Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
terpleset


__ADS_3

Malam harinya, Bella sudah di pindahkan ke ruang perawatan, kondisinya sudah mulai stabil. Devan dengan setia menunggu di samping istrinya, pria itu menggenggam jemari Bella seolah menyalurkan kekuatan. Sesekali Devan mengecup jemari yang tengah terpasang infus itu.


"Sayang, bangunlah. Apa kamu tidak merindukan suami mu ini?" ucap Devan mengajak Bella mengobrol.


Devan yakin Bella mendengar apa yang dia ucapkan, karena dirinya ingat sewaktu dirinya koma dulu, dirinya bisa mendengar semua yang Bella ucapkan.


"Baby, maafkan aku. Aku mengingkari janji ku, aku gagal menjaga mu. Belum sempat aku membahagiakan mu, kamu sudah kembali terluka," ucap Devan lirih.


Devan membaringkan kepalanya di samping Bella, pria itu tampak tak bersemangat untuk apa pun. Dirinya bahkan belum makan sejak siang tadi, alasannya adalah tidak selera makan.


Devan begitu menyesali kejadian yang menimpa Bella tadi, andai saja dia tidak membiarkan istrinya untuk menyebrang sendirian, maka kejadian seperti ini pasti tidak akan terjadi. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


Satu minggu kemudian.


Jo tampak memasuki kantor dengan wajah lesu. Pria jangkung itu kelelahan karena mengurus pencarian pelaku yang menabrak nonanya dan juga perusahaan seorang diri. Sedangkan Devan, pria itu tidak mau tau tentang urusan perusahaan. Devan menyerahkan semuanya pada Jo, tanpa memikirkan Jo yang lelah karena mengurus semuanya seorang diri. Walau terkadang tuan Andra sesekali datang ke kantor untuk membantu Jo memeriksa berkas-berkas perusahaan., tapi Jo tetap merasa kewalahan.


Seperti saat ini, baru saja dirinya duduk dirinya sudah di hadapkan oleh tumpukan berkas-berkas yang harus di periksa sebelum di tanda tangani oleh Devan.


Tok tok tok...


"Masuk!" ucap Jo dari dalam ruangannya.


"Permisi tuan Jo, saya mengantarkan berkas yang harus di tanda tangani tuan Devan," ucap salah seorang karyawan.


"Letakkan di sana," tunjuk Jo pada ujung mejanya yang terdapat banyak tumpukan berkas.


Karyawan itu mengangguk lalu meletakkannya sesuai arahan Jo tadi.


"Kalau begitu saya permisi tuan," ucap karyawan itu lalu keluar dari ruangan Jo.


Jo tidak menyahut, pria itu hanya mengibaskan tangannya tanda menyuruh karyawannya pergi.


"Lagi dan lagi, huh! Cepatlah sembuh nona, agar tuan bisa kembali ke kantor. Rasanya saya sudah tidak sanggup untuk menghandle ini semua," keluh Jo saat melihat setumpuk berkas yang semakin menggunung.

__ADS_1


Kenapa berkas itu serasa tidak ada habisnya sih? Padahal tadi malam, Jo lembur hingga pukul 01.00 dini hari untuk menyelesaikan berkas berkas itu, tapi nyatanya tidak selesai secepat itu.


Jo memutuskan untuk pergi ke pantry di lantai atas, pantry khusus untuk penghuni lantai paling atas itu. Jo akan membuat kopi untuk menghalau rasa kantuk yang melanda.


Saat menyusuri lorong menuju pantry, Jo tidak melihat tanda peringatan bahwa lantai sedang di pel.


Brugh!


"Aaawsh, lantai si*lan!" maki Jo saat dirinya jatuh karena terpeleset.


"Eh, tuan anda jatuh?" tanya seorang cleaning servis wanita yang bertugas di lantai atas itu.


"Ck! Kau masih bertanya? Apa kau buta? cepat bantu aku berdiri!" ketus Jo.


Malang sekali nasib mu Jo, sudah jatuh tertimpa tangga pula.


Wanita itu membantu Jo berdiri, dengan takut takut wanita itu menggapai tangan Jo lalu membantunya berdiri.


