Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
mencintai semua yang ada pada dirimu!


__ADS_3

"Aku ingin membahas sesuatu hal penting, dengan mu," ucap Devan dengan wajah serius.


"Ya tuan, apa ada masalah?" tanya Jo yang tak kalah serius.


"Aku belum pernah memberikan Bella hadiah atau bahkan barang mewah. Jadi bagaimana menurut mu, barang apa yang cocok untuk ku berikan kepadanya?" tanya Devan.


Apa!? Kenapa tuannya itu malah bertanya seperti itu? Dirinya bahkan sudah sangat serius menanggapi ucapan Devan, tapi ternyata Devan menanyakan hal yang tidak pernah di lakukannya. Jadi bagaimana dia bisa tahu jawabannya.


"Jadi ini yang ingin tuan bahas?" tanya Jo tidak habis pikir.


"Iya, jadi bagaimana menurut mu. Apa yang harus aku berikan padanya?" timpal Devan.


Jo menghela nafas pelan, Devan menyuruh dirinya untuk datang ke sini hanya untuk menanyakan hal seperti ini. Kenapa tidak bertanya lewat telepon saja tadi, dasar merepotkan saja.


'Orang yang sedang jatuh cinta itu ternyata merepotkan ya,' batin Jo.


"Untuk orang sekaya tuan, bagaimana kalau berikan mobil saja pada nona," ujar Jo.


"Mobil ya? Boleh juga," kata Devan sambil menimbang-nimbang.


"Benar, kan. Jadi kalau nona punya mobil sendiri, nona bisa pergi ke mana pun yang dia inginkan," timpal Jo.


"Apa?! Tidak-tidak! Aku tidak akan membiarkan istri ku pergi ke mana pun! Lagi pula ada pak Arip yang bisa mengantar jika dia ingin pergi. Dan kalau soal mobil, di garasi ada banyak dia hanya tinggal memilih mau memakai mobil yang mana," cerocos Devan tidak terima.


"Kenapa anda begitu posesif, tuan? Bukankah dulu, anda tidak peduli nona pergi ke mana pun," ujar Jo.


"Ck, jangan membahas kebodohan ku yang dulu! Sekarang aku sudah pintar, jadi aku seperti ini," ketus Devan.


'Hahah dia memang bodoh, dari dulu. Tapi sekarang setelah jatuh cinta anda bahkan terlihat lebih bodoh dari sebelumnya,' ledek Jo dalam hati.


"Jangan terlalu posesif tuan, takutnya nanti nona akan risih. Nona pasti akan merasa tidak nyaman," nasehat Jo.


"Ck, diamlah! Aku tidak butuh nasehat, aku hanya meminta saran. Sekarang cepat katakan, hadiah apa yang cocok untuknya?"


"Begini tuan, tidak semua perempuan gila harta atau bahkan menyukai barang branded. Ada wanita sederhana yang hanya di berikan kejutan kecil saja sudah bahagia, dan itulah Nona orangnya," ujar Jo.


"Begitu ya? Jadi aku harus memberikan kejutan apa?" tanya Devan meminta saran.

__ADS_1


"Mungkin makan malam romantis bersama nona. Lalu sebagai hadiahnya, anda berikan sebuah berlian. Berlian yang nampak sederhana, sesuai dengan karakter nona," sahut Jo.


"Benar juga, kenapa aku tidak kepikiran ya. Ya sudah Jo, kau persiapkan semuanya aku mau malam ini juga makan malam romantis bersama istri ku tercinta," kata Devan sambil tersenyum sumringah.


Devan telah membayangkan wajah manis istrinya yang tengah tersenyum ketika di beri kejutan nanti, Devan pun jadi tersenyum-senyum sendiri.


Jo yang melihat hal itu pun menjadi bergidik ngeri, 'Gila ini orang! Kenapa Tuan senyum-senyum sendiri, apakah memang seperti itu orang yang jatuh cinta?' batin Jo


"Ya sudah Jo pergilah, aku akan kembali menemui istri ku dulu," usir Devan seenaknya, tanpa memikirkan Jo yang sudah kesal.


Dirinya di minta untuk datang dan setelah mendapat solusi, dirinya langsung di usir kembali. Jo merasa dirinya itu seperti pepatah, habis manis sepah di buang.


