
Hari ini Devan memutuskan untuk pulang lebih awal. Dirinya merasa tidak bersemangat sedikitpun untuk menyelesaikan pekerjaannya, pikirannya hanya di penuhi oleh Bella saja. Sejak pagi tadi, Devan tidak dalam mood yang baik. Semua karyawan bahkan menjadi bahan amukan dirinya, hanya sedikit kesalahan saja dia akan memarahi karyawannya habis-habisan.
Di perjalanan pulang, Devan bahkan sering menggerutu tidak jelas. Entah karena Jo yang terlalu pelan, atau karena Jo yang terlalu cepat saat mengendarai mobil bahkan saat Jo berhenti di lampu merah pun Devan terus mengoceh tidak jelas. Jika di pikir-pikir, Devan saat ini seperti orang yang tengah datang bulan.
"Ck, siapa yang menyuruh mu berhenti Jo? Kau mau aku pecat?" sentak Devan memarahi Jo yang tidak bersalah sedikit pun.
"Cepat jalankan mobilnya, atau aku akan memotong gaji mu," ancam Devan.
Sedangkan Jo yang sejak tadi pagi sudah tau penyebab tuannya seperti itu hanya diam, dia tidak menggubris ocehan tidak jelas itu. Jika dia menjawab, sudah pasti tuannya itu akan semakin panjang berbicara.
"Jo, kau tidak mendengarkan aku ya?!"
Lagi, Jo tidak memberikan respon apa pun.
"Bugh!" Devan meninju pelan lengan Jo.
"Ck! Sudahlah, berbicara dengan mu sama saja dengan aku berbicara dengan tembok. Tidak ada gunanya!"
Hening! Devan mungkin sudah lelah karena terus di cuekin oleh jo.
Mobil yang Devan tumpangi tampak sudah memasuki kawasan mansion mewah itu. Devan langsung turun dan masuk ke dalam, di depan pintu sudah ada pak Sam yang menyambut. Dia merasakan perubahan yang sangat signifikan, karena biasanya Bella lah yang selalu menyambut kedatangannya. Lagi-lagi Devan mengingat Bella, dia rindu istrinya itu. Tunggu! Istri, sejak kapan pria itu menganggap Bella sebagai istrinya. Hah, sudahlah.
Devan langsung menuju ke lantai 3 mansionnya, di mana di sana hanya terdiri dari ruang gym, dan ruang bersantai khusus dirinya. Devan masuk ke ruang bersantai, dirinya mengambil beberapa botol alkohol yang memang ada di rak ruangan itu. Devan terus melamun sembari menyesap minuman itu. Devan bukanlah orang yang hobi mabuk-mabukan, dia akan minum hanya jika sedang ada masalah saja.
Devan terus meneguk minuman itu hingga dirinya mabuk, Devan terus meracau memanggil nama Bella.
"Bella, di mana kau?"
"Apa seperti ini yang semua wanita lakukan pada suaminya? Heh! Ternyata semua wanita sama saja, hiks" racau Devan.
"Bella, istri ku. Ya dia memang istri ku. Istri ku yang cantik, hehe."
__ADS_1
Devan terus meracau tidak jelas, terkadang dia menangis dan terkadang juga tertawa. Aneh! Jika berada di depan orangnya, dia seolah acuh tak acuh. Tapi jika di belakang, dia seperti orang gila yang terus memanggil istrinya.
...******...
Malam harinya, pak Sam tengah memanggil Devan untuk makan malam. Pak Sam terus memanggil Devan di depan pintu kamarnya, pria paruh baya itu sudah berdiri di sana sekitar 15 menit yang lalu, tetapi tidak ada jawaban apa pun dari dalam.
"Tuan, ini sudah waktunya makan malam," kata pak Sam.
"Tuan apa anda baik-baik saja? Saya masuk ya tuan?" ujar pak Sam.
Pak Sam yang merasa ada yang tidak beres pun memberanikan diri untuk masuk ke kamar tuannya itu. Kosong! Itulah yang pak Sam.
