Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
seorang kakak


__ADS_3

Bella berjalan keluar dari mansion Devan. Dia tidak menghiraukan panggilan dari pak Sam dan Jo, wanita itu seakan menuliskan telinganya.


Bella berjalan di trotoar jalan raya tanpa mengenakan alas kaki, pandangannya kosong. Dia berjalan tak tentu arah. Dia begitu terluka, harga dirinya di hina oleh orang yang telah merenggut kesuciannya. Mengapa dunia ini begitu tidak adil padanya? Orang tuanya pergi meninggalkannya untuk selamanya saat dirinya masih kecil. Sedangkan sang paman menjadikannya jaminan hutang, dan sekarang suaminya menghina harga dirinya. Apakah tidak ada kebahagiaan yang tersisa untuk dirinya? Sedikit saja, dia ingin merasakannya.


Merasa lelah berjalan, Bella menyebrang untuk ke masjid. Dia akan menenangkan pikirannya dengan beribadah. Bella menyebrang tanpa melihat kiri kanan, tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan cepat.


Tittt tittt..


"Aaaaaa," teriak Bella sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


'Apa aku sudah mati? Kenapa aku tidak merasakan apapun,' batin Bella.


"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya seorang pria pada Bella.


'Hah, kenapa ada suara laki-laki? Apakah aku sudah di surga dan bertemu pangeran?' tanya Bella yang masih belum membuka matanya.


"Nona," panggil pria itu dengan menepuk pelan bahu Bella.


"E-eh? Loh kak Hendry?" tanya Bella saat melihat orang yang berdiri di hadapannya adalah Hendry, orang yang membantunya fitting baju waktu itu.


Ada yang aneh dengan pria itu, dia tidak lagi bergaya seperti wanita. Dia terlihat tampan dan macho dengan celana panjang dan kemeja yang di gulung sebatas lengan.


"Loh Bella, kamu tidak apa-apa?" tanya Hendry.


"Saya tidak apa-apa kok kak," jawab Bella sekenanya.


"Kamu kenapa ada di sini? Kenapa menyebrang tidak hati-hati? Itu bisa membahayakan diri kamu dan orang lain loh," ucap Hendry.


Hendry merasa ada yang tidak beres di sini. Bagaimana bisa istri Devan berada di sini, apa lagi ini sangat jauh dari kawasan mansion Devan. Terlebih penampilannya yang acak-acakan, matanya yang sembab. Dia berjalan tanpa alas kaki, kakinya nampak sedikit memerah. Dia yakin gadis ini sedang tidak baik-baik saja.


"Iya kak, maaf," sahut Bella.


"Kamu mau kemana?" tanya Hendry.


"Saya tidak tau kak."

__ADS_1


Tepat sekali! Ada sesuatu yang terjadi pada gadis di hadapannya itu.


"Masuklah ke mobil, ikut dengan ku. Agar kita bisa mengobrol dengan santai," ajak hendry.


Bella mengangguk, kemudian berjalan menuju mobil Hendry. Lebih baik Bella ikut saja, lagi pula dia juga tidak tahu akan kemana. Hendry melajukan mobil menuju apartemennya, dia akan menanyakan apa yang sudah terjadi.


Sesampainya di apartemen, mereka kemudian masuk. Hendry mengajak Bella masuk ke dalam.


"Duduklah dulu, biar aku buatkan minum. Ingin minum apa?" tanya Hendry.


"Air putih saja kak," sahut Bella.


"Baiklah, tunggu sebentar."


Hendry berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, kemudian membawanya ke hadapan Bella. gadis itu langsung menghabiskannya hingga tandas.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kamu berjalan sendirian di tepi jalan?" tanya Hendry saat Bella sudah mulai tenang.


Bella menggelengkan kepalanya. Haruskah dia menceritakan semua yang terjadi pada pria ini? tampaknya pria ini sangat baik.


"Cerita lah, aku akan menjadi pendengar yang baik. Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun," ujar Hendry lagi karena tidak mendapati jawaban dari Bella.


