Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
kekhawatiran nesva


__ADS_3

Bella tengah mendapatkan perawatan intensive di rumah sakit ternama kota itu. Kondisinya sangat memprihatinkan. Devan kini sedang menunggu di depan ruang UGD untuk menunggu kabar bagaimana kondisi sang istri. Dia begitu merutuki kebodohannya karena telah lalai menjaga istri tercinta dan calon anaknya. Dia hanya bisa berdoa, semoga istri dan calon anaknya baik-baik saja.


"Devan, bagaimana kondisi menantu papa?" tanya papa Andra yang datang tergesa-gesa bersama Jo.


Devan menggelengkan kepalanya pelan, tanda dirinya belum tau bagaimana kondisi sang istri.


Setelah melihat kejadian yang memilukan itu, Devan menjadi kacau. Pikirannya hanya di penuhi Bella, Bella dan Bella saja. Pria itu begitu takut kehilangan wanita yang sangat di cintainya, padahal baru saja dirinya berjanji akan membahagiakan Bella. Tapi, kehendak tuhan malah berbanding terbalik dengan ucapannya.


"Yang sabar son, kita doakan yang terbaik untuk Bella dan anaknya," kata papa Andra sambil menepuk pelan bahu putranya yang terlihat lemah itu.


Tidak lama kemudian, dokter keluar dari UGD. Melihat itu, Devan langsung menghampirinya.


"Dokter, bagaimana keadaan istri dan calon anak kami?" tanya Devan.


"Kondisinya nona, kini tengah kritis tuan. Dan untuk kandungannya, syukurlah masih bisa di selamatkan. Hanya saja kandungannya lemah," jelas dokter itu.


"Dok, lakukan yang terbaik untuk istri dan calon anak kami. Saya akan bayar berapa pun biayanya," kata Devan.


"Tentu tuan, kami akan mengupayakan yang terbaik untuk nona."


"Apa saya boleh menjenguknya, Dok?" tanya Devan.


"Untuk saat ini, jangan dulu tuan. Tunggu keadaannya kembali normal baru bisa di jenguk. Kalau begitu saya permisi dulu tuan," ucap dokter itu.


"Baiklah Dok," Devan tertunduk lesu karena tidak bisa melihat sang istri.


Devan hanya bisa berdoa semoga sang istri segera pulih seperti sedia kala. Baru saja dirinya bisa merasakan bahagia karena kembali bersatu dengan Bella, tapi malah cobaan seperti ini menimpa mereka. Devan berjanji pada dirinya sendiri, jika dia akan membalas orang yang telah menabrak istrinya.


"Pa, aku akan pergi sebentar. Tolong jaga Bella untuk ku," ucap Devan dingin, tidak ada lagi raut ramah di wajahnya.

__ADS_1


"Kau mau ke mana, son?" tanya papa Andra khawatir kalau sang putra akan berbuat aneh-aneh.


"Aku akan mengurus sesuatu dulu. Jo ikut aku," ujar Devan yang langsung berlalu dari sana dan di ikuti oleh Jo di belakangnya.


Sesampainya Devan dan Jo di markas, pria itu langsung menuju ke ruangannya. Devan memiliki markas khusus untuk mengeksekusi orang-orang yang mencelakai keluarganya atau orang yang berbuat curang di dalam perusahaan. Karena sejatinya tidak ada pebisnis yang murni dari hal-hal seperti ini.


"Jo, selidiki siapa dalang dari kecelakaan ini. Aku ingin orang yang telah menabrak istri ku, mendapatkan balasan yang setimpal. Bahkan kalau bisa lebih," ucap Devan dingin.


Jo kembali merasakan hawa tidak enak dari dalam diri Devan, setelah beberapa saat ini Devan bersikap layaknya manusia normal, kini tuannya itu kembali bersikap seperti dulu.


"Baik tuan, akan saya selidiki," sahut Jo.