"Jadi kau yang mengepel?" tanya Jo yang di jawab anggukan oleh wanita itu.


Gadis itu menunjuk ke arah tanda peringatan yang sudah dia pasang, "Itu sudah saya pasang," jawab gadis itu.


Jo mengarahkan pandangannya ke arah yang gadis itu tunjuk. Benar saja! Sudah terpajang tanda peringatan di sana, berarti memang dirinya yang salah di sini. Tapi Jo, dia tidak mau kalah. Jatuh harga dirinya jika dia mengakui kesalahannya yang konyol itu.


"Tetap saja ini salah mu! Kau seharusnya menunggu di sini sampai lantainya kering, bukannya malah keluyuran kemana-mana!" ucap Jo menyalahkan gadis itu.


'Astaga dia ini sebenarnya siapa sih? Kenapa cerewet sekali. Rasanya aku ingin menyumpal mulutnya itu dengan kain pel ini, dia yang salah karena jalan tidak lihat-lihat tapi malah memarahi ku,' batin gadis itu menggerutu.


Sedetik kemudian gadis itu ingat ucapan HRD, bahwa yang mengisi lantai paling atas adalah petinggi perusahaan itu dan sekretarisnya. Jadi bisa jadi yang berdiri di hadapannya itu, bos besar perusahaan atau sekretarisnya. Gadis itu adalah cleaning servis baru, yang menggantikan posisi karyawan lama yang telah mengundurkan diri. Dirinya baru bekerja selama 5 hari ini.


"Maaf tuan." Hanya kata itu yang sanggup di ucapkannya.


"Baguslah kalau kau tau kesalahan mu," kata Jo menatapi tajam wanita itu.


'Itu kan salah anda sendiri, kenapa malah menyalahkan orang lain. itulah akibatnya jika jalan tidak menggunakan mata,' batin gadis itu sebal.

__ADS_1


"Sekarang, cepat antar aku ke ruangan ku!" perintah Jo.


Gadis itu memapah Jo mengantarkannya ke ruangannya sesuai arahan Jo, karena gadis itu tidak tau yang mana ruangan Jo. Sesampainya di ruangan Jo, gadis itu membantu Jo duduk di kursinya.


"Kau anak baru ya?" tanya Jo saat sudah duduk dengan baik.


"Iya tuan, saya baru masuk 5 hari," jawab wanita itu.


"Siapa nama mu?"


"Naila, tuan."


"Kau tau kesalahan mu, kan? Karena perbuatan mu, pinggang ku jadi sakit. Aku jadi tidak bebas bergerak kesana sini," ujar Jo menyalahkan.


Naila mengangguk pelan, mengangguk saja lah kalau dirinya menjawab takutnya dia di pecat. Karena dia sangat membutuhkan pekerjaan ini.


"Jadi, apa yang bisa kamu lakukan untuk menebus kesalahan mu ini?" tanya Jo.


'Apa? aku kan tidak bersalah di sini. Dasar menyebalkan, suka menindas orang yang lemah. Lihat saja nanti kalau aku sudah kaya,' batin Naila tidak terima.


"Kenapa diam?" tanya Jo saat tidak mendapat respon dari lawan bicaranya itu.


"Tidak tau tuan," sahut Naila.


Jo mengangkat sebelah alisnya, "Baiklah, kalau begitu aku yang akan putuskan hukuman apa yang pantas untuk mu," kata Jo.


"Hukuman?!" pekik Naila.


Jo mengangkat tangannya, "Turunkan nada bicara mu, nona. Ketahuilah, bahwa orang yang ada di hadapan mu ini adalah atasan mu. Jadi kamu harus hormat pada ku."


Naila langsung menutup mulutnya rapat-rapat, tidak lagi berani menjawab. Mulutnya ini jika tidak di kendalikan dengan baik, pasti akan kelepasan seperti tadi.


"Sekarang, buatkan aku kopi!" perintah Jo yang langsung di patuhi oleh Naila.


Naila langsung beranjak dari sana, untuk membuatkan kopi untuk pria menyebalkan itu.

__ADS_1


__ADS_2