"Malangnya nasib ku," gumam Jo meratapi nasibnya.


Jo tidak langsung kembali ke kantor, dirinya cukup lelah bolak-balik sejak tadi. Jo membuat kopi dan menikmatinya di meja dapur, dirinya ingin istirahat sebentar.


"Kau sudah pulang, Jo?" tanya papa Andra.


"Eh?" Jo menoleh karena terkejut.


"Ya tuan, saya baru saja dari ruang kerja tuan muda," jawab Jo apa adanya.


"Ya begitulah tuan," sahut Jo.


"Melihat Devan yang seperti itu, aku teringat saat masa kecilnya dulu. Saat kecil dirinya begitu periang dan ceria, tapi karena ibunya, tawa itu seakan menghilang entah kemana," kata papa Andra, pikirannya menerawang jauh ke masa kecil Devan dulu.


"Tapi untung ada Bella yang bisa merubah Devan, dia memang wanita yang tepat untuk putra ku. Penilaian ku tidak salah tentangnya, aku benar kan Jo?" kata papa Andra.


"Benar sekali tuan, saya pun setuju. Biasanya tuan adalah orang yang dingin dan pemarah, tapi karena nona Bella sekarang tuan lebih sedikit melembut. Meskipun masih tetap menyebalkan," sahut Jo sambil terkekeh kecil.


"Haha, yang sabar Jo. Kau akan tau nanti saat kau merasakan jatuh cinta," kata papa Andra.


Jo tidak menjawab, pria itu hanya mengangguk kecil. Dia memang tidak tahu apa-apa kalau soal urusan cinta, jadi iyakan saja lah.


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


Malam harinya, Bella tengah duduk di sofa kamar sambil membaca buku panduan ibu hamil. Bella tengah menunggu Devan yang sedang mandi untuk turun makan malam.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Devan keluar dan sudah mengenakan pakaian santai. Pria itu memakai baju yang sudah Bella siapkan, kaos warna putih berkerah, dan celana berwana krem.


"Sayang ku, segeralah bersiap. Kita akan makan malam di luar," ajak Devan.


"Makan malam di luar? Apakah acara penting?" tanya Bella.


"Tidak sayang ku, hanya akan ada kita berdua," ucap Devan.


"Papa tidak ikut?" tanya Bella lagi.


"Tidak akan aku biarkan," sahut Devan pelan.


"Apa, mas?"


"Tidak sayang, ya sudah segera bersiaplah. Aku akan menunggu mu," ucap Devan.


"Baiklah."


Bella segera masuk ke walk in closet untuk mengganti bajunya. Meskipun selalu berpenampilan sederhana, Bella mampu memadukan warna dengan pas.


Beberapa saat setelahnya, Bella keluar dari walk in closet. Wanita itu mengenakan dress selutut berwarna mocca yang nampak kontras dengan kulitnya yang putih, rambutnya ia biarkan tergerai bebas. Wajahnya yang memang sudah putih mulus, membuatnya hanya memakai bedak tipis dan sedikit liptint agar tidak pucat.


"Ayo, mas. Bella sudah siap," ucap Bella yang membuat Devan mengalihkan pandangannya.


Pria itu terdiam sejenak, dia begitu terpesona akan istrinya yang semakin hari semakin cantik saja.


"Mas," panggil Bella saat melihat Devan tidak berkedip menatap dirinya.


"E-eh? iya sayang."


"Apa ada yang salah dengan penampilan ku?" tanya Bella sembari memegangi pipinya dan memperhatikan penampilannya.


"Eh, tidak kok. Kamu cantik sekali," ucap Devan dengan terus menatap Bela penuh cinta.


"Benarkah?" tanya Bella Devan mengangguk mengiyakan.


"Aku seperti ini karena ingin mengimbangi mu, aku tidak ingin suami ku malu karena mengajak ku yang kampungan dan kumal," ucap Bela sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tidak perlu malu sayang! Aku mencintai mu apa adanya, aku begitu mencintai semua yang ada pada diri mu. Sifat mu, karakter mu yang sederhana dan juga semuanya," ucap Devan tulus sambil menatap manik mata Bella.


Bella pun menjadi merasa tersanjung, dirinya begitu bersyukur karena kesabarannya selama ini berbuah manis.


__ADS_2