
Di mansion, Bella sudah terbangun dan bangkit dari ruang belajarnya. Dia turun ke lantai satu untuk melihat keberadaan Devan.
"Pak Sam, apa tuan Devan pergi?" tanya Bella pada pak Sam yang berada di belakang.
"Iya nona, tuan Devan pergi setelah selesai makan malam," jawab pak Sam.
"Pergi kemana ya pak?"
Kemana Devan pergi? Ini bahkan sudah pukul 1 malam, Bella merasa hatinya tidak tenang, dia takut terjadi sesuatu pada Devan.
"Saya tidak tau nona," sahut pak Sam.
"Ah baiklah kalau begitu, segeralah istirahat pak ini sudah malam," kata Bella perhatian.
"Baik nona."
Pak Sam langsung pergi ke rumah belakang, di mana tempat istirahat para pelayan.
Bella yang sudah tidak mengantuk pun, berjalan menuju ke ruang tengah. Dia berencana akan menunggu Devan pulang, dia khawatir sekali.
Di perjalanan, Devan tak henti-hentinya mengutuk dan mengumpati kelalaian anak buahnya. Dia benar benar tersiksa dengan keadaanya.
"Sh*it!" umpat Devan untuk yang ke sekian kalinya.
mobil yang Devan tumpangi memasuki pelataran mansion. Bella yang mendengar deru suara mobil pun memastikan jika itu Devan, di lihatnya dari kaca jendela. Lalu dia segera membukakan pintu.
__ADS_1
Devan langsung menyambut Bella dengan pelukan, pria itu juga melahap habis bibir Bella. Dia sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di tubuhnya. Pikirannya sudah melayang entah kemana, dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Bella yang mendapat serangan mendadak dari Devan pun mematung. Setelah nyawanya terkumpul, wanita itu berusaha melawan devan. Tetapi apalah daya, tubuhnya yang kecil tidak mampu melawan devan.
Jo yang melihat apa yang di lakukan oleh tuannya langsung mengeluarkan ponselnya, pria itu diam-diam merekam kejadian itu. Agar bisa di jadikan bukti jika nanti Devan menyalahkan Bella.
Devan langsung menggendong Bella ala koala, dengan bibir mereka yang saling berpagut. Bella terus saja memberontak tetapi tidak di lepaskan juga. Sesampainya di kamar, Devan langsung melemparkan Bella ke ranjang.
"Aaws! Tuan anda ini kenapa?" tanya Bella yang sudah mengeluarkan air matanya. Dia beringsut mundur untuk menghindari Devan.
Devan yang sudah tertutupi hawa nafsu tidak menggubris. Pria itu langsung naik dan kembali menyambar bibir Bella dengan kasar. Devan merobek baju Bella dengan sekali sentakan, dia tidak peduli pada Bella yang sudah menangis sesegukan.
Devan memandang lekat tubuh bagian atas Bella yang putih mulus, pria itu menyeringai seperti iblis Bella yang melihat itu semakin takut. Devan tidak peduli pada tangisan dan teriakan Bella. Pria itu memasuki inti Bella dengan kasar, dia mencoba untuk menyalurkan hasrat yang sejak tadi dia tahan.
Bella yang sudah kehabisan tenaga pun hanya bisa pasrah dan hanya menangis. Dia tidak menyesal menyerahkan mahkotanya untuk suaminya, tetapi dia sedih karena Devan melakukannya secara tidak sadar. Entah akan bagaimana nasib Bella setelah ini, dia tau jika Devan tidak pernah menyukainya. Apakah Devan akan berubah setelah kejadian ini atau malah pria itu akan menyalahkannya?
Bella terus menangis di sela-sela kegiatan mereka, namun berbeda dengan Devan, pria itu begitu menikmatinya. Dia lega karena bisa menyalurkan hasratnya. Devan seperti tidak ada puasnya mencumbui tubuh Bella, dia terus memacu mencari kenikmatan yang baru di rasakannya seumur hidupnya. Entah sudah berapa kali Devan menumpahkan hasratnya di dalam rahim Bella, hingga dia tertidur pulas karena kelelahan.
