
"Kakak sudah makan?' tanya dokter Vita setelah sampai di dekat mereka berdua.
"Belum, paman sudah Kakak beri obat. Sepertinya dia sudah tertidur," sahut Eva.
Setelah perbincangan mereka tadi, Eva menyuapi Paman Isa makan, dan setelahnya memberikan obat. Dan ternyata obat itu mengandung obat tidur dan jadilah Paman Isa yang sekarang tertidur, karena tidak mampu menahan rasa kantuk yang menyerang.
"Paman? Apa maksud kakak? Bukannya tadi kakak memanggilnya tuan," tanya Dokter Vita bingung.
"Beliau adalah adik kandung dari ibu ku, dan dialah yang telah merawat adik ku sedari kecil dulu, dan sekarang dia sudah menikah. Dulu satu-satunya keluarga kakak hanyalah kamu, dan sekarang kita bertemu dengan keluarga yang lainnya," ujar Eva.
"Apa? Jika seperti itu berarti keberadaan Kakak di sini sangatlah berbahaya. Jika sampai bos mereka datang ke sini, maka itu akan menjadi bahaya besar. Karena bisa jadi bos mereka mengenal Kakak juga, aku takut terjadi sesuatu pada kakak," ucap dokter Vita khawatir.
"Ya, yang kamu ucapkan itu memang benar. dia tentu sangat mengenal kakak karena dia adalah paman ku juga, Paman angkat. Dia adalah anak pungut," kata Eva dengan pandangan kosong.
"Jika seperti itu lebih baik Kakak pulang saja, aku akan meminta keponakan Paman itu untuk segera menjemputnya."
"Ya kamu benar, katakan pada Bella untuk segera menjemput Paman Isa."
"Baik kak, nanti akan aku hubungi lagi," sahut dokter Eva.
Mereka berdua pun mengemasi barang-barang mereka, dokter Eva juga melepas suntikan di tangan Paman Isa, berhubung sudah satu kantong darah habis jadi kondisi paman Isa sudah lebih baik. Vita harus sesegera mungkin membawa kakaknya itu pergi dari sana, atau sesuatu yang buruk akan terjadi. Sebelum pergi, dokter Eva membangunkan Arul dan Kemal terlebih dahulu untuk memantau keadaan Paman Isa.
Setelahnya mereka berdua langsung memasuki mobil untuk kembali ke rumah dinas, saat di perjalanan dokter Eva begitu penasaran, dan ingin menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
"Kakak yakin jika Paman itu adalah paman kakak?" tanya dokter Eva saat sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya itu.
"Kakak sangat yakin, lagi pula kejadian waktu itu hanya membuat Kakak kritis, tapi tidak amnesia kan? tentu saja Kakak yakin," jelas Eva.
"Aku hanya takut kakak salah orang dan itu bisa membuat Kakak dalam bahaya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal pun kepada kakak lagi, aku juga takut kehilangan kakak," kata dokter Vita dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Flashback on
Saat Eva membuka matanya suasana tampak asing di Indra penglihatannya, wanita itu memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"Aku di mana?" lirih Eva mengamati suasana ruangan itu.
Wanita itu mencoba mengingat apa yang sudah terjadi padanya hingga dia berada di tempat asing ini. Eva mengingat bahwa dirinya, Bella kecil, ayah dan ibunya akan pergi jalan-jalan ke puncak. Namun saat perjalanan pulang, mobil mereka di serempet oleh orang yang berusaha mencelakai mereka. Ayah Hadi yang saat itu mengemudikan mobil tidak mampu menghindari mobil itu, sehingga terjadilah mobil mereka masuk ke jurang. Ayah Hadi dan ibu Rita meninggal dunia, sedangkan Bella terlempar agak jauh dari bangkai mobil namun masih selamat. Dan Eva tidak di temukan keberadaanya, semua orang mengira bahwa Eva telah meninggal juga, namun keajaiban tuhan ada seseorang yang menyelamatkannya.
"Nak," panggil seorang wanita tua yang baru saja masuk.
"Kamu siapa?" tanya Eva.
"Aku ibu mu," jawab wanita itu.
