Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
memutuskan


__ADS_3

Devan sudah sampai di butik Hendry, pria itu melihat jika butik masih buka. Itu menandakan Bella masih ada di sana. Devan langsung memarkirkan mobilnya, pria itu keluar dari mobil dan memasuki butik.


Devan melihat sang istri yang sedang duduk di kursi tunggu, yang posisinya agak jauh dari Hendry.


"Hai, sayang," sapa Devan saat sudah sampai di dekat Bella.


Deg!


'Suara ini?' Bella yang mengenali suara seseorang yang di rindukannya.


Bella mendongakkan wajahnya, wanita itu menatap manik mata seseorang itu dengan penuh kerinduan.


"Sayang, ayo kita pulang. Kamu mau kan, ikut pulang ke mansion?" ajak Devan.


"Mas minta maaf sayang, mas sudah sering menyakiti mu. Tapi mas harap, masih ada maaf yang tersisa untuk mas," kata Devan menatap dalam manik mata yang teduh itu.


"Saya sudah memaafkan anda tuan," jawab Bella singkat.


"Mas, sayang! Aku ini suami mu, bukan tuan mu," ujar Devan penuh penekanan.


Bella hanya menatap Devan tanpa menjawab apapun, wanita itu sekarang sudah berani menatap Devan lebih lama dari biasanya. Karena dia ingin melihat ketulusan Devan, dan itu terbukti. Manik matanya memancarkan kasih sayang dan kehangatan, tidak seperti biasanya yang selalu terlihat dingin dan acuh.


"Bella, aku mencintai mu. Jadilah istri ku satu-satunya untuk selamanya, kamu mau kan memaafkan kesalahan ku?" kata Devan tulus.


Bimbang! Itulah yang di rasakan Bella. Haruskah dia kembali pada Devan? Melihat kegigihan pria itu untuk mendapatkan maaf darinya, membuat hati Bella luluh. Dirinya bisa melihat ketulusan hati Devan yang ingin berubah, lagi pula ada buah hatinya yang membutuhkan sosok ayah.


Bella mengangguk dengan ragu, dia memutuskan untuk berdamai dengan hatinya. Lagi pula, dia tidak boleh egois dia juga harus memikirkan anak yang ada di dalam kandungannya.


Sedangkan Devan, pria itu senangnya bukan kepalang. Pria itu langsung melompat-lompat dan tangannya terkepal meninju angin, setelah puas mengekspresikan kesenangannya Devan langsung memeluk Bella erat-erat.


"M-mas, a-aku tidak bisa bernapas," ucap Bella terputus-putus karena kesulitan bernapas.


"E-eh hehe, maaf sayang. Mas terlalu senang," kata Devan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Bella hanya mengangguk, "Tapi Bella harus bicara pada kak Hendry dulu."


Devan yang paham pun mengangguk, dirinya juga harus mengucapkan terima kasih pada Hendry. Karena sudah mau menampung dan menjaga Bella selama ini, jika tidak ada Hendry mungkin dirinya tidak akan bisa bertemu Bella lagi.


"K-kak," panggil Bella takut-takut.


Sementara Devan, dia berdiri di samping istrinya. Dia akan menunggu Bella akan mengatakan apa pada Hendry, barulah setelah itu giliran dirinya yang bicara.


"Jadi? Apa ada yang Ingi kalian jelaskan?" tanya Hendry penuh selidik saat melihat keduanya berdiri berdampingan, dan terlihat tangan Devan menggenggam erat tangan Bella.


"I-itu kak, a-aku," Bella bingung harus bagaimana mengatakannya.


"Hendry, aku akan membawa istri ku pulang ke mansion," ujar Devan membuka suara saat melihat istrinya kebingungan.


"Jadi? Bella sayang, kamu mau kembali pada cecunguk ini?" Hendry mengangkat sebelah alisnya sambil berkacak pinggang.


"Ck! Apa kau bilang? Beraninya kau mengatai ku!" Devan marah mendengar ejekan Hendry padanya.


"Ck!" decak Devan.


"Kak, apa boleh jika aku kembali ke mansion bersamanya?" tanya Bella hati-hati.


