
Bella melepas kepergian Devan dengan derai air mata yang membanjiri pipinya, padahal Devan hanya akan pergi sebentar untuk menyelamatkan paman Isa. Tapi Bella bereaksi seolah Devan akan pergi untuk selama-lamanya. Wanita yang tengah hamil itu sangat berat melepas kepergian sang suami, dia ingin ikut tapi Devan melarangnya.
"Sudah sayang ku, mas hanya akan pergi sebentar saja. Mas janji akan segera kembali bersama dengan paman juga," ucap Devan sambil mendekap hangat tubuh Bella.
"Bella mau ikut mas, boleh kan? Bella janji tidak akan merepotkan, Bella bisa menjaga diri sendiri," ujar Bella sambil menatap penuh harap pada suaminya itu.
"No! Tidak boleh!" ucap Devan tegas.
"Huwaaa mas jahat," tangis Bella semakin pecah mendengar kalimat tegas dari sang suami.
"Cup cup, sudah sayang. Kalau kamu seperti ini, mas semakin berat meninggalkan mu."
"Bella takut terjadi sesuatu pada mas. Bella takut... Takut... Huwaaa!" Bella tidak mampu melanjutkan ucapannya, dia kembali menangis ketika pikiran buruk tentang Devan menghampirinya.
"Sttt sudah. Mas pasti akan baik-baik saja, kamu ingat saat mas koma waktu itu? Mas bisa melewati semuanya asal ada kamu di sisi mas, doakan mas kembali dengan baik-baik saja agar bisa berkumpul bersama lagi. Dan ingat, kasian paman jika tidak segera di selamatkan," ujar Devan mengingatkan.
"Tapi tetap saja Bella khawatir mas," rengek Bella.
"Baby lihat, mommy mu begitu mencintai daddy. Sampai-sampai sekhawatir ini," kata Devan sambil mengelus lembut perut Bella.
Kemudian Devan menangkup pipi Bella, di halusnya air mata yang berlinang. Lalu setelahnya Devan mengecup kedua mata Bella, berlanjut ke keningnya. Dan entah siapa yang memulai lebih dulu, bibir mereka kini telah bertemu. Mereka larut dalam ciuman perpisahan, hingga mereka berdua tidak mempedulikan keberadaan Jo. Sedangkan Jo yang melihat tuan dan nonanya itu hanya memutar bola matanya malas, drama apa lagi yang harus dia lihat di malam buta seperti ini. Padahal ini sudah waktunya untuk mereka berangkat menyelamatkan paman Isa.
"Oh ayolah, tuan nona. Sudahi kemesuman kalian, ini bahkan sudah lewat dari waktu keberangkatan," ucap Jo yang mengagetkan dua insan yang lupa diri itu.
Wajah Bella memerah merona, dirinya baru sadar jika mereka berciuman di tempat terbuka, ada Jo di sana. Bagaimana bisa dia melupakan hal itu. Sedangkan Devan, pria itu bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa pun.
"Makanya Jo, kau cepatlah cari pasangan agar kau bisa merasakan bagaimana beratnya berpisah dengan kekasih," sindir Devan dengan muka datarnya.
"Yayaya, terserah anda saja tuan. Dulu saja sebelum mencintai Nona Bella, anda seolah tidak peduli akan hal itu. Tapi sekarang lihatlah, karma sudah datang tuan. anda begitu bucin pada Nona Bella sekarang," ejek Jo dengan berani.
__ADS_1
"Kau mau aku potong gaji mu? Atau sekalian saja burung mu yang aku potong," ancam Devan dengan menaik turunkan alisnya.
"Weh santai dong tuan, saya kan hanya bercanda," sahut Jo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sayang sudahlah, Jo hanya bercanda," ucap Bella sambil mengelus bahu suaminya, untuk mendinginkan suaminya yang gampang sekali terpancing emosi.
"Nah kan, Nona saja tidak masalah. Memang tuan saja yang darah tinggi, makanya sedikit-dikit langsung marah," timpal Jo.
