Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
malam pertama kedua


__ADS_3

Mobil yang Bella dan Devan tumpangi tampak memasuki pelataran mansion, mereka berdua langsung masuk ke dalam. Sudah tampak sepi karena hari memang sudah larut, papa Andra juga mungkin sudah tidur.


Mereka langsung masuk ke kamar mereka, Bella kemudian menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan melakukan ritualnya sebelum tidur. Sedangkan Devan, pria itu menuju ke walk in closet untuk berganti pakaian tidur. Devan langsung berbaring di ranjang, pria itu tak lantas memejamkan matanya. Dia akan menunggu istri tercintanya terlebih dahulu.


Tak lama kemudian Bella keluar dan sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Devan langsung merentangkan tangannya menyambut kedatangan Bella. Di peluknya tubuh Bella yang membuatnya candu, Devan menciumi aroma tubuh Bella yang memabukkan tiba-tiba hasrat lelakinya bangkit. pria itu merasakan sesak di celananya, karena sudah tak tahan Devan pun membisikkan sesuatu di telinga Bella.


"Sayang aku menginginkan mu malam ini," bisik Devan tepat di telinga Bella yang membuat Bella merinding.


Wanita itu mengerutkan keningnya, "Ingin apa mas?"


"Pemuja mu, sudah bangun sayang," ucap Devan sambil menuntun tangan Bella untuk meraba miliknya.


Mata Bella langsung membulat sempurna, "Apa ini? Kenapa bisa bangun?"


"Ini karena diri mu, sayang," ucap Devan menatap mata Bella dengan sayu.


Pria itu langsung menduselkan wajahnya di tengkuk sang istri, dia mengendus aroma yang telah membuatnya candu, kemudian menguyel-uyel manja.


"Aku kan tidak berbuat apa-apa, kenapa bisa bangun dan berdiri sebesar ini?" tanya Bella polos.


Devan merasa gemas pada sang istri, kenapa istrinya itu bisa terlihat begitu imut. Karena tak tahan Devan langsung melahap bibir Bella yang ranum dan menggoda itu.


Dan dalam sekejap, tubuh Bella sudah di kuasai oleh Devan. Pria itu langsung melancarkan aksinya, dia memberikan serangan-serangan yang membuat Bella menggelinjang tak karuan seperti cacing kepanasan. Bella hanya bisa pasrah dan menikmati apa yang di lakukan suaminya pada dirinya itu. Wanita itu sungguh menikmati kelembutan dan kenikmatan yang di berikan oleh sang suami, rasanya begitu berbeda dari yang dulu.


Mereka melakukannya hingga berulang kali, entah sudah melakukan penyatuan yang ke berapa kalinya tetapi semangat Devan masih sangat membara. Pria itu tampak tidak ada lelahnya, pria itu dengan semangat menggempur sang istri membuat kamar mewah mereka di penuhi oleh suara-suara seksi yang keluar dari bibir mereka berdua, des*ahan yang saling bersahutan membuat Devan semakin menggila.


Hingga pukul 3 pagi, Bella tampak sudah kelelahan dan Devan juga harus memikirkan bahwa sang istri itu tengah hamil. Pria itu melabuhkan ciuman di kening sang istri setelah mengakhiri penyatuan luar biasa di antara mereka barusan.


"Terima kasih sayang," bisik Devan tepat di telinga Bella.

__ADS_1


Bella tersenyum sembari mengangguk, kemudian mereka tidur sambil berpelukan.


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


Ke esokan harinya, Bella terbangun tanpa adanya Devan di sampingnya. Karena tadi malam mereka tidur dalam posisi berpelukan, ke mana suaminya itu pergi pagi-pagi seperti ini? Keadaan kamar yang tadi malam berantakan pun, sudah terlihat rapi.


