
Di sebuah kamar tempat Nesva memadu kasih dengan pria asing, suasana di dalamnya sangat kacau. Nesva yang sudah terbangun lebih dulu, berteriak histeris saat mengetahui ada pria asing yang tidur di sampingnya sambil memeluk dirinya.
"Aaaa ba*j*ngan! Siapa kau?!" teriak Nesva histeris.
Bugh bugh!
Nesva memukuli pria itu dengan brutal, dia sangat shock karena yang tidur di sampingnya bukanlah Devan.
Pria asing itu merasa terganggu dengan pukulan-pukulan yang Nesva layangkan pada tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pria itu menatap Nesva datar.
"Siapa kau? Pergi dari sini!" usir Nesva.
"Setelah tadi malam mendapat kepuasan, sekarang kau mengusir ku?"
"Apa?! Tidak mungkin! Pergi kau!" pekik Nesva semakin histeris.
Pria itu mengambil kamera yang dia gunakan untuk merekam kegiatan mereka tadi malam, lalu memutarnya.
"Aaaah... Devh vanh... Oooooh." Suara ******* Nesva yang menyebut nama Devan saat mendapatkan puncaknya.
"Kau dengar? Kau tentu tau itu suara siapa, bukan?" Pria itu tersenyum.
"Aku bisa bertanggung jawab jika kau mau," sambung pria itu.
"Pergi kau! Dasar b*j*ngan!" Nesva berteriak-teriak seperti kesetanan.
Sial sekali nasibnya, ingin menjebak Devan tapi malah dirinya yang terjebak dalam rencananya sendiri. Dan lebih parahnya lagi, dia tidak mengenal pria itu sama sekali.
Pria itu langsung bangkit dari ranjang kemudian memunguti pakaiannya, dan memakainya. Saat pria itu membuka pintu kamar, terdapat banyak wartawan yang berdiri di depan pintu. Mereka berbondong-bondong mengajukan pertanyaan.
Tuan Smith datang dengan tergesa-gesa dengan di kawal beberapa bodyguard. Pria paruh baya itu langsung masuk ke kamar saat para bodyguard berhasil membelah kerumunan wartawan itu, dan langsung mengunci pintunya.
Tampak sang putri yang di tutupi selimut tebal. Tuan Smith sudah menduga jika putrinya itu tidak memakai pakaian.
__ADS_1
"Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu tega mempermalukan papa seperti ini?" tanya tuan Smith marah.
"Karena perbuatan mu ini, saham perusahaan anjlok! Dan kita terancam bangkrut!" sambung tuan Smith.
"Papa, ini bukan salah ku. Aku di jebak oleh pria ini pa. Aku bahkan tidak mengenalnya," bantah Nesva yang merasa dirinyalah yang tersakiti.
"Bagaimana bisa kau menuduh ku menjebak mu? Lihat ini, kau yang mengundang ku untuk datang ke sini. Di sini juga tertera nomor kamar mu kan," jawab pria itu ketika tuduhan Nesva menuju ke dirinya.
"Kau-" Nesva tidak lagi bisa berkata-kata.
"Papa tidak mau tau, pokoknya kalian akan papa nikahkan!" tegas papa.
"Tapi pa-" ucapan Nesva terpotong oleh sang papa.
"Tidak ada tapi tapi, kau tanggung perbuatan mu atau kita akan bangkrut," sanggah tuan Smith.
Mendengar itu Nesva terdiam, dia tidak mau menikah dengan pria itu tapi dia juga tidak ingin hidup miskin. Mau tidak mau Nesva pun harus menikah dengan pria yang telah menghabiskan malam bersamanya.
Tuan Smith keluar dari kamar itu, di sana masih banyak wartawan yang siap menunggu berita darinya. Pria paruh baya itu mengatakan jika putrinya sudah menikah dengan pria itu, namun belum melakukan resepsi. Dan akan mengumumkan pernikahan itu dalam waktu dekat.
*****
Dia berpikir, tidak adakah di dunia ini orang yang peduli pada dirinya? Dosa besar apa yang sudah dia lakukan hingga dia mengalami nasib seperti ini? Bella tidak menangis, rasanya air matanya sudah mengering saat ini.