Devan langsung mendelik menatap tajam ke arah Jo, namun pria itu tidak melakukan apapun, karena ada Bela di sampingnya. Ya beginilah, Jika harimau jantan sudah bersama dengan pawangnya, pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Jo menjadi lebih leluasa akan berbuat apa jika ada Bela di samping Devan, karena apa? Karena pria itu pasti tidak akan melawan.
"Sudahlah, apa kalian akan terus berdebat seperti ini? bersiap-siaplah, kalian harus segera pergi," ucap papa Andra menengahi.
"Sayang mas pergi ya," pamit Devan pada Bella.
Bella mengangguk lemah, mau tidak mau, rela tidak rela, dia harus melepas kepergian Devan untuk menyelamatkan Paman Isa. Karena bagaimanapun dia tidak boleh egois, meski dirinya ingin selalu berada di dekat Devan, namun Bella harus ingat, jika Paman Isa sedang dalam bahaya, jika tidak segera di selamatkan.
"Papa Doakan kami semoga kami bisa kembali dengan selamat tanpa berkurang satu anggota pun," ujar Devan pada Papa Andra.
"Tentu son, papa akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. berhati-hatilah, jangan anggap remeh lawan kalian di sana," nasehat Papa Andra.
"Baik Pa, papa tenang saja. Karena menurut informasi yang Devan dapat, pengawal yang menjaga Paman Isa hanya ada dua orang," kata Devan.
"Meski begitu kalian harus tetap berhati-hati," kata papa Andra.
Devan mengangguk pasti, kemudian sebelum pergi Devan mengecup lembut kening Bela dan Bella mencium tangan Devan.
Setelahnya rombongan Devan pun masuk ke mobil untuk menuju perjalanan ke tempat Paman Isa di sekap, Bella mencoba menguatkan hatinya melepaskan kepergian Devan. Ada apa dengan perasaannya? mengapa dia begitu berat di tinggal pergi oleh Devan. Dalam hati Bella berdoa, semoga semuanya kembali dengan selamat dan tanpa berkurang satu orang pun.
__ADS_1
Di lain tempat, yaitu di rumah dinas dokter Vita. Eva tengah mandar-mandir di depan pintu utama menunggu kepulangan Vita, namun yang di tunggu-tunggu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Eva benar-benar merindukan Bella, dia ingin segera menghubungi adiknya itu dan mengabarkan bahwa dirinya masih hidup.
"Kakak," Panggil dokter Vita saat sudah membuka pintu dan Eva langsung menghampiri Vita.
"Kenapa lama sekali pulangnya, apa terjadi sesuatu?" tanya Eva khawatir.
"Tidak kak, tidak terjadi sesuatu apapun. Tadi hanya lumayan banyak pasien, jadi sedikit telat pulangnya," ujar dokter Vita menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita duduk dulu," ajak Eva sambil menuntun dokter Vita untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa kak?" tanya dokter Vita penasaran.
"Kamu punya nomor ponsel Bella, kan?"tanya Eva
"Ada Kak, emangnya kenapa?" tanya Dokter Vita lagi.
"Cepat hubungi dia, kakak ingin berbicara dengannya. kakak sangat merindukan dia."
"Jangan kak."
"Loh kenapa?" tanya Eva bingung.
"Mereka akan segera ke sini malam ini, dan jika kita menelpon dan mengabarkan bahwa Kakak masih hidup maka konsentrasi mereka akan terpecah. Bukan aku melarang kakak untuk menghubungi adik kakak, hanya saja, biarkan mereka fokus untuk menyelamatkan paman itu dulu. Setelah situasi aman semua, barulah kita akan menelpon Bella. Lagi pula Kakak di sini aman bersama ku," jelas dokter Vita.
"Yang kamu ucapkan itu ada benarnya juga, baiklah kalau begitu biarkan mereka menyelamatkan Paman Isa terlebih dahulu," putus Eva pada akhirnya.
"Ya sudah kalau begitu Ayo kita makan malam dulu, Vita tadi membeli nasi goreng kesukaan kakak. Kakak belum makan, kan?" ajak dokter Vita.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam dan memutuskan untuk menikmati makan malam.
__ADS_1