*****
Mentari sudah mulai menampakkan sinarnya, namun sepasang suami istri kontrak itu masih berlayar di alam mimpinya. Devan bergerak untuk mencari kehangatan di pagi yang dingin ini, dia merasa ada yang janggal di posisinya sekarang ini. Sangat nyaman! Itulah yang Devan rasakan, tetapi dia selalu menyangkal perasaannya. Dia memeluk Bella erat-erat, indra penciumannya bisa merasakan wangi rambut Bella. Dia semakin membenamkan kepalanya di ceruk leher Bella untuk mencari kenyamanan. Saat Bella menggerakkan badannya Devan langsung menjauh badannya.
Tak lama kemudian Bella membuka matanya, dia berusaha untuk bangun dari tidurnya. Namun tubuh bagian bawahnya terasa sangat sakit, Bella berusaha bangkit perlahan-lahan. Devan yang melihat Bella bangun pun juga ikut bangun dari tidurnya. Devan melihat tubuhnya yang polos tidak mengenakan pakaian, dia langsung memasang wajah marah dan seperti siap menerkam Bella saat itu juga.
"Apa yang sudah kau lakukan? Hah!" bentak Devan dengan suara yang menggelegar membuat Bella terperanjat kaget.
Mendengar itu, Bella langsung menoleh ke arah Devan.
__ADS_1
"Apa maksud pertanyaan anda?" kali ini Bella menatap manik mata yang menyorot tajam itu.
"Apa yang sudah kau lakukan pada ku, hah!? Kenapa aku tidak memakai baju?" sentak Devan emosi.
"Anda tidak ingat dengan apa yang sudah anda lakukan?" tanya Bella ambigu.
"Beraninya kau menggoda ku! Kamu memanfaatkan keadaan ku tadi malam. Ternyata kau sama saja dengan wanita murahan di luar sana," hina Devan tak punya hati.
deg..
Bagai di hantam batu besar dada Bella bergemuruh mendengar tuduhan Devan. Murahan? Kenapa kata itu terdengar begitu menyakitkan. Dia tidak pernah menggoda Devan, bahkan dalam angannya pun dia tidak ingin menggoda. Jika bisa kabur dia bahkan akan langsung berlari sejauh mungkin tadi malam.
"Atas dasar bukti apa anda menuduh saya murahan? Semua ini terjadi karena anda sendiri, anda yang telah memaksa saya. Asal anda tau itu!" ucap Bella marah.
"Lihat noda merah itu, itu adalah bukti bahwa saya pertama kali melakukannya dengan anda!" Tunjuk Bella pada noda darah di seprai.
"Kau pasti sudah menjebak ku! Kau melakukan ini semua agar bisa menguasai harta ku kan!" tuduh Devan sadis.
"Asal anda tau, saya memang butuh uang, tapi saya bukan orang yang gila harta. apa lagi sampai menggoda anda, itu tidak ada gunanya untuk saya!"
"Dasar lancang! Beraninya kau melawan ku!" bentak Devan menggelegar.
Sementara di luar, Jo mendengar jika tuannya itu tengah memarahi Bella. Ingin sekali dia masuk, tapi tidak mungkin, itu sangat lancang. Terlebih sang tuan dalam keadaan sangat marah sekarang, bisa-bisa dia juga akan terkena dampaknya.
"Pergi kau dari sini, aku tidak ingin ada perempuan murahan di mansion ku!" usir Devan.
__ADS_1
Bella yang memang juga di liputi kemarahan, langsung bangkit memunguti pakaiannya. Dia tidak mempedulikan area sensitifnya yang sakit, yang dia pikirkan adalah dirinya harus segera pergi dari hadapan pria kejam itu.