
Pagi hari, Bella terbangun dari tidurnya. Perasaanya sudah lebih baik dari yang kemarin. Bella mencoba kembali menata hatinya untuk memulai hidup baru, dia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Karena ini adalah kehancuran yang dia rasakan ke dua kalinya, setelah kepergian orang tuanya. Bella akan melanjutkan hidupnya dengan lebih baik, biarlah masa lalu menjadi pengalaman dalam hidupnya, karena yang sudah terjadi tidak akan bisa untuk kita ubah.
Bella segera beranjak dari tempat tidurnya, wanita itu langsung membersihkan dirinya. Setelahnya Bella keluar dari kamar menuju ke dapur untuk membuat sarapan untuk dirinya dan Hendry, karena semenjak ada dirinya, Hendry lebih sering tidur di apartemen dengan alasan agar Bella tidak kesepian.
"Morning cantik, mau masak apa?" tanya Hendry saat melihat Bella tengah memeriksa bahan makanan di kulkas.
"Pagi juga kak, aku mau buat Sandwich saja kak biar cepat sudah lapar soalnya hehe," ujar Bella cengengesan.
"Ya sudah, terserah kamu saja."
"Kakak mau?" tawar Bella.
"Tidak Dik, aku akan sarapan di butik saja. Oh ya, kamu mau ikut aku ke boutique tidak?" tanya Hendry.
"Untuk sekarang aku belum ingin kemana-mana kak, aku ingin menenangkan diri dulu. Mungkin bisa lain waktu," ujar Bella.
"Baiklah, apapun untuk mu, kamu bisa datang kapan saja ke butik. Setelah sarapan nanti, istirahat lah kembali aku akan bersiap-siap ke butik dulu," kata Hendry.
"Baik kak," sahut Bella.
Hendry langsung masuk ke kamarnya kembali, dia langsung mempersiapkan keperluannya di butik nanti. Rencananya Hendry akan menyelesaikan rancangan gaunnya yang akan dia bawa untuk fashion week di new york nanti.
Setelahnya Bella langsung sarapan, dia mulai bisa menikmati makanan kembali. Jika kemarin dia merasa tidak berselera makan, kini dia makan dengan lahap. Mungkin karena dia sudah berdamai dengan hatinya.
"Dik, aku pergi dulu ya. Jaga diri mu baik-baik, kalau ada apa-apa telpon aku ya," pamit Hendry pada Bella kemudian melangkahkan kakinya keluar.
"Iya kak, hati-hati di jalan," sahut bella.
Bella segera menyelesaikan sarapannya, rencananya hari ini dia akan bermalas-malasan untuk mendengarkan pikirannya yang masih terlintas Devan. Bella langsung mencuci piring kotornya, dan mengelap meja makan barulah setelah itu dia kembali ke kamar.
__ADS_1
Di balkon kamarnya, Bella duduk sembari menikmati hangatnya matahari pagi. Tatapan matanya kosong. Tetapi jauh di dalam dirinya dia sedang menguatkan hatinya untuk menjalani hidup yang lebih baik. Bukankah dulu dia orang yang tidak pernah menyerah? Dia adalah wanita yang kuat meski dulu sering di tindas oleh bibi dan sepupunya. Lalu sekarang, hanya karena Devan mengusirnya dia bersedih? Bukankah selama ini dirinya juga tau bahwa Devan memang tidak pernah menginginkannya sama sekali? Jadi untuk apa bersedih? Buktikan saja dunia jika dia adalah wanita hebat.
"Aku harus kuat! Aku masih memiliki kak Hendry yang mendukung ku, meskipun aku belum lama mengenal dia tapi aku tau dia tulus menolong ku seperti seorang kakak yang menjaga adiknya," gumam Bella menyemangati dirinya sendiri.
Cuaca sudah semakin terik, Bella memutuskan untuk masuk kembali ke kamar. Wanita itu merebahkan tubuhnya di ranjang, dia ingin mengumpulkan kembali energi agar besok dirinya sudah kembali bersemangat.
...πππππππ...
