
"Sayang kau datang bersama siapa?" tanya Devan pada Bella.
Bella terdiam melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak, tetapi Bella kembali sadar bahwa posisinya yang sebagai istri di atas kertas. Bella tidak memiliki hak apapun atas diri Devan.
"Apa kedatangan ku menganggu?" tanya Bella berusaha untuk biasa saja.
Devan langsung mengibaskan tangan Bella dari lengannya. semuanya terdiam, tidak ada yang menjawab.
Bella memberanikan diri untuk mendekati Devan, walau sejujurnya dia takut Devan akan marah. Biarlah Devan marah, Bella akan pikirkan itu nanti saja, yang terpenting sekarang dia harus segera menyingkirkan hama yang berada di samping suaminya itu.
Bella menyalami suaminya itu, dia tidak berbuat lebih, karena dirinya cukup sadar diri siapa dirinya dan apa posisinya. Tapi tanpa di duga, Devan meraih pinggang Bella hingga gadis itu jatuh terduduk tepat di pangkuan Devan.
"Sayang, kau belum menjawab pertanyaan ku, dengan siapa kau datang? Hem," tanya Devan lembut dengan kedua tangannya yang melingkar di perut Bella.
Deg...
'perasaan aneh apa ini?' batin Bella.
Ada perasaan yang mengganjal di hati Bella, mendengar Devan berkata lembut padanya dan Devan memeluknya. Membuat hati Bella goyah seketika.
"E-em, aku di antar supir," jawab Bella.
"Kamu belum makan siang, bukan? Aku bawa makanan favorit mu, nasi goreng seafood," sambung Bella berusaha menutupi kegugupannya.
Bella sebisa mungkin menetralkan detak jantungnya, dia harus bisa mengendalikan diri agar sukses menyelesaikan drama ini.
"Ingat, aku bersikap seperti ini agar wanita itu pergi. Jadi kau jangan besar kepala!" bisik Devan tepat di telinga Bella dengan penuh peringatan.
Ucapan Devan mampu membuat hati Bella terluka, namun Bella tetap berusaha tersenyum.
Bella memiringkan wajahnya, "anda tidak perlu khawatir tuan, saya tidak mungkin lupa akan hal itu."
Kegiatan mereka berdua tak luput dari pandangan mata Nesva, jika di lihat dari arah Nesva berdiri, Bella dan Devan seperti tengah melakukan ciuman. Hal itu sukses membuat Nesva panas dan marah.
__ADS_1
"Ck, kalian boleh berbahagia sekarang. Tapi lihatlah nanti, akan aku buat hancur rumah tangga kalian! Tidak ada yang boleh memiliki Devan selain aku!" pekik Nesva kemudian berlalu meninggalkan ruangan Devan.
Setelah kepergian Nesva, Bella segera bangkit dari pangkuan Devan. Sedang Devan, pria itu kembali menunjukkan wajah dingin dan mulai kembali memeriksa berkas-berkas.
"Mau apa kau kemari?" tanya Devan sembari memperhatikan berkas yang ada di tangannya.
"Em, s-saya ke sini ingin meminta izin pada anda," jawab Bella ragu-ragu.
"Izin? Memangnya kau mau kemana? Kau ingat bukan, isi perjanjian itu? Kau tidak di izinkan pergi kemana pun! Dan jangan membuat ulah!"
"Saya tidak berencana pergi kemana pun tuan, saya hanya minta izin untuk kembali kuliah secara online," jawab Bella.
"Untuk apa kau melanjutkan kuliah? Tanpa kuliah pun kau sudah kaya sekarang," tukas Devan tidak masuk akal.
"Memangnya kuliah menentukan bahwa kita akan menjadi kaya? Tidak kan! Saya punya cita-cita, saya ingin mengejar impian saya menjadi dokter!" sungut Bella.
"Memangnya aku bilang kalau kuliah akan membuat mu kaya? Tidak juga kan?" sahut Devan.
"Tuan saya serius!" sanggah Bella.