"Dasar Devan bodoh! Lihat saja, aku pastikan kau akan menyesal nanti," gerutu Hendry geram.


Kruuuk..


Perut Bella berbunyi nyaring, wanita itu lapar saat ini. Hendry langsung menatap Bella saat mendengar itu.


"Hehe, maaf kak," ucap Bella menyengir kuda.


"Ah kamu lapar ya, ayo makan. kebetulan di kulkas ada ayam goreng tadi pagi, apa kamu mau?" tanya Hendry.


"Mau kak," jawab Bella di sertai anggukan.


Mereka kini sudah berada di meja makan. Bella makan dengan ayam goreng dengan sambal matah dan timun saja.

__ADS_1


"Maaf ya, kamu makan ayam goreng sisa tadi pagi. Kebetulan kakak belum belanja bahan dapur, dan kalau mau pesan makanan itu akan memakan waktu," sesal Hendry mengapa dirinya tidak berbelanja sejak tadi.


"Tidak apa-apa kak, sudah di kasih makan saja Bella terima kasih," sahut Bella di sela-sela makannya.


"Ya sudah makanlah."


Bella makan dengan lahap. Maklum saja dirinya tidak sarapan dan sudah berjalan dengan jarak yang cukup jauh. Belum lagi kegiatan tadi malam yang menguras energinya. Bella menghabiskan makanannya dengan cepat, karena memang dirinya sangat lapar. Dia langsung minum segelas air yang sudah di siapkan Hendry hingga tandas.


"Jadi kamu akan pergi ke mana setelah ini?" tanya Hendry setelah melihat Bella selesai makan.


Bella menggeleng pelan, "Aku tidak tau kak."


Bella bingung harus ke mana. Pergi ke rumah pamannya? itu sangat tidak mungkin. Atau kembali ke mansion Devan? Dirinya bahkan tidak ingin melihat wajah Devan lagi. Jangankan melihat wajahnya, menyebut namanya saja rasanya dia enggan.


"Tinggal lah di sini bersama ku, di sini masih ada kamar kosong satu lagi," ujar Hendry menawarkan.


"Tidak usah kak, Bella tidak ingin merepotkan," tolak Bella merasa tidak enak.


"Tidak merepotkan kok, lagi pula aku memang tinggal sendiri di sini. Aku juga lebih sering tidur di butik, jadi kadang apartemen ini kosong," jelas Hendry.


"Terima kasih ya kak, kakak baik sekali," ucap Bella tulus.


"Sama-sama, anggap saja ini rumah mu jangan sungkan."


Sejak awal pertemuan mereka, Bella sudah menduga jika Hendry ada orang yang baik. Meskipun sisi buruknya dia sering berpenampilan seperti wanita, tapi mungkin itu adalah faktor pekerjaannya. Di balik itu semua, Hendry adalah orang yang peduli pada orang lain dia seperti seorang kakak yang menjaga adiknya. Karena dia juga sejak kecil sudah sebatang kara, dia tau rasanya menjadi Bella. Tidak ada tempat untuk berteduh, tidak ada tempat untuk bersandar di kala susah. Dia bisa sukses mendirikan butik adalah dari hasil kerja kerasnya.


Hendry mengajak Bella ke kamar, agar gadis itu bisa membersihkan diri dan beristirahat.


"Ini kamar mu, bersihkan diri mu dan istirahat lah. Di lemari ada pakaian, kamu bisa memakainya itu semua dress rancangan ku," kata Hendry menunjukkan kamar Bella.


Hendry yang memang seorang desainer memiliki banyak baju di apartemennya. dia menyimpannya sebagai koleksi.


"Baik, kak. Terima kasih," ucap Bella.


"Berhenti mengucapkan terima kasih. Belum satu jam kita bertemu, dan kamu sudah mengucapkan itu lebih dari 10 kali, apa kamu tidak lelah," canda Hendry.

__ADS_1


"Hehe, tidak kok kak. Kalau begitu Bella masuk dulu ya kak," pamit Bella.


"Masuklah, setelah itu istirahat,"


__ADS_2