
Devan bangkit dari tidurnya, dia langsung melangkahkan kakinya turun ke lantai satu di ikuti Bella di belakangnya. Devan sebenarnya tidak terlalu lapar mengingat tadi pagi dia sarapan lumayan banyak, tapi Devan ingin menikmati masakan Bella.
Sesampainya di meja makan, "Boleh saya ambilkan, mas?" tanya Bella hati-hati.
"Hem," Devan berdehem tanda mengiyakan.
Bella dengan cekatan mengambilkan makanan ke piring Devan, lalu setelah itu di letakkan di depan Devan.
"Silahkan mas," kata Bella.
Bella berniat pergi dari sana, dia berencana akan makan di dapur saja bersama para pelayan.
"Mau kemana kau?" tanya Devan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Saya akan makan di dapur, mas," jawab Bella.
"Apa kau tidak tau aturan di rumah ini? Duduk!" perintah Devan tegas.
Karena tidak ingin memancing kemarahan Devan, Bella pun duduk di samping Devan. Mereka makan dalam diam, Bella tidak berani mengeluarkan suara apapun.
Setelah selesai makan, Devan langsung memasuki ruang kerjanya. Entahlah apa yang akan di lakukan pria itu, padahal dirinya baru saja keluar dari rumah sakit.
Bella membersihkan meja makan. Dirinya langsung mencuci piring yang kotor, padahal pak Sam sudah melarangnya.
"Nona, biar kami saja yang mencuci. Anda sudah memasak tadi, sebaiknya anda istirahat sekarang," ucap pak Sam tak enak hati.
"Tidak apa apa pak, cuma sedikit kok. Bapak bisa kerjakan yang lain saja," sahut Bella tersenyum ramah.
Pak Sam merasa tidak enak, karena Bella selalu mengerjakan semuanya sendiri.
Setelah selesai, Bella pergi ke kamar, mengambil obat untuk Devan.
Tok tok tok..
"Mas, boleh saya masuk?" tanya Bella dari balik pintu.
"Masuk!" sahut Devan dari dalam.
Bella masuk dengan membawa nampan berisi air dan juga obat yang harus Devan minum.
"Anda harus minum obat dulu mas," kata Bella.
__ADS_1
"Ck!" Decak Devan malas, dirinya paling tidak suka jika di suruh meminum obat.
Bella menyodorkan obat yang sudah di letakkan di piring kecil pada Devan. Mau tak mau Devan pun menerima dan meminumnya.
"Sudah kan? Sekarang keluarlah," usir Devan sok dingin, padahal hatinya mulai menghangat karena perhatian dari Bella.
"Baik, saya keluar dulu. Permisi," ucap Bella.
Selepas kepergian Bella, Jo masuk dengan membawa tab di tangannya.
"Siang tuan," sapa Jo saat sudah berdiri di dekat Devan.
"Bagaimana hasilnya? Kau sudah mendapatkan informasinya, bukan?" tanya Devan.
"Sudah tuan."
"Katakan."
"Malam ini, perusahaan Y mengadakan pertemuan privat antara anda dan CEO mereka di sebuah bar. Pertemuan hanya akan di lakukan oleh 2 orang saja, tanpa di dampingi sekertaris atau siapapun," ujar Jo menyampaikan.
Devan menaikkan alisnya sebelah, dia agak aneh dengan pertemuan ini.
"Pertemuan privat?" tanya Devan memastikan.
"Sangat mencurigakan. Kau sudah menyelidikinya?"
"Sudah tuan. Pertemuan ini ada hubungannya dengan nona Nesva. Wanita itu sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak anda," sahut Jo memberitahu informasi yang di dapatnya.
"Bagaimana menurut mu? Aku harus datang atau tidak?" tanya Devan meminta saran Jo.
"Terserah anda tuan."
"Aku bertanya karena aku meminta saran, bukan ingin mendengar kata terserah dari mu! Sudah seperti perempuan saja!" semprot Devan dengan mata melotot.
Jo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Akan berbahaya jika anda datang, tapi kita tidak akan tau apa rencana nona Nesva jika anda tidak datang, tuan," ujar Jo.
