Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
merasa kehilangan


__ADS_3

Devan seolah tidak peduli pada ucapan Jo, tetapi hatinya sedikit terusik karenanya. Dia memutar video hasil rekaman Jo di malam itu, dia juga memeriksa cctv ruangan tengah dan terlihat di sana dirinya lah yang memaksa Bella. Padahal wanita itu sudah mencoba melawan dan berteriak meminta untuk di lepaskan. Dia juga mengingat jika malam itu memang dirinya merasakan hasrat yang sangat menggebu, dan itu karena obat per*ngsang yang di berikan oleh Nesva untuk menjebak dirinya. Tetapi ya sudahlah biarkan saja Bella pergi, dia hanyalah wanita bodoh yang berpura-pura pergi dari Devan agar mendapat belas kasihan darinya, nanti juga akan kembali dengan sendirinya. Begitulah pikiran Devan, dia terus saja menampik kata hatinya yang sudah jelas menginginkan Bella.


...*****...


Pagi hari pukul 9.00 Devan baru saja membuka matanya, dirinya hampir melupakan jika pagi itu memiliki janji temu dengan klien. Mengapa Bella tak membangunkannya? Devan bertanya-tanya. Pria itu langsung bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, dirinya sudah terlambat untuk menyambut kliennya itu.


10 menit kemudian Devan sudah selesai dengan acara mandinya. Saat dirinya keluar, pria itu tidak mendapati setelan kerjanya di tempat biasa. Kemana sebenarnya wanita itu? Bagaimana bisa dia lalai dalam menjalankan tugasnya? Itulah yang ada di benak Devan, dirinya lupa bahwa dirinyalah yang telah mengusir Bella.


"Bella! Bella di mana kau?!" teriak Devan membahana. Dia begitu marah karena wanita itu tak kunjung datang ke hadapannya, karena biasanya Bella tak pernah sampai harus di panggil seperti ini.


"S-selamat p-pagi tuan," sapa pak Sam dengan nafas tersengal saat sudah berdiri di balik pintu.


"Ck, aku tidak memanggil mu! Kenapa malah kau yang muncul, mana wanita itu, bagaimana bisa dia kembali melakukan kesalahan!" murka Devan.


"M-maaf tuan, maksud anda nona Bella?" tanya pak Sam takut-takut.


"Lalu siapa lagi?!" sentak Devan.


"Nona Bella sudah tidak ada di mansion ini tuan, bukankah kemarin tuan sendiri yang mengusir nona?" kata pak Sam.


mendengar jawaban pak Sam, Devan langsung ingat kalau dirinya lah yang telah menyuruh Bella pergi.


"Pergilah! Jangan lupa siapkan sarapan untuk ku!" ujar Devan dingin.


"B-baik tuan."


Pak Sam sedang di landa bingung, apakah dirinya akan bisa kembali melayani selera makan tuannya? Pasalnya saat di rumah sakit waktu itu, tuannya tidak lagi menyukai masakan buatannya. Karena sang tuan sudah terbiasa dengan makanan buatan sang nona.

__ADS_1


Setelah berpakaian, Devan langsung turun untuk sarapan. Baru sesuap dia makan, pria itu langsung menghentikannya.


"Makanan apa ini?!" Devan merasa bahwa makanan itu sangat tidak cocok dengan lidahnya, rasanya aneh sekali.


"Itu adalah menu makanan dari resep di buku keluarga anda tuan. Saya memasaknya dengan baik tadi," jawab pak Sam.


"Memasaknya dengan baik apanya?! Rasanya sangat buruk asal kau tau!" semprot Devan menggebu-gebu.


"Saya memang sudah memasaknya sesuai dengan resep tuan, mungkin rasanya tidak cocok di lidah anda karena anda selama ini sudah terbiasa dengan masakan nona Bella," terang pak Sam.


"Ck, berhenti menyebut wanita itu di hadapan ku! Bahkan sebelum dia datang ke rumah ini, aku selalu makan menu dari buku itu, dan rasanya selalu enak. Dan sekarang tidak enak, itu karena kau tidak lagi paham cara memasaknya," omel Devan.