Sementara di mansion, Devan baru saja membuka matanya. Dia merasakan kepalanya berat dan berdenyut, dia melihat pakaiannya masih pakaian yang kemarin. Devan bangkit dari tidurnya, dia berjalan ke kamar mandi dengan memegangi kepalanya yang terasa berat.
Devan mengguyur tubuhnya di bawah aliran shower, dia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi padanya. Mengapa dirinya terlihat begitu kacau?
Setelah lima belas menit, Devan langsung keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya. Dia tidak ingin berlama-lama di kamar karena pasti akan teringat pada Bella.
Devan langsung berjalan menuju ke meja makan, dia meminta pak Sam untuk membuatkan sup pereda pengar akibat minum tadi malam. Dirinya sudah mendingan setelah mandi.
"Papa?!" panggil Devan terkejut karena mendapati sang papa sudah duduk di meja makan.
"Berhenti bertanya, duduklah!" perintah papa tegas.
Devan yang melihat raut tegas sang papa, hanya menurut. Karena papa Andra adalah satu-satunya orang yang tidak bisa di bantahnya.
"Makanlah dulu. Setelah itu papa akan menanyakan sesuatu pada mu," ujar papa Andra.
Devan memakan makanannya dengan ogah-ogahan, dia tidak berselera. Rasanya seperti hambar di lidahnya, dan itu semua karena dia merindukan masakan istrinya. Tetapi dia seolah pura-pura bodoh dengan perasaanya. Devan menghentikan makannya, dia merasa mual karena terus memaksa makanan itu masuk ke perutnya.
"Sudah selesai?" tanya papa Andra.
Devan hanya mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"Kenapa tidak di habiskan?" tanya papa Andra lagi.
"Aku sudah kenyang pa," sahut Devan.
"Kau sudah kenyang atau kau tidak selera dengan rasa makanannya?" desak papa Andra.
"Aku hanya sudah kenyang pa."
"Katakan saja kalau kau merindukan masakan Bella. Kau sudah cukup dewasa untuk menghadapi masalah seperti ini Dev. Berpikirlah untuk merendahkan ego mu, sebelum kau jatuh dalam lubang penyesalan yang kau buat sendiri. Papa tau kau Dev, karena papa yang membesarkan mu. Kejarlah dia, dia wanita yang tepat untuk mu. Bahkan hati mu sudah mengatakan iya, tapi mengapa kau terus menyangkalnya?" tanya papa Andra.
"Pa, aku tidak menyangkal apa pun. Aku juga tidak akan menyesali perbuatan ku," sanggah Devan.
"Kau yakin?" tantang papa.
"Tentu saja aku yakin dengan diri ku sendiri."
"Lalu, apa yang kau lakukan tadi malam? Kau mabuk dan terus-menerus memanggil Bella, apakah itu yang kau maksud?" ledek papa dengan tertawa sinis.
"P-papa jangan asal menuduh, Devan tidak pernah seperti itu," elak Devan menahan malu.
Apa? Benarkah dirinya tadi malam dirinya melakukan hal konyol itu? Seingatnya dia hanya minum sedikit dan setelah itu dia tidak mengingat apa pun lagi.
'Ck, sungguh memalukan! Itu tidak mungkin! Mau di taruh di mana muka ku jika hal itu benar adanya," gumam Devan dalam hati.
"Apa kau mau bukti? Papa bisa menunjukkan buktinya pada mu," ujar papa yang semakin senang melihat raut wajah malu putra semata wayangnya itu.
"Atau kau mau dengar rekaman suaranya saja?" tawar papa Andra yang semakin gencar menggoda Devan.
"Pa, berhenti menggoda Devan. Devan tau, itu semua tidak benar adanya?" ujar Devan menyangkal.
__ADS_1
Mendengar itu, papa Andra langsung mengeluarkan ponselnya. Dia membuka riwayat pesan Jo, ternyata Jo yang memberi tahu tuan Alandra tentang hal ini. Di sana ada rekaman video saat Devan mabuk dan juga rekaman suaranya, papa langsung memutarnya.