"Jika anda ingin datang, maka anda tidak boleh datang sendiri. Harus ada yang mengawasi anda dari kejauhan," sambung Jo memberi saran.
"Kau benar. Pastikan keamanan di sekeliling ku nanti, jangan sampai membuat kesalahan!" perintah devan.
__ADS_1
"Baik tuan, kami akan melakukan yang terbaik," sahut jo.
"Baiklah mari kita lihat, rencana apa yang di buat oleh wanita itu." ucap Devan tersenyum devil.
"Kalau begitu saya permisi tuan, saya akan menyusun strategi untuk nanti malam," pamit Jo.
Selepas kepergian Jo, Devan pun keluar dari ruang kerjanya. Dia ingin istirahat sebelum nanti malam kembali beraktivitas.
Devan masuk ke kamar, di lihatnya Bella tengah terlelap. Pria itu langsung berbaring di samping Bella, dia memiringkan tubuhnya menghadap Bella, kini mereka tengah tidur dengan saling berhadapan. di tatapnya wajah manis istri kontraknya itu. Bibir kecil yang ranum, hidung kecil yang Bangir, pipi putih yang polos tanpa dempul dan mata bulat yang lucu. Devan baru menyadari kecantikan istrinya itu. Devan berpikir, ternyata di jaman sekarang masih ada wanita yang tidak memakai make up. Ingin rasanya Devan membelai pipi bulat itu, namun dia urungkan.
setelah puas mengagumi kecantikan Bella, Devan memutuskan untuk memejamkan matanya menyusul Bella ke alam mimpi.
*****
Sore hari, Bella pergi ke dapur untuk memasak makan malam. Untuk urusan memasak Bella akan turun tangan sendiri, dia ingin melayani suaminya dengan baik. Sedangkan pelayan bisa mengerjakan tugas lainnya.
"Anda akan memasak apa, nona?" tanya pak Sam yang siap membantu Bella.
"Saya akan membuat ayam bakar, kepiting balado dan sayur asam saja pak," sahut Bella.
"Biar saya bantu nona," tawar pak Sam.
Pak Sam membantu Bella memotong sayur dan mencuci ayam. sedangkan Bella, wanita itu tengah sibuk membuat bumbunya. Bella memasak dengan cekatan, hingga semua selesai dengan cepat. Setelah memastikan rasanya, Bella meminta pak Sam untuk menyajikannya di atas meja.
Bella bergegas naik ke kamarnya, dia akan membersihkan diri dulu sembari menunggu waktu makan malam. Saat sampai di kamar, Bella tidak sengaja melihat Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk, sepertinya pria itu baru saja mandi. Bella cepat-cepat menundukkan pandangannya. Meskipun sekilas, Bella melihat jika perut Devan di penuhi kotak-kotak yang membuatnya nampak perkasa. Pikiran Bella jadi kemana-mana di buatnya.
"Cepatlah mandi, sebentar lagi waktu makan malam. Jangan membuat ku menunggu!" peringat Devan.
"Ah, i-iya mas." Bella langsung bergegas masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Bella keluar dengan handuk kimono. Dia langsung menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Bella memilih dress rumahan berwana biru laut, nampak elegan di tubuhnya. Bella tidak memakai make up, dia hanya memakai lipgloss agar tidak terlihat pucat, tidak lupa juga dia menyemprotkan sedikit parfum.
Bella keluar dari walk in closet, di lihatnya Devan tengah duduk di sofa sembari membaca koran di tangannya. Bella mendekat ke arah Devan untuk mengajaknya turun makan malam.
Devan yang melihat kehadiran Bella pun menoleh, lelaki itu menelisik penampilan Bella dari atas sampai bawah.
Bella yang merasa di perhatikan pun menjadi salah tingkah, "A-apa ada yang salah mas?" tanya Bella.
"Kau ini tidak pernah berdandan, ya?" tanya Devan.
"Tidak mas, saya selalu seperti ini," jawab Bella sekenanya.
__ADS_1
"Baguslah, jadi aku tidak perlu menunggu terlalu lama," ketus Devan.