"Buang makanan itu, atau kalau kalian mau makan saja. Pelajari lagi, bumbu apa yang kurang di dalamnya," saran devan.


"B-baik tuan muda," sahut pak Sam.


Di dalam perjalanan Devan melamun memikirkan, ada apa dengan dirinya sebenarnya? Kenapa hatinya merasa kehilangan sosok Bella. Dia seperti sudah bergantung pada wanita itu. Padahal dulu, pak Sam lah yang selalu menyiapkan segala kebutuhannya. Tapi lihatlah sekarang, bahkan setelan kerja yang pak Sam pilihkan nampak tidak cocok di matanya.


Devan begitu larut dalam lamunannya, pria itu tidak menyadari bahwa dirinya telah sampai di loby kantor.


"Maaf tuan, kita sudah sampai," ucap pak Arip sang sopir.


Devan langsung tersadar dari lamunannya, pria jangkung itu langsung keluar dari mobil. Terlihat Jo sudah menyambutnya di pintu lobby dengan membawa tab di tangannya. Biasanya Devan memang selalu memasang wajah dingin, tapi kali ini raut wajahnya lebih dingin dari biasanya. Devan sudah seperti harimau lepas yang siap menerkam siapa saja.


"Selamat pagi tuan," sapa Jo ketika sang tuan telah melewati dirinya, Jo mengikuti Devan dari belakang.


Devan tidak menjawab, pria itu terus melangkahkan kakinya menuju lift khusus petinggi perusahaan.

__ADS_1


"Klien kita sudah menunggu di ruang rapat tuan," kata Jo saat sudah berada di lift.


"Langsung ke ruang rapat," sahut Devan singkat.


"Baik tuan."


Jo merasa ada yang aneh dengan tuannya itu. Jo memang sudah hapal dengan tabiat Devan, tetapi biasanya Devan tidak pernah sampai seperti ini jika mereka sedang berdua. Tetapi Jo lebih memilih diam, dia mengesampingkan pertanyaan yang timbul di kepalanya. Devan sekarang tengah menjelma menjadi singa jantan.


Sesampainya di ruang rapat, Devan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia langsung mempelajari berkas yang di berikan dari pihak klien. Mereka tengah mengajukan kerja sama dengan perusahaan Devan.


"Baiklah, akan saya pertimbangkan pengajuan ini. Anda bisa tanyakan pada asisten saya tentang point kerja sama dengan perusahaan saya. Pertemuan cukup sampai di sini," ujar Devan.


"Jo, antar klien kita ke hotelnya," sambung Devan kemudian berlalu dari sana menuju ke ruangannya.


"Baik tuan," sahut Jo.


Jo sepertinya tau apa yang terjadi pada tuannya itu, ini semua pasti ada hubungannya dengan Bella. Nonanya itu memang hebat, bisa membuat Devan berubah menjadi singa jantan yang siap mengeluarkan Auman kapan saja.


Sesampainya di ruangannya, Devan langsung duduk di kursi kebesarannya. Pikirannya melayang ke masa di mana selalu ada bella di mansion, wanita yang selalu melambaikan tangannya ketika dia pergi, dan menyambutnya ketika dia pulang bekerja. Bolehkah dia memeluk bella dan menyalurkan rasa rindunya?


Baru satu hari Bella pergi meninggalkannya, Devan rasanya tak lagi mampu menampik perasaanya itu, rasa yang semakin menggebu-gebu merasakan kerinduannya pada Bella. Wanita yang penuh kelembutan dan selalu membawa hal positif dalam dirinya.


Devan mengusap wajahnya dengan kasar, pria itu begitu frustasi sekarang.


"Sial! Ada apa dengan diri ku sebenarnya?" gerutu Devan karena tak mampu mengalihkan pikirannya dari sang istri.


"Sebenarnya apa yang sudah dia lakukan, hingga mampu meracuni isi kepala ku?" sambung Devan bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2