
"Kau masih mau mengelak lagi?" tanya papa Andra.
Devan gelagapan bingung mau menjawab apa, tidak ada alasan untuk dirinya mengelak lagi. Toh hatinya juga mengatakan bahwa dirinya sangat merindukan Bella.
"Aku, aku-" Devan gugup sekali rasanya.
"Dev, jangan bohongi hati mu sendiri, ungkapkan saja. Lihatlah, belum apa-apa kau sudah terlihat begitu kacau," ujar papa.
"Tapi Bella sudah pergi pa, Devan yang mengusirnya kemarin," ucap Devan karena sudah kalah.
"Apa yang sudah terjadi pada kalian berdua?" tanya papa Andra.
"Aku mengusirnya karena aku kira dia menjebak ku, padahal ini semua adalah ulah Nesva. Aku berusaha mengendalikan diri ku, dan melakukannya dengan Bella. Dia tidak salah apa pun, tapi aku malah membuatnya pergi," ucap Devan.
"Jadi, kau sudah sadar akan kesalahan mu?"
Devan mengangguk sebagai jawaban.
"Pertanggung jawabkan perbuatan mu Son, dia pergi karena mu. Maka kau harus berjuang untuk mendapatkannya kembali, kau paham kan?" ujar papa Andra.
Devan tidak menjawab, dia hanya mengangguk saja lalu bangkit meninggalkan ruang makan. Dia memutuskan tidak akan pergi ke kantor hari ini. Devan kembali memasuki kamarnya, kamar yang penuh dengan kenangan Bella. Karena biasanya jika dia memasuki kamar, akan ada Bella di dalamnya. Devan kembali membaringkan tubuhnya di ranjang dengan posisi miring ke arah tempat Bella tidur biasanya. Jujur saja, dia sangat merindukan tidur berdua bersama Bella.
Pria itu meraih ponselnya di atas nakas, di bukanya galeri yang penuh dengan foto Bella. Karena ternyata Devan memfoto Bella secara diam-diam.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan menyakiti mu lagi. Aku berjanji akan memperbaiki kesalahan ku, dan membawa mu kembali ke sisi ku." Monolog Devan.
Devan menatap foto Bella hingga tertidur pulas, tubuhnya terasa remuk karena semalam mabuk-mabukan.
...πππππππ...
Hari ini Bella akan pergi berkunjung ke butik Hendry, dan setelahnya akan pergi ke makam orang tuanya. Bella pergi menggunakan taksi online, dan kini tengah bersiap-siap. Setelah siap, Bella langsung turun dari apartemen.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, Bella telah sampai di butik Hendry. Saat Bella keluar dari taksi, terlihat seorang pria menghampiri dirinya.
__ADS_1
"Bella?" panggil pria itu.
Bella menoleh saat merasa namanya di panggil.
"Ah ternyata benar ini kamu, sudah lama kita tidak bertemu dan tidak di sangka malah bertemu di sini. Kalau jodoh memang tidak kemana ya," cerocos pria itu.
Pria itu adalah Reno, dia adalah lelaki yang dulu pernah menyukai Bella. Namun Bella tidak pernah menerima Reno sebagai pacarnya.
Devan yang baru saja sampai di pelataran butik Hendry pun melihat jika istri tercintanya tengah bercengkrama dengan seorang pria. Devan berencana akan menemui Hendry karena sesuatu hal, tetapi dirinya malah melihat kejadian yang membuat hatinya terbakar. Dia merasa cemburu saat melihatnya namun memilih untuk tidak keluar dari mobilnya, karena dirinya belum siap bertemu Bella. Dirinya juga sudah di beri tau oleh jo, jika selama ini Bella tinggal di apartemen Hendry. Devan tidak menaruh curiga sedikit pun pada Hendry, karena Devan sudah mengetahui seluk beluk masa lalu Hendry. Apa lagi pria itu berlagak seperti wanita, jadi Devan pikir jika Hendry tidak akan mungkin menyukai wanita.
"Hai, maaf aku masuk dulu. Permisi,β kata Bella menjaga jarak dari pria itu.
"Eh, tunggu! Menikahlah dengan ku, maka aku akan membahagiakan mu." Reno dengan berani menyentuh tangan Bella.