Tidak mau ambil pusing, Bella memutuskan untuk membersihkan dirinya. Setelah sampai di kamar mandi, dirinya melihat bath up yang sudah terisi dan sudah lengkap dengan wewangian vanila, yaitu aroma kesukaan Bella. Apakah Devan yang melakukan ini semua? Entahlah. Bella kemudian berendam untuk merilekskan tubuhnya, badannya terasa remuk karena terus-terusan di gempur oleh suaminya itu. Setelah merasa lebih baik, Bella memutuskan untuk menyudahinya.


Setelah mengganti pakaiannya, Bella keluar. Tepat di saat itu juga, Devan masuk ke kamar sembari membawa nampan di tangannya. Bella terbengong melihat hal itu, karena ini adalah momen langka baginya. Wanita itu menepuk-nepuk pipinya pelan, apakah dirinya tidak salah lihat?


"Selamat pagi sayang," sapa Devan sambil berjalan mendekati meja kemudian meletakkan makanannya di sana.


Bella masih belum sadar dari lamunannya. Devan yang melihat istrinya menepuk pipinya sendiri pun langsung menghampirinya.


"Sayang kenapa? Berhenti melakukan itu, pipi mu bisa sakit nanti," peringat Devan sambil meraih jemari Bella, satu tangannya lagi mengelus lembut pipi Bella.


"E-eh? Tidak kok, tidak apa-apa," sahut Bella.


Bella mengangguk, "Sedikit."


"Emh, aroma tubuh mu benar-benar membuat ku candu. Terima kasih untuk yang semalam baby," kata Devan sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bella.


"Apa mas yang sudah melakukan ini semua?" tanya Bella.


Devan mengangguk, kemudian mengangkat wajahnya, menatap manik mata Bella yang teduh.


"Kenapa mas melakukannya?" tanya Bella lagi.


"Sayang, selama ini kamu yang selalu menyiapkan kebutuhan ku. Kamu melakukannya dengan suka rela, padahal dulu aku selalu menyakiti mu. Maka pagi ini, aku menyiapkannya untuk mu. Walaupun ini mungkin tidak seberapa," ujar Devan.

__ADS_1


"Terima kasih sayang ku," ucap Bella menangkup pipi Devan sambil tersenyum manis.


"Apa? Coba ulangi sekali lagi!" pinta Devan dengan sedikit pemaksaan.


"A-apa?" Bella malu sekali rasanya.


"Ah, sayang tidak seru! Ayo ayo, ulangi sekali lagi," desak Devan dengan memasang wajah imut.


"Maas," rajuk Bella.


"Ayo sayang, katakan sekali lagi," paksa Devan.


"Sayang," ucap Bella lirih namun masih bisa di dengar oleh si bucin itu.


"Aaargh!" Devan senang bukan kepalang, tangannya terkepal meninju angin saking senangnya.


"Baby dengar, panggil aku seperti itu terus. Aku tidak mau di panggil mas lagi! Aku seolah jadi tukang bakso kalau di panggil seperti itu," ucap Devan memerintah.


"Honey, kamu dengar aku kan?" tanya Devan memastikan, pasalnya Bella hanya diam saja tidak memberi respon.


Bella pun hanya mengangguk mengiyakan. Iyakan saja lah, dari ada panjang urusannya. Padahal jika di pikir pun, tidak ada kaitannya dengan tukang bakso, kan? dasar aneh!


Devan langsung memeluk Bella erat erat, hingga membuat Bella kesulitan untuk bernapas.


"M-mas sudah, aku tidak bisa bernapas."


Devan langsung melepas pelukan mereka, pria itu menggenggam ke dua jemari Bella. Lalu mengajaknya berputar-putar gembira, seperti anak kecil. Tingkah Devan saat ini benar-benar mirip dengan anak TK, ternyata inilah sisi gelap seorang Devan Alandra yang katanya dingin itu.


lama-kelamaan Bella pun merasa pusing, "Mas sudah, aku pusing," kata Bella sambil memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Ah, maafkan mas sayang. Mas terlalu bahagia, sampai tidak bisa mengendalikan diri. Hehe," ucap Devan kemudian menuntun Bella untuk duduk di sofa. yang di mana di meja sudah ada makanan yang Devan bawa tadi.


__ADS_2