
Bella dan paman Isa segera melangkahkan kakinya mendekati ke dua wanita itu di ikuti Dian di belakangnya. Wajah Bella tampak datar, tidak lagi tersenyum seperti biasanya.
"Pak, kamu pulang? Kamu baik-baik saja?" tanya Tante Indri mendekati paman Isa.
"Bapak dari mana saja, kenapa lama sekali tidak pulang? Ibu sama Alea nyariin bapak terus lo," sambungnya lagi.
Mereka tidak memberikan respon apapun, terlebih Bella, wanita itu hanya menatap datar ke arah tante Indri dan Alea.
'Ternyata seperti ini sifat dari istri paman, Aku kira dia hanya jahat pada ku saja dulu. Tapi ternyata dia juga ingin mencelakai paman,' batin Bella.
"Eh kamu pasti capek, ayo duduk dulu," ucap bibi Indri mempersilahkan Paman Isa, dan Bella untuk duduk. Namun Paman Isa lebih memilih mengajak Bella masuk ke dalam rumah.
"Ayo nak, kita masuk ke dalam," ajak Paman Isa sambil menggaet lengan Bella, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam tanpa menghiraukan keberadaan dua orang di hadapannya itu.
Bella pun hanya mengikuti apa kata sang paman, dia juga tidak menggubris saudara sepupu dan tantenya itu.
Tante Indri dan Alea pun saling pandang, tante Indri menaikan sebelah alisnya.
"Kenapa mereka sekarang jadi sombong, apa yang sudah Bella katakan ada pria tua itu sampai-sampai dia berani mengacuhkan ku," gerutu Bibi Indri.
"Iya bu, sepertinya anak tidak tahu di untung itu telah meracuni pikiran bapak," sahut Alea yang semakin membuat panas tante Indri.
"Ayo kita masuk, kita harus berakting sebaik mungkin di hadapan mereka. Kau mengerti, kan?" ujar tante Indri.
"Iya bu, ayo kita masuk."
Sedangkan di dalam, Paman Isa dan Bella kini duduk di ruang tamu. Dian dengan setia mengikuti majikannya itu, dia berdiri tepat di belakang Bella.
"Nak, kamu mau minum apa? biar Paman ambilkan," tawar Paman Isa.
"Tidak perlu paman, Bella tidak haus kok."
"Duduklah nak Dian, kenapa berdiri di belakang Bella," ucap Paman Isa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa tuan, ini sudah tugas saya. Akan sangat tidak sopan jika saya duduk bersama dengan majikan," sahutnya.
"Dian aku tidak menganggap kamu pelayan ku, kita ini teman. Jadi ayo duduklah, kamu menghargai aku bukan?" ucap Bella.
Mendengar hal itu, Dian langsung mematuhi ucapan Bela. Dia duduk tepat di samping Bella.
Tak lama kemudian terlihat dua orang wanita yang tak lain adalah tante, Indri, dan Alea, memasuki rumah. Mereka langsung duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa yang di duduki oleh Bella dan Paman Isa.
"Kalian mau minum apa? biar aku buatkan," ucap Alea menawarkan.
"Iya biar Alea yang membuatkan minum," timpal bibi Indri.
"Tidak perlu, lagi pula Bella juga sudah akan pergi," kata paman Isa.
Dengar hal itu, Bella membolakan kedua bola matanya, "Paman mengusir Bella?" tanya Bella.
"Tidak nak, bukan seperti itu. Bukankah kamu akan pergi ke kantor Devan?" ujar Paman Isa.
"Ah iya, Paman benar. Sebentar lagi aku akan pergi," ucap Bella
"Tidak, terima kasih Bi."
"Paman kalau begitu Bella pergi sekarang saja," ucap Bella.
Bella langsung memeluk erat tubuh sang paman, berat rasanya membiarkan sang paman tinggal di rumah dengan orang yang memiliki niat jahat padanya.
"Paman yakin akan tinggal di sini?" tanya Bella dengan berbisik.
"Tentu nak, Paman percaya pada Devan. Dia pasti sudah mengatur semuanya dengan baik, doakan paman semoga tidak terjadi sesuatu apapun," sahut Paman Isa dengan berbisik pula, Bella menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Hati-hati ya nak," ucap paman Isa.
"Bella pergi dulu ya paman, nanti Bella akan sering mengunjungi paman. Jaga diri paman baik-baik," kata Bella lalu kemudian bangkit dari duduknya di ikuti oleh Dian.
__ADS_1
"Kamu juga jaga diri dan cucu paman baik-baik ya," sahut paman Isa yang di angguki oleh Bella.
Bella dan Dian melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu, paman Isa mengantar Bella sampai di depan pintu.
"Silahkan kak," ucap Dian setelah membukakan pintu mobil untuk majikannya itu.
Dian kemudian menyusul duduk di samping Bella, karena biasanya Bella meminta dirinya duduk di sampingnya. Mobil yang di tumpangi Bella melaju meninggalkan rumah itu. Bella menatap nanar rumah yang menjadi saksi bisu masa kecilnya dulu, dia merindukan bermain dengan sang paman.
"Kak, anda baik-baik saja?" tanya Dian yang melihat wajah murung Bella.
"Aku baik-baik saja kok, aku hanya rindu masa kecil ku dulu," jawab Bella dengan tersenyum tipis.
Dian tidak tau harus merespon apa, dia hanya mengelus pelan lengan Bella. Dia tau Bella pasti merindukan hal itu. apapun yang sudah di lalui olehnya dulu, pasti akan di rindukan di masa mendatang, karena terkadang dirinya juga merasa begitu.
"Eh, Dian aku sampai lupa ingin menanyakan sesuatu pada mu," ucap Bella yang langsung merubah raut wajahnya.
"Tanya apa kak?"
"Bagaimana hasil tes DNA kalian? Apakah hasilnya positif? Ayo katakan pada ku," tanya Bella antusias.
"Hasilnya positif kak, aku dan kak Hendry ternyata saudara kandung," sahut Dian.
"Benarkah? Wah itu bagus. Aaa selamat ya," ujar Bella yang langsung memeluk Dian.
"Tidak ku sangka semua kenyataan ini. Ternyata dunia ini hanya selebar daun kelor ya," kata Bella masih dengan memeluk Dian.
"Iya kak, aku juga hampir tidak percaya dengan kenyataan ini. Ternyata aku masih memiliki keluarga di dunia ini," sahut Dian.
"Kamu benar, takdir tuhan memang tidak ada yang tau. Jadi mulai sekarang kita keluarga," ujar Bella melepas pelukan mereka.
"Apa sekarang kamu tinggal bersama kak Hendry?" tanya Bella.
"Benar kak, saya tinggal dengan kak Hendry dan kakak angkat saya juga. Kak Hendry mengajak kami tinggal bersama saat mengetahui hasilnya positif," jelas Dian.
__ADS_1
"Aaa itu bagus, kapan-kapan kamu harus mengajak ku main ke sana. Oke?"
"Baik kak," sahut Dian.