
Devan sampai di indonesia pada pukul 23.30 malam, dia langsung menuju mansion untuk mengistirahatkan diri. Sesampainya di mansion, Devan langsung menuju kamarnya. Devan membersihkan diri terlebih dahulu barulah setelah itu akan tidur. Saat dirinya baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang, terdengar notif pesan dari ponselnya.
Ting....
Mata Devan langsung terbelalak melihat pesan yang di kirim oleh anak buahnya, lalu sedetik kemudian mata itu langsung berbinar bahagia. Demi memastikan kebenarannya, Devan menelpon anak buahnya itu.
"Halo, kau sudah pastikan kabar itu benar, kan?" tanya Devan.
"Sudah tuan, semua kabar yang saya sampaikan pada tuan semuanya benar," jawab anak buah itu dari seberang telpon.
"Kerja bagus, kau akan dapat bonus setelah ini. Pantau terus dan laporkan informasinya pada ku," ucap Devan.
"Baik tuan."
Sambungan telepon terputus, Devan langsung melempar ponselnya asal. Dia begitu senang mendengar kabar bahwa Bella tengah mengandung. Istri tercintanya itu tengah mengandung buah hati mereka, dan itu membuat Devan semakin giat untuk mendapat maaf dari Bella. Dan setelah itu mereka akan terus bersama-sama.
"Aku akan segera menjadi seorang Daddy," gumam Devan sambil tersenyum-senyum sendiri, tangannya terkepal kesana kemari seolah sedang meninju angin.
Devan terus tersenyum-senyum, seperti orang gila. Pria itu merasa sangat bahagia karena tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan dirinya dan Bella. Dan malam itu pun Devan tidak bisa tidur, dia bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menuju mimpinya, namun pikirannya selalu teringat akan Bella membuatnya gelisah tak menentu.
...πππ...
Pagi-pagi sekali Bella dan Hendry sudah menuju ke bandara, karena jadwal penerbangan mereka pagi hari. Setelah beberapa menit perjalanan mereka pun sampai di bandara, penerbangan sekitar 30 menit lagi jadi mereka memutuskan untuk duduk di kantin bandara.
"Masih ada waktu setengah jam lagi, kita sarapan dulu yuk," ajak hendry.
Bella mengangguk mengiyakan,
"Kamu mau sarapan apa, Dik?" tanya Hendry.
"Aku ingin teh hangat saja kak," sahut Bella.
"Baiklah, sebentar kakak pesan dulu."
Hendry memesan sarapan untuk dirinya dan teh hangat untuk Bella, karena Hendry tau Bella pasti tidak selera makan karena bawaan bayi.
Beberapa saat kemudian Hendry datang dengan membawa makanannya dan juga teh pesanan Bella.
__ADS_1
"Ini untuk mu, dan ini untuk ku. selamat menikmati nona," kata Hendry berlagak seperti seorang pelayan.
Bella tersenyum melihat tingkah Hendry, pria itu selalu saja bisa menghibur dirinya.
"Baiklah selamat sarapan," kata Hendry lalu memakan sarapannya.
Melihat Hendry yang makan dengan lahap, membuat perut Bella merasa mual. Padahal seharusnya, dia ikut lapar kan? Tapi dia malah mual.
"Kamu mual lagi, Dik?" tanya Hendry ketika melihat Bella membekap mulutnya.
Bella mengangguk sambil menunjuk ke arah toilet, lalu setelah itu dia bangkit menuju ke toilet.
"Hati-hati, jangan lari," peringat Hendry.
Di dalam toilet, Bella sudah terduduk lemas di closet setelah mengeluarkan isi perutnya. Dia hanya memuntahkan cairan bening, karena dirinya memang belum memakan apa pun.
"Nak, sehat-sehat ya di perut ibu. Jangan rewel, dan jadilah anak yang baik. Oke?" ucap Bella sambil mengusap pelan perutnya.
Setelah mengucapkan itu, perut Bella pun terasa lebih baik. Bella kembali mengusap lembut perutnya, "Anak pintar."
Setelah merasa lebih baik, Bella kembali ke tempat Hendry tadi.
"Bella tidak apa-apa kak, apa kita sudah akan berangkat?"
"Iya, ayo."
Mereka berdua pun langsung memasuki pesawat, karena sebentar lagi akan take off.
...πππ...
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mereka akhirnya mendarat di Indonesia dengan selamat.
"Ah, akhirnya sampai juga. Udara Indonesia yang sangat khas dengan polusi, aku merindukan mu," ucap Hendry sambil merentangkan kedua tangannya.
"Kak, pinggang Bella nyeri. Kita cari tempat istirahat sebentar ya kak," kata Bella sambil memegangi pinggangnya yang terasa kencang.
Mereka akhirnya mencari tempat untuk Bella berbaring. Dan Bella akhirnya berbaring di kursi tunggu, kebetulan suasana bandara cukup lengang karena ini sudah sore. Bella memejamkan matanya sebentar, sedangkan Hendry menunggu koper mereka.
__ADS_1
Di lain tempat, Devan begitu terburu-buru keluar dari kantornya. Rencananya dia akan menjemput Bella di bandara, karena dia sudah tidak bisa menahan rasa rindu dalam dirinya yang kian menggebu-gebu.
"Jo, cepat siapkan mobil!" teriak devan heboh.
Jo yang mendengar teriakan sang tuan langsung berlari menyiapkan mobil dan menunggunya di lobby.
Di dalam perjalanan devan begitu gelisah, hatinya merasa tidak tenang sebelum melihat istrinya itu.
"Jo cepatlah! kenapa kau begitu lambat sekali seperti siput!" maki devan kepada Jo.
Suasana jalanan sore hari terpantau ramai, karena bertepatan jam pulang kantor membuat jalanan macet. Hal itu membuat Devan uring-uringan tidak jelas, karena sudah tidak sabar untuk menemui sang istri.
Sementara Jo, dia harus menebalkan telinganya mendengar omelan omelan devan yang selalu menuju ke dirinya. padahal dirinya sudah mengemudi sesuai aturan jalanan, jadi kenapa masih di salahkan.
'Jalanan seramai ini mana Bisa aku mengemudi dengan cepat, dasar aneh! cinta membuat orang menjadi begitu bodoh, termasuk tuan,' batin Devan
"Jo berhenti memaki ku di dalam hati, aku tahu itu! Kau mau aku potong gaji mu? Hah!" ancam Devan yang seolah bisa membaca pikiran Jo.
"Saya tidak mengatakan apapun tuan," sahut Jo berpura-pura bodoh.
"Kenapa orang-orang bisa sangat lamban?" kesal Devan karena mobilnya tidak bergerak sedikit pun.
"Kalau begini, bisa-bisa istri ku sudah pergi lebih dulu dari bandara. dasar tidak bisa di andalkan!" gerutu Devan.
'Sekarang baru di akui sebagai istri, dulu kemana saja tuan? Heh." Lama-lama Jo pun ikut kesal karena Devan terus-terusan mengoceh.
Setelah menunggu kemacetan yang membosankan, akhirnya mobil Devan bisa bergerak maju. Dan Devan kembali memarahi Jo untuk mengemudi dengan cepat.
Sesampainya di bandara, Devan langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat di rindukannya itu. Manik matanya melihat, jika Bella sedang berbaring di kursi tunggu. Devan langsung menghampiri Bella.
Devan berjongkok telat di hadapan Bella yang sedang memejamkan matanya. Devan mengangumi kecantikan Bella yang alami, meski bibirnya terlihat pucat namun tak mengurangi kadar kecantikannya.
'Dia pasti kelelahan,' batin Devan.
Sedangkan Bella, dia mencium aroma tubuh Devan. Membuatnya merasa nyaman, dan dia tidak berniat untuk membuka matanya.
"Kamu merindukan ayah mu ya nak? Sampai-sampai ibu bisa mencium aroma tubuh ayah mu," gumam Bella pelan. namun masih bisa di dengar oleh Devan.
__ADS_1
Devan tersenyum tipis mendengarnya, 'Dia benar-benar anak ku.'