
"Terus cari informasinya, pastikan kebenarannya, kita tidak boleh bertindak gegabah tapi juga jangan lamban dan lengah. Pantau terus keamanan tuan muda, jangan sampai kecolongan, lakukan tugas kalian sebaik mungkin!" peringat Jo.
"Baik tuan," jawab para bodyguard.
Jo berlalu pergi meninggalkan rumah penyiksaan itu, pria itu melakukan mobilnya menuju ke rumah sakit di mana Devan di rawat.
Sesampainya Jo di ruang rawat Devan, pria itu melihat jika Bella kini tengah tidur dengan posisi duduk di samping brankar Devan. Jo tidak habis pikir, terbuat dari apa sebenarnya hati wanita itu. Dia tetap tulus merawat dan menjaga Devan meski sudah sering di siksa.
Jo melihat wajah letih Bella, nampak sekali jika wanita itu kurang istirahat. Terlihat dari kelopak matanya yang sedikit menghitam, namun tidak mengurangi kecantikannya.
'Anda sangat cantik nona, anda juga baik dan tulus. Seharusnya tuan bersyukur memiliki berlian seperti anda, semoga tuan Devan segera menyadari hal itu,' batin Jo.
Jo berjalan mendekat ke arah brankar Devan, dirinya ingin membangunkan Bella karena merasa kasihan, tetapi tidak tega untuk membangunkannya.
Bella yang merasakan pergerakan di sekitarnya langsung mengerjapkan matanya.
"Tuan Jo, sedang apa anda di sini?" tanya Bella saat sudah membuka kedua matanya.
"Nona, sebaiknya anda pindah ke sofa. Anda bisa tidur sambil berbaring, itu bisa membuat anda lebih nyaman," ujar Jo menyarankan.
"Tidak masalah tuan Jo, saya masih bisa tidur seperti ini. Saya masih ingin menjaga tuan Devan," sahut Bella.
"Nona, saya tau anda tulus ingin menjaga tuan. Tapi anda juga harus memikirkan diri anda sendiri, jika anda sampai sakit maka anda juga tidak akan bisa menjaga tuan. Anda tenang saja, saya akan menggantikan anda di sini," jelas Jo.
Bella terdiam sejenak. Benar juga apa yang di katakan Jo, jika dirinya sakit maka dirinya tidak akan bisa menjaga dan merawat Devan. Toh lagi pula Jo akan menggantikan dirinya menjaga Devan.
"Baiklah, kalau begitu saya istirahat dulu," ujar Bella.
Bella kemudian berjalan ke pojok ruangan, di sana terdapat sofa panjang yang akan dia jadikan sebagai tempatnya beristirahat. Biarlah malam ini Jo yang menjaga Devan.
*****
__ADS_1
Pagi hari, Bella sudah kembali duduk di samping brankar Devan. Dirinya sudah mandi dan mengganti pakaian. Bella juga sudah memakan sarapannya meskipun tidak habis.
Bella duduk sembari menggenggam tangan Devan. Saat itu juga Devan menggerakkan jari-jemarinya, Bella yang merasakan hal itu menatap wajah Devan. Terlihat manik mata Devan mulai mengerjap.
"Tuan, anda sudah sadar?" tanya Bella haru.
"Tunggu sebentar, saya panggilkan dokter dulu," sambung Bella kemudian berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter.
Jo yang duduk di kursi tunggu depan kamar Devan pun heran melihat Bella berlarian keluar kamar. Pria itu memutuskan masuk ke dalam untuk memastikan apa yang terjadi.
"Tuan, anda sudah sadar?" tanya Jo saat melihat Devan sudah membuka matanya.
Sedangkan Devan, pria itu hanya menatap Jo tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Tak lama kemudian masuklah Bella dengan di ikuti dokter di belakangnya.
"Selamat pagi tuan Devan, bagaimana perasaan anda?" tanya dokter tersebut.