"Saya tidak minta di biayai tuan, Saya pastikan tidak akan meminta sepeser pun dari anda, saya memiliki tabungan sendiri. Apakah dengan meminta izin saya terlihat tidak tau diri?" Mata Bella berkaca-kaca mendengar hinaan Devan.
"Ck, terserah! Aku tidak peduli apapun yang kau lakukan, asal kau tidak lupa apa posisi mu!"
"Saya tidak akan pernah lupa akan hal itu tuan, saya hanyalah budak!"
Bella segera berlalu meninggalkan kantor Devan, dirinya tidak sanggup menahan air mata karena ucapan Devan yang begitu melukai harga dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, Bella harus tetap bertahan demi paman dan juga papa mertuanya.
Kini Bella menangis di lorong basemen, dirinya sudah menahan tangis sejak di ruangan Devan tadi. Untung saja kondisi basemen yang sepi, karena para karyawan tengah pergi makan siang.
"Jangan menangis nona, tuan bisa semakin marah jika melihat anda menangis. Ambil ini nona," kata Jo memberikan sapu tangan pada Bella.
Jo tadi melihat Bella yang keluar dari ruangan Devan dengan mata berkaca-kaca memutuskan untuk mengikutinya, dirinya merasa kasihan pada istri bosnya itu.
__ADS_1
"Terima kasih." Bella menerima sapu tangan yang di sodorkan oleh Jo.
"Nona masih ingin di sini atau mau pulang?" tanya Jo.
"Saya akan pulang saja. Sebaiknya anda kembali ke dalam, saya takut tuan Devan akan marah pada anda, saya permisi dulu," pamit Bella.
"Biar saya antar nona," tawar Jo.
"Tidak perlu, saya akan pulang dengan supir. Beliau menunggu saya di depan," tolak Bella.
Bella segera melangkahkan kakinya meninggalkan Jo yang menatapnya dengan iba. Bagaimana bisa gadis sebaik Bella harus menerima nasib yang seperti ini, sungguh sangat memprihatinkan.
"Gadis yang malang," gumam Jo menatap kepergian Bella.
Di perjalanan pulang, Bella menatap ke luar kaca mobil. Tatapannya nampak kosong, pikirannya melayang ke masa kecilnya dulu. Masa kecilnya begitu penuh kasih sayang, ibu dan ayahnya yang begitu menyayanginya. dirinya tidak kekurangan kasih sayang sedikitpun, Bella merindukan saat masa itu.
Air mata kembali jatuh membasahi pipi Bella. Rasanya dia ingin menyerah dan menyusul ke dua orang tuanya saja. Tetapi keadaan ini memaksanya untuk bertahan.
Tanpa Bella sadari, mobil yang ia tumpangi sudah memasuki halaman mansion Devan.
"Nona kita sudah sampai," ucap supir itu saat sudah menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk.
"Ah iya pak, terima kasih sudah mengantar saya," ucap Bella sebelum keluar dari mobil.
"Sama-sama nona, itu sudah menjadi tugas saya," jawab pak supir.
Bella kemudian keluar dari mobil. Dia berjalan menuju kamarnya tanpa mempedulikan pak Sam yang memanggilnya.
Sesampainya di kamar, Bella memutuskan untuk berendam. Dirinya butuh waktu untuk menenangkan pikirannya, entah mengapa kata-kata devan terus berputar di pikirannya, dan hal itu begitu melukai hatinya.
"Lupakan hal itu Bella, anggap semua yang terjadi tadi hanyalah angin lalu. Kau harus lebih kuat dari sebelumnya, yakinlah tuhan selalu bersama mu," kata Bella menyemangati dirinya sendiri.
Satu jam berlalu, Bella memutuskan menyudahi acara berendamnya. Perasaannya juga sudah membaik.
__ADS_1
Bella mengenakan handuk kimono kemudian berjalan menuju walk in closet, dirinya memilih pakaian santai. Ia berencana akan beristirahat sebentar barulah sore harinya dia menyiapkan makan malam.