
Mobil yang membawa Bella dan Devan kini tampak memasuki pelataran mansion mewah Devan, Jo membunyikan klakson sebagai tanda bahwa mereka telah sampai. Jo menghentikan mobil tepat di depan pintu utama mansion, agar Bella tidak terlalu jauh berjalan. Terlihat di sana sudah ada papa Andra dan para pelayan yang menyambut kedatangan mereka.
Devan hendak menggendong Bella kembali, namun di tolak oleh wanita itu. Bella menepis tangan Devan yang hendak menyentuhnya, membuat Devan menekuk wajahnya. Bella turun dari mobil dan langsung di sambut oleh semua yang ada di sana.
"Selamat datang kembali nona," ucap para pelayan secara bersamaan.
Bella tersenyum lebar di buatnya, "Terima kasih."
"Selamat datang kembali di mansion sayang," ucap papa Andra yang menyambut kedatangan Bella dengan pelukan hangat seorang ayah.
"Ck! Sudah sudah. Jangan lama-lama peluknya!" Sewot Devan yang langsung merebut Bella dari sang papa, kemudian membawa Bella ke pelukannya.
"Pelit sekali kau ini Dev," ledek papa Andra.
Nathan tidak menggubris ucapan sang papa, pria itu hanya memutar bola matanya malas.
"Mas, s-sesak!" ucap Bella lirih karena kesulitan bernafas.
"Ah maaf sayang, maafkan aku. Sini aku cium biar tidak sesak lagi," ucap Devan sambil menatap lekat manik mata Bella.
Bella yang mendengar hal itu pun langsung mencubit pinggang Devan, hingga membuat sang empunya memekik sakit.
"Aaaw, aaws! Sakit sayang," keluh Devan dengan raut wajah di buat serius, matanya juga tampak berkaca-kaca.
Para pelayan yang melihat itu pun hanya bisa menahan senyum mereka, suasana rumah menjadi lebih berwarna setelah kehadiran Bella di rumah ini. Dulu, jangankan bercanda seperti ini, menjawab ketika sedang di sapa pun tidak pernah.
"Sudah-sudah, tidak usah banyak drama! Cepat bawa istri mu istirahat, dia tidak boleh kelelahan," ucap papa Andra yang langsung di patuhi oleh Devan.
"Ayo sayang."
Devan langsung menggandeng tangan bella mengajak ke kamar untuk istirahat. Sesampainya di kamar, Devan mengajak Bella untuk rebahan sebentar sembari menunggu waktu makan malam.
"Mas, Bella sudah lelah berbaring terus. Bella ingin ke dapur membuat makan malam," ucap Bella sambil berusaha melepaskan pelukan Devan.
"Tidak boleh sayang, kamu itu masih sakit!" sahut Devan penuh penolakan.
"Ya sudah, kalau begitu Bella mau mandi saja."
"Ayo mandi bersama." Dengan semangat Devan langsung bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
"Tidak mau!" tolak Bella dengan menyilangkan tangannya di depan dada.
"Hanya mandi sayang, aku tidak mungkin melakukan itu pada mu sekarang. Atau kamu ingin? Aku akan dengan senang hati memuaskan mu," goda Devan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Mas!" Wajah Bella kini sudah merah merona menahan malu.
"Sedang memikirkan apa sayang?" goda Devan lagi yang membuat wajah Bella semakin merona di buatnya.
"Mas, Bella malu!" cicit Bella yang langsung menyembunyikan wajahnya di pelukan Devan.
"Hahaha!" Gelak tawa Devan memenuhi seluruh kamar mereka.
Bella semakin menyusupkan wajahnya ke dada Devan, sedang tangannya bergerak mencubit perut Devan.
"Hmm, baiklah-baiklah. Oke sayang ku, ayo kita mandi," kata Devan yang langsung menggendong Bella kemudian di bawa ke kamar mandi.
Mereka pun akhirnya mandi bersama, hanya mandi! Karena Devan tidak mungkin melakukan yang lain-lain di saat istrinya baru saja pulang dari rumah sakit. Setelah mandi mereka kini duduk di sofa yang ada di kamar mereka, tentu saja dengan Bella yang duduk di pangkuan Devan. Pria itu tengah menyisir rambut panjang Bella, kadang sesekali pria itu menciumi rambut Bella yang memiliki wangi khas. Devan sangat menyukai aroma tubuh Bella, wanginya sangat menenangkan.