"Sedang apa?" tanya Hendry mengagetkan Bella.
"Eh, kak Hendry. Tidak apa-apa kak," jawab Bella.
"Cerita lah jika ada yang membuat hati mu tak nyaman, anggap saja aku kakak mu. Mungkin aku tidak bisa memberi solusi untuk masalah mu dan Devan, tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik untuk mu," ujar hendry.
"Aku hanya merindukan kedua orang tuaku kak," sahut Bella.
"Aku tau bagaimana perasaan mu, karena aku juga sama seperti mu. Aku pernah merasakan tidak memiliki tempat untuk bersandar, tidak ada tempat untuk berkeluh kesah,"
"Dunia memang tidak adil pada kita, kita akan kalah jika kita tidak berjuang. Tidak akan ada yang mengerti dirimu kecuali diri mu sendiri, maka dari itu mulailah hidup yang baru buktikan pada dunia bahwa kamu orang yang kuat," kata Hendry sambil menitikkan air matanya mengingat dirinya dulu juga seperti Bella.
__ADS_1
"Kak, maaf aku membuat Kakak mengingat masa sulit mu," sesal Bella.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin sedikit berbagi agar kamu juga bisa melewati semua ini," sahut Hendry.
"Terima kasih kak. Aku juga kuat seperti kakak," ujar Bella tersenyum.
"Ya sudah jangan bersedih lagi, kamu masih memiliki aku. Kamu tidak sendirian kok, tinggallah di sini sampai kapan pun kamu mau," kata Hendry tulus.
"Terima kasih kak, maaf jika aku akan sering merepotkan kakak nanti," ujar Bella.
Mereka berdua bercerita banyak hal. Hendry yang menceritakan masa kecilnya dan Bella pun sama. Bella jadi termotivasi oleh Hendry, dia juga harus bisa sukses seperti Hendry.
"Bella, dalam waktu dekat aku akan mengikuti ajang fashion week di new york. Jadi apa tidak apa-apa jika aku tinggal?" tanya Hendry.
"Wah kapan itu kak? Aku juga berencana akan ke New york dalam waktu dekat ini, aku akan mengikuti seminar bisnis dari pengusaha ternama dunia," kata Bella antusias.
"Kira-kira satu bulan lagi. Kalau waktunya bersamaan kita bisa pergi bersama saja," kata Hendry.
"Wah kebetulan sekali, seminarnya juga bulan depan. Kita pergi bersama ya kak, soalnya ini adalah pertama kalinya aku ke luar negeri," ujar Bella.
Hendry mengangguk mengiyakan, "Tentu saja."
******
Sementara di mansion, ingi rasanya Jo memaki Devan habis-habisan. Bagaimana bisa tuannya itu bertindak bodoh. Tapi salahnya juga yang tidak langsung menunjukkan rekaman yang dirinya ambil semalam.
"Tuan, kenapa anda begitu bodoh," hina Jo yang sudah tidak bisa menahan diri.
"Kau berani mengatai ku bodoh hanya karena wanita itu, Jo?" sentak Devan berang.
"Lalu sebutan apa yang pantas untuk orang yang dengan bodohnya membuang berlian yang sangat berharga?" tanya Jo berani.
"Ck! Kau sudah berani sekarang ya?" sinis Devan.
"Lihatlah ini tuan, video itu akan menjelaskan siapa yang bersalah atas kejadian kalian tadi malam. Saya yakin, setelah anda menontonnya, anda pasti akan menyesal," ujar Jo memberikan hasil rekamannya tadi malam pada Devan.
__ADS_1
Jo berlalu dari hadapan Devan setelahnya. Biarkan Devan merenungi kesalahannya dan semoga cepat sadar.
Sedang Devan, pria itu tak bergeming sama sekali. Namun hatinya merasa terusik akan ucapan Jo tadi? Apakah dia salah? Mana mungkin seorang Devan melakukan kesalahan! pikir Devan menampik itu semua.