberapa pria paruh baya yang seumuran dengan papa Devan.


"Wah selamat pagi tuan Andra, anda membawa siapa ini? Seorang gadis cantik?" Tanya salah satu kolega bisnis papa Devan.


"Dia sudah bukan gadis lagi, dia adalah menantu ku istri dari Devan." Jelas papa Devan mengenalkan menantu cantiknya.


"Kapan Devan menikah? Kenapa kami tidak di undang?" Tanya mereka.


"Belum lama ini, acara pernikahannya hanya di sederhana dan Devan hanya mengundang beberapa orang saja." Kata papa Devan.

__ADS_1


Papa Devan terlihat sangat gembira, mereka asik mengobrol dan sesekali tertawa kecil, kemudian di lanjut bermain tenis.


Tak terasa hari sudah sore, papa mengajak Bella untuk segera pulang. papa takut jika pulang terlalu sore dan Devan sudah pulang lebih dulu, maka Devan akan marah pada Bella.


Sesampainya mereka di mansion, nampak suasana mansion yang sepi, menandakan jika Devan belum pulang dari kantor. Bella bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah selesai Bella kemudian turun menuju dapur untuk membuat makan malam. Bella meminta tolong pada pak Sam untuk menata makanan yang sudah siap, di atas meja makan. Setelah beres semuanya, Bella menyusul papa ke ruang keluarga untuk menunggu Devan.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Devan pulang. Bella segera menghampiri Devan, berniat mengambil alih tas kerjanya, tetapi langsung di tepis kasar oleh Devan.


"Tidak perlu sok perhatian pada ku, dan jangan coba-coba untuk merayu ku!" Ujar Devan dingin.


"Maaf tuan, saya hanya berusaha menjalankan tugas saya. Bukan tugas sebagai istri, tapi anggap saja tugas sebagai pelayan di rumah ini. Setidaknya ini untuk wujud rasa terima kasih saya, karena anda sudah mau menampung saya di sini." Sahut Bella.


Bella melakukan semua ini karena papa Devan, saat di perjalanan tadi papa menyuruhnya untuk berusaha mengejar Devan dan merebut hatinya. Bella tak kuasa menolak, karena papa mertuanya sangat baik.


"Baguslah jika kau sadar diri, tidak akan ada cinta dalam pernikahan ini. jadi kau tidak perlu besar kepala mengharap cinta dari ku!!"


"Saya tidak pernah sedikitpun mengharapkannya, bahkan dalam mimpi sekalipun."


Setelah mengucapkan itu, Bella berlalu meninggalkan Devan yang kebingungan karena biasanya Bella tidak pernah menjawab jika Devan menghinanya.


"Ada apa dengan wanita itu?" Gumam Devan.


tanpa Devan sadari, ternyata papa menguping pembicaraan mereka.


"Kenapa kau berkata seperti itu pada menantu kesayangan papa?" tanya papa.


Devan menaikkan sebelah alisnya, "Ada apa dengan papa? Apa papa menyukainya?" tanya Devan dengan nada sedikit mengancam.


"Tentu saja papa menyukainya, memangnya kenapa?" sahut papa yang membuat Devan mengerutkan keningnya.


"Maksud papa?"


"Papa menyukainya sebagai menantu, apa ada yang salah?" ulang papa sekali lagi.

__ADS_1


"Huh!" Devan menghembuskan napas kasar, kemudian berlalu pergi meninggalkan papa menuju kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, Devan melihat jika istrinya itu tengah duduk di meja rias. Entah apa yang di lakukannya, Devan tidak ingin peduli.


__ADS_2