Eva menggelengkan kepalanya, "Tidak, kamu bukan ibu ku."
"Aku memang bukan ibu kandung mu, tapi ada bagian tubuh anak ku di dalam tubuh mu," jelas wanita itu.
"Aku menemukan mu dalam kondisi yang memprihatinkan, saat mencari bahan obat-obatan. Jadi aku membawa mu untuk memberikan pertolongan, dan sumsum tulang belakang mu rusak. Dan anak pertama ku yang telah mendonorkannya untuk mu, kini dia sudah tiada," jelas wanita itu.
"Dia tiada karena aku?" tanya Eva.
"Tidak, dia memang sudah mengidap kanker stadium akhir, umurnya sudah tidak lama lagi. Jadi dia meminta ku untuk mendonorkan tulang sumsumnya untuk mu," kata wanita itu.
Wanita itu bernama Lina, dulunya dia adalah seorang dokter. dan sekarang sudah pensiun, kini wanita tua itu sudah sakit-sakitan namun masih memaksakan diri untuk menolong Eva. Karena menurutnya dia masih mampu menolong Eva.
Eva terdiam mendengarnya, jadi kecelakaan itu membuat tulang sumsumnya sampai rusak. Lalu bagaimana kondisi ayah, ibu dan adiknya?
"Aku di mana?" tanya Eva.
__ADS_1
"Kamu sekarang ada di rumah sakit."
"Siapa nama anda?" tanya Eva lagi.
"Nama ku Lina, dan aku masih memiliki satu orang anak lagi. Aku ingin menitipkannya pada mu," kata wanita itu.
"Menitipkannya pada ku? Memangnya kenapa, anda akan ke mana?" tanya Eva.
"Aku memiliki penyakit yang tidak di ketahui oleh putri ku. Aku sengaja menyembunyikan hal ini darinya, umur ku juga hanya sebentar lagi. Dan ketika aku pergi nanti, aku mohon jaga putri ku dan anggaplah dia sebagai adik mu."
"Lalu di mana dia?"
"Dia akan segera ke sini setelah pulang sekolah."
"Ini milik mu?" tanya wanita itu sambil mengeluarkan kalung dari sakunya.
Eva menerimanya, lalu wanita itu membuka liontinnya dan terlihatlah foto keluarga kecil mereka yang tengah tersenyum bahagia.
Dan setelah beberapa bulan Eva di nyatakan sembuh, Ibu Lina yang telah menolongnya itu meninggal dunia. Dia juga sudah berjanji pada Ibu Lina bahwa Eva akan menjaga Vita yang saat itu masih remaja. Dan akan menganggapnya seperti Adiknya sendiri. Dia juga mendengar kabar bahwa ayah dan ibunya telah tiada karena kecelakaan itu, sedangkan Bella di rawat oleh paman Isa.
setelah kejadian itu Eva memutuskan untuk memulai hidup baru berdua bersama Vita, karena sangat berisiko jika dirinya kembali orang-yang berniat jahat kepada keluarganya, pasti akan menemukannya. Dan itu bisa membuatnya kembali celaka, meski hatinya sangat ingin kembali bertemu dengan adiknya, tapi Eva memilih untuk mengumpulkan kekuatan, agar bisa membalas orang yang telah tega mencelakai keluarganya. Dan kini Eva sudah memiliki kuasa untuk melawan orang itu, Karena dia sudah memiliki uang yang banyak dari hasil kerjasamanya bersama vita.
Flashback off
"Kita sudah sampai, lebih baik Kakak istirahat ya," ucap dokter Vita.
"Baiklah kalau begitu, setelah kembali dari klinik temui kakak di kamar ya. Ada yang ingin Kakak bicarakan dengan mu," ujar Eva menatap lekat wajah Vita.
"Baik Kak, kalau begitu Vita berangkat dulu ya." Vita yang langsung kembali memasuki mobilnya, dan meninggalkan pelataran rumah mereka.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak meminta nomor Bella pada Vita tadi, aku sangat merindukan adik ku. Ah ya sudahlah, nanti saja tunggu Vita pulang," gumam Eva yang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.