"Temukan secepatnya. Aku tidak rela orang itu berkeliaran dengan bebas ke sana sini, sedangkan istri ku berbaring tak berdaya di rumah sakit," kata Devan dengan pandangan mata nyalang.


"Jangan lupa tempatkan beberapa anak buah di sekeliling rumah sakit untuk berjaga-jaga. Bila perlu di sekeliling papa juga," sambung Devan.


"Baik tuan, akan saya lakukan."


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Sementara di lain tempat, Nesva kini tengah ketakutan. Dirinya takut jika ada seseorang yang mengetahui perbuatannya. Wanita itu memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa.


"Dari mana saja kau baru pulang?" tanya tuan Smith yang mengagetkan Nesva.


"A-aku baru saja menenangkan diri," sahut Nesva beralasan.


"Ingat! Jangan pernah berbuat hal bodoh yang bisa membuat papa kembali di permalukan, kau mengerti bukan!" ujar tuan Smith penuh penekanan.


"Aku tau!"

__ADS_1


Nesva langsung pergi menuju ke kamarnya, Wanita itu langsung mengunci diri di dalam kamar. Dirinya memang sudah menikah, tapi dia tidak mengijinkan pria yang menjadi suaminya itu tidur di kamarnya. Jadi mereka tidur di kamar terpisah.


"Tidak mungkin ada yang melihat, karena aku sudah memastikan jika di sana tadi sepi. Ya, tidak ada yang melihatnya," gumam Nesva.


"Haha, rasakan itu wanita tidak tau diri. Akhirnya kau menerima pembalasan dari ku. Jika saja kau tidak hadir di hidup Devan, kau pasti tidak akan aku tabrak seperti tadi. Haha wanita bodoh," sambung Nesva lagi.


Nesva merasa dirinya akan aman, terlebih suasana di taman tadi memanglah sepi. Dan belum tentu Devan bisa menemukan dirinya, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.


"Jika nanti ada yang mengetahuinya, maka aku tinggal kabur saja dan pergi sejauh mungkin. Itu adalah hal kecil, karena seorang Nesva tidak akan pernah kalah hanya karena hal seperti ini. Haha," sombong Nesva.


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Setelah pulang dari markas, Devan langsung kembali menuju ke rumah sakit. Dirinya akan menunggu istrinya di sana. Sesampainya di rumah sakit, Devan melihat sang papa sedang berbicara dengan dokter.


"Pa, ada apa? Apa ada masalah dengan Bella?" tanya Devan saat melihat Dokter pergi dari hadapan sang papa.


"Dev, kau sudah kembali?" bukannya menjawab, papa Andra malah balik bertanya.


"Pa, bagaimana kondisi istri ku? Apa terjadi sesuatu lagi?" desak Devan khawatir.


"Tenangkan diri mu, Son. Bella tidak apa-apa, kata dokter dia sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan, kondisinya sudah kembali normal. Dokter mengatakan, kalau Bella memiliki semangat hidup yang tinggi. Jadi dia bisa lebih cepat pulih," jelas papa Andra.


"Benarkah? Papa tidak berbohong, kan! Jadi, aku sudah boleh menjenguk istri ku di dalam?" Devan memberondong pertanyaan kepada sang papa dengan wajah antusias.


"Kau boleh menjenguknya nanti setelah Bella di pindahkan ke ruang perawatan, jadi untuk saat ini bersabarlah dulu," kata papa Andra.


"Ck!" decak Devan sebal.


"Bersabar lah, son. Kau jangan seperti anak kecil. Ingatlah, kau ini akan segera menjadi seorang ayah. Apa kau tidak malu jika anak mu lahir dan sifat mu sebelas dua belas dengan anak mu?" ledek papa Andra.

__ADS_1


"Ck! Papa ini tidak pernah jatuh cinta, makanya tidak tau bagaimana rasanya menahan rindu," sini Devan.


Papa Andra tidak menggubris ucapan Devan, putranya itu sekarang entah kenapa berubah menjadi orang yang menyebalkan di matanya.


__ADS_2