Hal itu semakin membuat Devan kebakaran, dirinya tidak rela jika sang istri di sentuh oleh pria lain.
"Maaf, saya buru-buru." Bella langsung menepis tangan Reno dan berlari masuk ke butik.
mendengar teriakan pria itu, Devan semakin geram. Ingin rasanya dia menyumpal mulut pria itu dengan besi panas, agar tidak mengatakan hal yang tidak mungkin. Karena selama dirinya masih hidup, Devan tidak akan membiarkan pria mana pun mendekati istrinya.
Sedangkan Bella tidak menggubris pria itu, dia terus berlari masuk menghampiri kasir, untuk menanyakan keberadaan Hendry.
"Permisi kak, kak Hendry ada? Saya sudah janjian akan bertemu di sini," tanya Bella.
"Ada kak di atas, sebentar ya kak saya telpon dulu. Dengan kakak siapa ya?" kata si kasir.
"Bella, kak."
Penjaga kasir itu menelpon Hendry untuk memberi tahukan jika ada yang ingin bertemu, dan mempersilahkan Bella masuk setelah mendapat konfirmasi dari Hendry.
"Hai kak, apa aku mengganggu?" sapa Bella saat baru saja masuk.
"Masuklah Dik," sahut Hendry kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangannya.
__ADS_1
"Ini kak, Bella bawakan makan siang untuk kakak. Ini Bella yang masak sendiri, kakak belum makan siang kan?" kata Bella.
"Wah terima kasih Dik, kebetulan kakak belum sempat makan siang karena pekerjaan kakak masih banyak," ujar hendry yang langsung membuka kotak makan yang di bawakan Bella.
"Kamu sudah makan?" tanya Hendry.
"Sudah kak, sebelum ke sini tadi Bella sudah makan. Ya sudah kakak makan saja dulu," sahut Bella.
Hendry langsung memakan makanannya dengan lahap. Masakan Bella memang tidak bisa di ragukan lagi, rasanya begitu pas di lidah dan akan membuat siapa saja yang memakannya seperti terhipnotis.
"Ugh, kenyang. Masakan mu enak sekali," puji Hendry saat sudah menyelesaikan makannya.
"Syukurlah kalau kakak suka. Kakak pasti sibuk sekali ya sampai tidak sempat makan siang?" sahut Bella.
"Ini sudah pekerjaan ku, jadi aku memang selalu seperti ini jika sedang banyak job," ujar hendry.
Mereka mengobrol sebentar, Bella tidak menceritakan kejadian di luar tadi, dirinya takut Hendry akan khawatir padanya. Lalu setelah ga Hendry melanjutkan pekerjaannya, dia harus segera menyelesaikan rancangannya karena acara fashion week yang akan dia ikuti hanya tinggal sebentar lagi.
Sampai pada sore hari Bella meminta izin pada Hendry untuk pergi berkunjung ke makam kedua orang tuanya, lalu setelah itu dia pulang.
"Kamu naik apa Dik? Apa kamu bisa membawa mobil? Ini pakailah mobil ku," ujar hendry memberikan kunci mobilnya.
"Tidak perlu kak, Bella akan naik taksi saja. Kalau Bella memakai mobil kakak, takutnya nanti tuan Devan akan tau," jawab Bella.
Bella tidak tahu saja, kalau Devan sudah mengetahui keberadaanya. Bahkan melihat kejadian tadi.
"Ah, benar juga," kata Hendry.
Mendengar ucapan Bella tadi membuat Hendry takut jika Devan akan menemukan Bella, dan membawanya pergi. Perasaan apa ini? Kenapa dirinya harus takut? Terlepas dari apa pun, Devan masih suami Bella secara hukum dan agama. Dan jika Bella juga ingin kembali pada Devan, dirinya bisa apa? Karena posisi dirinya yang bukan siapa-siapa.
"Pakailah ini, agar tidak ada yang mengenali mu."
Hendry memberikan masker dan topi pada Bella, untuk Bella pakai. Setelah memakainya, wanita itu segera berjalan keluar dari butik. Dirinya sudah memesan taksi online, dan tepat saat dirinya sampai di loby taksi itu juga datang. Taksi yang Bella tumpangi melaju meninggalkan butik Hendry.
__ADS_1