"Jadi, kamu mau ya? Ya aku sih tidak masalah, ini adalah pilihan mu. Walau bagaimana pun, Devan juga masih suami mu. Jika memang kamu ingin kembali bersamanya, aku bisa apa selain mendukung, kan?" kata Hendry menghormati keputusan Bella.


Biar bagaimana pun, Bella juga butuh kebahagiaan. Dan jika kebahagiaannya ada di Devan, maka dia bisa apa. Hendry hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keduanya, semoga kedepannya keluarga baru ini akan di limpahi kebahagiaan.


"Tapi ingat Devan! Berjanjilah untuk tidak menyakiti adik ku lagi, jika sampai itu terjadi maka aku sendiri yang akan turun tangan untuk memisahkan kalian berdua. Tidak peduli seberapa keras Bella ingin bertahan di sisi mu, aku akan tetap membawanya pergi. Kau dengar kan, Devan?" peringat Hendry.


"Tentu saja aku tidak akan menyakitinya lagi, Devan yang bodoh dulu sudah mati. Yang ada sekarang, adalah Devan yang begitu mencintai istrinya dan akan membahagiakan dia segenap jiwa raga ku," ujar Devan penuh ketulusan.


"Baiklah, aku pegang kata-kata mu."


"Dik, kakak menghormati keputusan mu. Kakak harap ini tidak akan jadi penyesalan, berbahagialah bersama keluarga kecil mu. Jika kamu membutuhkan ku, aku akan selalu ada untuk mu," sambung Hendry menatap manik mata Bella penuh kasih sayang.

__ADS_1


Hendry begitu menyayangi Bella, layaknya seorang adik. Karena ketika melihat Bella, dia seperti melihat sosok adiknya yang hilang dulu. Anggap saja, Bella adalah pengganti adiknya yang hilang.


"Terima kasih kak, kakak sudah begitu baik pada ku," ucap Bella seraya memeluk Hendry.


Hendry pun balas memeluk Bella, dirinya meneteskan air mata, akhirnya Bella bisa menemukan kebahagiannya kembali.


Devan yang melihat tingkah dua orang itu pun jadi cemburu, biar bagaimana pun Hendry tetaplah lelaki.


"Sudah-sudah! Jangan peluk lama lama, kita itu hanya akan kembali ke mansion. Bukan pindah negara," kesal Devan dengan wajah cemberut.


"Kenapa aku seperti melihat sosok lain di hadapan ku ini? Apa benar ini adalah Devan Alandra? Bukankah Devan Alandra adalah pria yang dingin, lalu kenapa sekarang jadi seperti wanita yang sedang datang bulan?" ledek Hendry.


"Kau!"


Devan rasanya ingin sekali meninju wajah Hendry yang tengil itu, tapi dia ingat bahwa dirinya harus mengajak Bella pulang dan mempertemukannya dengan sang papa.


"Sayang ayo kita pulang, di sini ada pengganggu," kata Devan mengajak Bella pergi dari butik.


"Bella masih boleh kan main ke butik kakak?" tanya Bella.


"Tentu saja boleh sayang, kapan pun kamu mau. Kamu boleh ke sini," sahut Hendry.


"Ya sudah, Bella duluan ya kak," kata Bella tersenyum pada Hendry.


Devan langsung menarik pelan tangan Bella untuk segera meninggalkan Hendry. Berlama-lama melihat interaksi antara istrinya dan Hendry, membuat hatinya seperti terbakar.


Bella dan Devan memasuki mobil, untuk pulang ke mansion. Sepanjang perjalanan, Devan tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Bella dan sesekali menciumnya. Dia mengemudi hanya menggunakan satu tangannya saja. Padahal di lepas pun tidak akan menjadi masalah bukan? Toh Bella tidak akan lari juga.


"Mas, fokuslah mengemudi," kata Bella yang merasa sifat Devan terlalu berlebihan.


"Mas sudah fokus sejak tadi, sayang,* sahut Devan santai.


Bella hanya diam, dia tak tahu harus mengatakan apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2