Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
cinta dan dilema


__ADS_3

"Kamu merindukan ayah mu ya nak? Sampai-sampai ibu bisa mencium aroma tubuh ayah mu," gumam Bella pelan. namun masih bisa di dengar oleh Devan.


Devan tersenyum tipis mendengarnya, 'Dia benar-benar anak ku.'


Tangan pria itu terulur memberanikan diri untuk membelai pipi Bella, dia tak tahan jika harus mendiamkannya saja. Bella yang merasakan ada yang menyentuhnya pun mulai membuka matanya karena dia takut itu adalah orang jahat yang berniat buruk padanya.


"K-kamu," ucap Bella lirih.


"Ya sayang, ini mas," sahut Devan tersenyum menatap manik mata Bella.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Bella memalingkan wajahnya.


"Mas ingin mengajak mu pulang ke mansion, kita pulang ya sayang. Mas berjanji akan berubah," ujar Devan dengan suara lembut, yang jauh berbeda dengan Devan biasanya.


Bella terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Devan sudah berkali-kali meminta maaf padanya, dan Bella juga tidak bisa menutupi hatinya yang merindukan suami yang telah menyakitinya itu.


"Aku butuh waktu," ucap Bella setelah menimbang, dia tidak ingin salah dalam mengambil keputusan, wanita itu akan melihat apakah Devan benar-benar serius akan berubah.


"Baiklah sayang aku mengerti, kesalahan ku pada mu begitu besar. Jadi tidak mudah untuk mu memaafkan aku," kata Devan lirih.


Sedangkan Hendry yang sudah selesai mengambil koper, mengintip kegiatan dua sejoli itu. Hendry tau bahwa Devan benar-benar serius ingin kembali bersama Bella, karena selama ini Devan selalu memantau Bella secara diam-diam dan Hendry tau itu.


'Dasar pasutri konyol, malu-malu tapi mau. Tapi keputusan Bella sudah benar, biarkan Devan berjuang untuk menebus kesalahannya dulu. Salah siapa dulu angkuh dan arogan, tapi sekarang loyo haha,' batin Hendry menertawakan Devan.


"Dik, ayo kita pulang. Eh ada siapa ini?" tanya Hendry pura-pura terkejut saat baru datang.


"Ada pria arogan toh? Heh, mau apa kau ke sini?!" sinis Hendry.


"Tidak ada, hanya kebetulan lewat dan bertemu dengan istri ku," jawab Devan asal.


"Lewat? Jadi kau mau ke mana sampai-sampai lewat bandara segala? Apakah bandara ini sudah berubah menjadi jalanan?" tanya Hendry sok polos.


Devan yang merasa terpojok bingung mau menjawab apa "A-aku, em tidak ada. Ya sudah, mas pergi dulu ya sayang."


Devan langsung memilih pergi, sebelum Hendry mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan semakin memojokkan dirinya.


"Hei, kenapa pergi? Aku bahkan belum selesai bertanya," gerutu Hendry.


Bella mengusap pelan lengan Hendry, "Sudah kak biarkan dia pergi."

__ADS_1


"Tapi kan dia belum menjawab pertanyaan ku," kesal Hendry.


Hendry sengaja bertanya seperti itu pada Devan, sesekali dia ingin mengerjai Devan dan ternyata seru juga saat melihat wajah gugup pria itu.


"Sudah kak, lebih baik kita pulang saja," ajak Bella.


"Ah iya, kamu benar. Ayo kita pulang, aku sudah lelah ingin istirahat," kata Hendry.


Mereka berdua keluar dari area bandara, dan menunggu pesanan taksi mereka datang. Di perjalanan pulang, Bella melihat ada penjual rujak membuat wanita itu seketika meneteskan air liurnya.


"Kak, aku ingin rujak itu," kata Bella sambil menunjuk pedagang rujak yang mendorong gerobak.


"Kamu mau itu? Ya sudah kita beli, pak berhenti sebentar ya," ujar hendry.


Bella pun langsung turun dari taksi, dirinya menengok ke kiri dan ke kanan untuk menyebrang. Saat dirinya sampai di tengah-tengah jalan, tiba-tiba mobil melaju begitu kencang menuju ke arah dirinya.