Bella yang melihat senyum Devan pun menjadi takut. Wanita itu pikir Devan tidak bisa berbicara, atau mungkin ada hal buruk yang mempengaruhi otaknya. Karena itu adalah kali pertamanya dia melihat Devan tersenyum.
"Saya periksa dulu ya tuan," sambung dokter itu.
"Dokter apa yang terjadi pada suami saya? apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Bella beruntun.
"Anda tenang saja nona, kondisi tuan Devan sudah membaik. Tuan Devan hanya perlu waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan," jelas dokter.
"Ah begitu ya dok. Lalu berapa lama suami saya akan diam seperti ini dok?"
"Tidak akan lama nona, jika sudah bisa menyesuaikan maka tuan Devan akan pulih seperti sedia kala."
"Baiklah kalau begitu, terima kasih dok," kata Bella.
__ADS_1
"Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter meninggalkan ruang rawat Devan.
Bella kembali duduk di samping brankar Devan. Terlihat pria itu memandang wajah Bella dengan lekat. Ada tatapan cinta di dalamnya, seperti orang yang saling merindukan, tetapi Bella tidak ingin jatuh ke dalam tipuan Devan.
Jo yang melihat sesuatu yang berbeda dari tuannya memilih untuk menyingkir ke sofa sudut ruangan, dia ingin memberikan waktu berdua untuk Bella dan Devan. Dengan harapan hubungan keduanya akan mengalami perkembangan menuju tahap saling mencintai.
"Anda ingin makan sesuatu tuan? Atau anda mau buah?" tanya Bella.
Devan mengangguk mengiyakan.
Bella mengupas satu buah jeruk, dirinya tau jika Devan sangat menyukai buah jeruk. Wanita itu menyuapkan satu persatu buah ke dalam mulut Devan. Devan menerima dengan senang hati, lagi pula hatinya sudah sedikit luluh saat ini. Dia tau Bella adalah wanita baik yang tulus, tapi Devan masih begitu gengsi untuk mengakuinya. Devan terus menerima suapan buah dari Bella, hingga tak terasa Devan sudah menghabiskan 2 buah jeruk, maklum saja itu adalah buah favoritnya.
Setelahnya Bella melirik ke arah Jo, tampak pria itu tengah fokus dengan ponselnya, mungkin saja tengah memeriksa email dari perusahaan. Karena semenjak Devan kritis, Jo lah yang menghandle pekerjaan kantor.
"Tuan Jo, sebaiknya anda pergi makan siang. Ini sudah waktunya," kata Bella mengusulkan.
"Saya sudah menyuruh anak buah untuk mencari makan siang, nona. Sebaiknya anda pulang, biar saya yang menjaga tuan, lagi pula tuan juga sudah sadar. Jadi anda pulanglah dulu, anda butuh istirahat. Nanti setelah cukup beristirahat anda boleh menjaga tuan lagi," usul Jo.
"Baiklah tuan Jo, kalau begitu saya akan pulang dulu," sahut Bella mengalah.
"Ya nona, anda akan pulang bersama sopir. Beliau sudah menunggu di basemen," kata Jo.
Bella pulang bersama sopir Devan. Mereka tidak menggunakan mobil biasanya, karena di takutkan akan menimbulkan bahaya seperti penyerangan malam itu. Sopir suruhan jo mengendarai mobil yang lumayan butut, namun berkecepatan tinggi. Mobil melaju dengan pesat agar cepat sampai, mereka memasuki mansion lewat gerbang belakang. Bella mengingat jika gerbang belakang inilah yang dia lihat dari atas balkon kamarnya dulu.
Bella akhirnya sampai, mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di pintu belakang mansion. Terlihat pak Sam berdiri di sana untuk menyambutnya.
"Selamat siang nona, selamat datang kembali di mansion," sambut pak Sam dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Siang pak Sam," sapa Bella tersenyum ramah.
"Anda akan makan siang sekarang atau istirahat dulu nona?" tanya pak Sam.
__ADS_1
"Saya akan beristirahat dulu saja pak, kalau begitu saya ke kamar dulu," pamit Bella kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar.