Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
satu tahun


__ADS_3

Malam hari setelah makan malam bersama, bella dan devan masuk ke kamar untuk beristirahat. Sedikit perbincangan kecil sebelum akhirnya mereka tidur.


"Berapa usia kandungan mu, sayang?" tanya devan.


"Sewaktu di new york, sudah 5 minggu," jawab bella.


"Berarti sekarang sudah 6 minggu. Jadi harus menunggu berapa lama lagi hingga dia lahir?" tanya devan, dirinya menjadi lebih cerewet sekarang.


"Sembilan bulan, mas," sahut Bella.


"Sembilan bulan? Kenapa sebentar sekali? Bukankah biasanya satu tahun ya?"


Devan kaget mendengarnya, bagaimana bisa sembilan bulan? Bukankah biasanya satu tahun? Apakah anaknya itu akan lebih cepat tumbuh dari pada bayi lainnya? Begitulah pertanyaan yang timbul di kepala devan.


"Ya karena mengandung memang sembilan bulan mas. Kalau satu tahun ya keburu anaknya kumisan," ujar bella gemas.


"Jadi, di percepat ya?" tanya devan polos.


"Tidak mas, sudah hukum alam bahwa mengandung memang sembilan bulan. Mungkin memang ada yang satu tahun," jawab Bella asal.


Devan mengangguk pelan, tapi otaknya masih berpikir. Bella yang tahu isi pikiran devan pun, hanya geleng kepala.


"Sudah mas, tidak usah di pikirkan. Nanti jika sudah waktunya, dia pasti akan lahir dengan sendirinya kok."


"Iya-iya, ya sudah sekarang kita tidur," putus devan yang menyerah karena tidak mendapat jawaban akurat.


Mereka akhirnya membaringkan tubuhnya di ranjang, untuk menuju ke alam mimpi.


"Kemari lah, biarkan aku memeluk mu," ucap Devan sembari menyodorkan lengannya untuk di jadikan bantalan kepala Bella.


Mendengar perintah suaminya, Bella beringsut mendekat, dirinya berbantalkan lengan Devan. Sangat nyaman! Itulah yang Bella rasakan.


'Jadi seperti ini rasanya tidur di peluk suami,' batin Bella.

__ADS_1


"Sudah, sekarang tidurlah!" ucap Devan sambil memeluk erat tubuh Bella.


Devan merasa senang akhirnya dirinya bisa kembali merasakan hangatnya tubuh Bella, meskipun belum bisa berbagi peluh di malam itu. Dengan tidur bersama sang istri saja sudah membuat Devan sangat bahagia.


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


Suara burung berkicauan, matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Bella mulai mengerjapkan matanya karena merasakan mual, dirinya segera bangkit dan langsung menuju ke kamar mandi. perutnya terasa seperti di aduk-aduk.


Huekk Huekk


Devan yang mendengar suara orang muntah pun meraba tempat tidur Bella, namun sang istri tidak ada. Devan langsung membuka matanya saat kembali terdengar suara orang muntah, dia langsung menuju ke kamar mandi untuk memeriksa Apakah itu Bella. Di bukanya pintu kamar mandi dan terlihatlah, Bella yang sudah terduduk lemas di kloset. wajahnya tampak pucat, bibirnya yang putih seperti mayat, namun anehnya kenapa wanita itu masih terlihat cantik.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Devan langsung mendekat


Bella hanya menggeleng pelan sambil membekap mulutnya yang kembali ingin memuntahkan cairan.


Huekk Huekk


"Masih ingin muntah?" tanya Devan yang di jawabi gelengan oleh Bella.


Devan langsung membopong Bella dan di bawanya kembali ke ranjang, di baringkannya tubuh yang sedang lemah itu di ranjang dengan sangat lembut.


"Sayang apa kamu baik-baik saja? Aku akan panggilkan dokter ya," kata Devan panik sendiri sembari sibuk mencari ponselnya.


"Tidak mas, tidak perlu memanggil dokter. ini sudah biasa kok," ucap Bella lirih dan Devan langsung menghentikan kegiatannya mencari ponsel.


Apa kata istrinya tadi? Sudah biasa? Berarti ini bukanlah yang pertama kalinya. melihat Bella yang lemah tak berdaya membuat Devan iba, apa lagi membayangkan Bella mengalami hal seperti ini di setiap harinya.


"Sudah biasa? berarti setiap hari kamu muntah seperti ini?" tanya Devan dengan mata yang mengembun.


Bella mengangguk mengiyakan


"Aku tidak apa-apa kok, ini adalah hal yang wajar di alami oleh ibu hamil. Jadi tidak perlu khawatir."

__ADS_1


Jadi Bella seperti ini karena sedang mengandung anaknya? Rasanya Devan semakin mencintai istrinya itu, Bella seperti ini karena ulah dirinya.


"Tapi sayang, kamu tetap harus di periksa oleh dokter. Aku takut terjadi sesuatu pada mu dan calon anak kita," Devan tetap kekeh ngotot.


"Tidak perlu mas, aku sudah pernah di periksa oleh dokter dan katanya ini memang hal yang wajar."


"Jadi tidak perlu memanggil dokter, hanya dengan istirahat nanti sudah membaik," sambung Bella memberi pengertian.


"Huh! Baiklah kalau begitu, aku akan menemani mu di sini."


Devan kembali berbaring di samping Bella, dia mencari minyak angin di laci nakas Devan membalurkannya ke perut Bella. Devan mengusap-usap lembut perut Bella yang masih rata, Bella pun merasakan kenyamanan saat perutnya di usap oleh Devan. Rasa mualnya sedikit berkurang hingga tanpa terasa Bella kembali memejamkan matanya kembali.


Hari sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Jo sudah menunggu Devan di bawah sejak tadi. Dirinya menunggu Devan untuk pergi meeting dengan klien, tetapi yang di tunggu-tunggu tidak kunjung menampakan batang hidungnya. Mau menelpon Devan, tetapi dirinya tidak punya nyali untuk melakukan hal itu, bisa-bisa dirinya di gantung oleh Devan karena sudah mengganggu kebersamaannya dengan Bella.


Dengan terpaksa Jo memutuskan untuk pergi meeting sendirian, tanpa Devan. Karena sang klien sudah menunggu, apa lagi ini adalah pertemuan penting jadi tidak bisa untuk di tunda.


Siang hari, Bella dan Devan sudah terbangun kembali. Mereka sudah membersihkan diri dan juga sarapan sekaligus makan siang bersamaan. Devan selalu mengikuti kemanapun Bella melangkahkan kakinya, Bella yang merasa tidak nyaman pun menyuruh Devan untuk ke kantor, namun pria itu selalu menolak dengan alasan ingin menemani Bela di rumah. Setelah beberapa kali paksaan, Devan memilih untuk ke ruang kerjanya saja. Dia akan memeriksa email dari rumah, lagi pula dia kan seorang bos jadi bisa Kapan saja datang ataupun libur begitu pikir Devan.


Sesampainya di ruang kerja, Devan bukannya melanjutkan pekerjaan yang tertunda, melainkan malah menelepon Jo.


"Halo Jo, kau di mana?" tanya Devan setelah telpon tersambung.


"Ya tuan, saya baru saja sampai di kantor," sahut Jo dari seberang telepon.


"Datanglah ke Mansion!" perintah Devan tegas dan langsung mematikan teleponnya.


Jo yang mendengar perintah mutlak sang tuan, hanya mampu menghalangi nafas panjang. Dirinya begitu lelah hari ini, sudah di buat menunggu begitu lama. Dan sekarang, baru saja dirinya menginjakkan kakinya di kantor malah sudah di perintahkan kembali untuk datang ke Mansion.


"Tadi di tunggu-tunggu tidak turun, sekarang malah memerintah dengan seenak jidatnya," gerutu Jo, namun tetap menjalankan perintah dari Devan.


Setelah beberapa saat perjalanan, Jo akhirnya sampai di Mansion Devan. Pria Jangkung itu langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja Devan, tanpa mengetuk pintu Jo langsung masuk ke dalam, karena dirinya memang sudah biasa seperti itu.


"Duduklah Jo, aku ingin membahas sesuatu hal dengan mu. Ini sangat penting," ucap Devan serius.

__ADS_1


__ADS_2