"Sudah," kata Devan yang telah menyelesaikan sesi menyisir itu.
"Ayo kita turun makan malam," sambung Devan yang hendak menggendong Bella untuk turun ke bawah, namun Bella langsung dengan cepat berdiri berjalan mendahului Devan.
Kaki Devan yang memang jenjang, dapat dengan mudah mensejajarkan langkahnya dengan Bella. pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Bella posesif.
"Mau sama apa mas?" tanya Bella.
"Terserah kamu aja sayang, apa pun yang kamu ambilkan akan mas makan," sahut Devan.
Papa Andra yang melihat keromantisan anak dan menantunya itu hanya mencebikkan bibirnya. Jika dulu dia selalu di layani seperti Bella melayani Devan, namun kini papa Andra harus mengurus kebutuhannya sendiri.
"Papa kenapa? Kenapa bibirnya seperti itu, papa kepedasan ya?" tanya Devan pura-pura polos.
Papa Andra memutar bola matanya malas, pria paruh baya itu malas menanggapi putranya yang sekarang jadi menyebalkan.
"Papa mau Bella ambilkan juga?" tanya Bella setelah meletakkan piring berisi makanan di depan Devan.
"Papa bisa ambil sendiri sayang," ucap Devan jealous.
"Mas!" panggil Bella pelan namun nadanya penuh penekanan.
__ADS_1
Devan langsung terdiam, pria itu tidak lagi membuka suara. Pria paruh baya itu tersenyum mengejek ke arah devan, sambil tangannya mengulurkan piringnya pada sang menantu.
"Mau pakai lauk apa pa?" tanya Bella.
"Terserah kamu sayang, papa suka semua kok," sahut papa Andra yang di angguki oleh Bella.
Devan langsung menghadiahi sang papa dengan pelototan, sementara sang empunya pura-pura tidak tahu.
Mereka akhirnya makan malam dalam keheningan, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan.
Setelah selesai makan malam, kini mereka tengah berkumpul di ruang tengah menemani apa menonton siaran tv. Papa duduk di sofa single, sedangkan Bella duduk di sofa panjang dengan Devan yang tidur di pangkuannya. Pria itu tengah asik dengan kegiatannya menciumi Bella terus-menerus.
"Mas sudah, ada papa di sini," ucap Bella pelan.
"Biarkan saja, papa juga sudah pernah muda. Papa sudah pernah merasakannya," sahut Devan, pria itu seakan tidak melihat keberadaan papanya.
Bella pun pasrah, dia sudah malas memberitahu Devan yang tidak ada malunya itu. Bella sesekali berbincang kecil dengan papa Andra, sedangkan Devan pria itu hanya diam sejak tadi.
"Sayang perut ku sakit," ucap Devan tiba-tiba saat merasakan perutnya seperti di lilit.
"Kenapa mas?" tanya Bella.
Tidak sempat menjawab pertanyaan sang istri, Devan sudah berlari dengan cepat ke toilet. Bella yang melihat hal itu pun menjadi khawatir, kemudian membuntuti Devan ke toilet. Wanita itu berdiri di depan pintu toilet.
"Mas kenapa?" tanya Bella dari balik pintu.
"Perut mas sakit," sahut Devan.
Tidak lama kemudian Devan keluar, pria itu memegangi perutnya yang terasa melilit.
"Sayang perut mas sakit," ucap Devan lalu kembali masuk ke toilet.
Papa Andra menghampiri Bella, "Devan kenapa, nak?"
"Sakit perut pa," sahut Bella cemas.
"Mas!" panggil Bella.
Devan membuka pintu dengan lemas, wajahnya nampak pucat menahan sakit di perutnya.
__ADS_1
"Mas, sakit perutnya?" tanya Bella yang di angguki oleh Devan.
"Devan Devan, kau ini bagaimana sih, bukannya menjaga istri mu yang masih sakit. Kau malah ikut-ikutan sakit," ledek papa Andra.