'Mungkin sedang mandi,' batin pak Sam.
Pak Sam memutuskan untuk berdiri di samping ranjang Devan, namun sudah 5 menit tidak ada suara atau bahkan tanda-tanda Devan akan muncul. Pak Sam mendekat ke pintu kamar mandi, lalu menempelkan daun telinganya di pintu. Hening! Tidak ada suara apapun, bahkan suara hembusan napas sang tuan tidak terdengar sedikitpun, menandakan tidak ada orang di dalamnya.
Untuk memastikan, pak Sam membuka pintu kamar mandi, dan benar saja tidak ada Devan di sana. Kemana perginya sang tuan, bukankah selepas pulang dari kantor tadi Devan naik ke atas? Apakah tuannya hilang? Atau di culik? Begitu kiranya isi pikiran pak Sam.
"Pak Sam, bagaimana bisa tuan muda menghilang? Bukankah tadi sudah naik ke atas? Apakah tidak ada yang melihat tuan keluar?" tanya Jo beruntun.
Jo langsung meluncur kembali ke Mansion, saat pak Sam menelpon. Padahal dirinya baru selesai mandi dan berniat akan bersantai sejenak.
"Tidak tau tuan Jo, tadi saya melihat tuan sudah naik ke atas. Tapi saat saya panggil untuk makan malam, tuan tidak ada," jelas pak Sam.
"Kemana perginya tuan muda? Cepat cari ke seluruh mansion, periksa seluruh ruangan!" perintah Jo panik.
Seluruh pelayan berpencar mencari Devan ke seluruh ruangan, hanya lantai 3 yang belum mereka periksa. Jo memutuskan untuk naik ke lantai 3, karena bisa jadi tuannya sedang minum di sana.
Dan benar saja, kondisi tuannya sudah tepar. Matanya memang sudah tertutup, tetapi bibirnya terus meracau tidak jelas.
"Tuan," panggil Jo mendekat.
__ADS_1
"Bell-la."
"Bahkan dalam keadaan seperti ini anda selalu menyebut nona Bella, tapi sok gengsi tidak mau mengakui. Kalau sudah begini, siapa yang repot? Aku juga!" gerutu jo.
Jo memapah Devan untuk di bawa ke kamarnya, "Aduh, berat sekali dosa anda tuan."
Jo sampai sempoyongan di buatnya. Pria itu langsung membaringkan Devan di ranjang saat sudah sampai di kamar Devan. Ingin rasanya Jo menyumpal mulut Devan dengan bom agar berhenti memanggil Bella.
"Dasar, orang tua gengsian!" ledek Jo.
"Tuan jo," panggil pak Sam seraya masuk.
"Apa yang terjadi pada tuan Devan?" tanya pak Sam.
"Bella.. Bella, aku merindukan mu," racau Devan.
"Tuan mabuk, dia sepertinya merasa kehilangan nona bella. Lihat saja, sejak tadi dia menyebut nama nona Bella," sahut Jo.
"Anda benar, sejak pagi tadi tuan juga mencari nona Bella," kata pak Sam.
"Em, kira-kira kemana nona Bella pergi ya?" pak Sam terpikir, kemana nonanya itu pergi, apakah keadaannya baik-baik saja?
"Anda tenang saja pak Sam, nona Bella aman kok. Dia ada di apartemen Hendry, jangan beri tahu tuan tentang ini, biarkan dia sadar dengan perasannya itu," ujar Jo.
"Ah syukurlah, kalau nona Bella baik-baik saja. Iya tuan, saya tidak akan memberitahukannya," sahut pak Sam.
"Baiklah, kita biarkan saja tuan tidur. Mungkin dia lelah pikiran. Jika besok tuan terlambat bangun, maka biarkan saja, aku akan mengurus perusahaan besok. Kalau begitu aku akan pulang dulu," kata Jo.
"Baik tuan Jo."
Mereka meninggalkan Devan sendirian di kamar, biarlah pria itu mengistirahatkan hati dan pikirannya yang lelah, hehe.
__ADS_1