"BELLA AWAS!!" teriak Hendry.


Dan...


"Aaaaaaa!" Bella berjongkok sambil menutup matanya.


Ckiiiiitt..


"Heh keluar kau, kau tidak bisa mengendarai mobil ya? Kalau tidak bisa itu jangan sok-sok an!"


Hendry menggedor-gedor pintu mobil orang itu, dan keluarlah seorang pria yang keluar dari sana.


"Nah keluar juga kau, lihat kau hampir saja mencelakai adik ku!" semprot Hendry pada pria itu.


"Maaf tuan, saya tidak sengaja. Saya sedang buru-buru," ujar si pria itu.


"Buru-buru mata mu! Kalau sampai adik saya kenapa-kenapa bagaimana?! Kau mau aku laporkan ke polisi? Hah!"


"Maaf tuan, saya akan bertanggung jawab. Jangan laporkan saya tuan," mohon pria itu.


"Kak, sudah. Bella tidak apa-apa kok," ujar Bella setelah bisa mengendalikan diri.


Bella bangkit dan mendekat ke arah Hendry.

__ADS_1


"Bella, calon istri ku! Wah kita bertemu lagi ya. Sudah ku bilang bukan, kalau jodoh itu tidak akan ke mana," kata pria itu yang tak lain adalah Reno, orang yang berpapasan dengan Bella di butik beberapa hari lalu.


Pria itu langsung mendekati Bella dan berniat menyentuh tangannya, namun sebelum itu terjadi Hendry langsung menepis tangan Reno.


"Ck, jangan sentuh sentuh! Siapa kau? Kenapa kau bisa mengenal adik ku?" Hendry menatap sinis Reno.


"Kan aku tadi sudah bilang, aku adalah calon suaminya Bella. Aku tampan dan kaya," sombong pria itu.


"Dik, kau mengenal pria gila ini?" tanya Hendry pada Bella.


"Dia bukan siapa-siapa ku kak, dia mengenalnya dulu saat jaman sekolah," jelas Bella.


Hendry langsung menjewer telinga Reno, "Berani sekali kau mengaku-ngaku sebagai calon suaminya. Kau mau aku potong burung mu?" Mata Hendry melotot melihat ke bawah.


"E-eh tidak! Jangan. Aku hanya bercanda tadi." Reno mulai ketakutan, tangannya bergerak menutupi bagian tubuh bawahnya.


Hendry ketika sudah menjelma menjadi laki-laki, akan terlihat tegas dan galak.


"Sudah kak, ayo kita pulang saja. Aku lelah, ingin istirahat," ajak Bella.


"Awas kau, kalau sampai berani macam-macam. Aku akan memotong burung mu dan akan aku jadikan umpan pancing!" ancam Hendry pada Reno.


setelah itu, Hendry langsung menarik tangan Bella untuk kembali ke taksi meninggalkan Reno sendirian.


"Kenapa hari ini ada saja yang membuat aku emosi?" sungut Hendry.


"Kak sabar,mungkin karena kakak capek makanya marah-marah terus."


"Ah iya, kamu benar juga dik. Sabar Hendry, orang sabar akan menjadi tampan," gumam Hendry yang membuat Bella tersenyum.


Setelah beberapa menit perjalanan, mereka berdua akhirnya sampai di apartemen.


"Ah akhirnya sampai juga, badan ku pegal-pegal rasanya," kata Bella.


"Ya sudah kamu langsung istirahat saja, nanti saat makan malam akan kakak bangunkan," ucap Hendry.


"Baik kak, kalau begitu Bella masuk dulu. Kakak juga istirahat lah."


Mereka akhirnya pun memasuki kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah akibat perjalanan panjang.

__ADS_1


Bella duduk di tepi ranjang, dia sedang mengajak janinnya berbincang kecil.


"Nak, kamu senang bisa bertemu dengan ayah mu? Apa ibu harus kembali padanya? Bagaimana kalau dia menyakiti ibu lagi? Atau bagaimana jika nanti ayah mu tidak mau mengakuimu sebagai anaknya?" Bella mengusap pelan perutnya yang masih rata.


__ADS_2