Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
senjata makan tuan


__ADS_3

Mereka berdua turun untuk makan malam. Devan lebih dulu keluar lalu di ikuti Bella di belakangnya.


Sesampainya di meja makan, Devan melihat menu makan malam yang begitu menggugah selera. Dari aromanya saja sudah sangat enak, apa lagi rasanya. Hanya dengan menatapnya saja sudah membuat Devan lapar.


Setelah tadi siang di izinkan untuk mengambilkan makanan untuk Devan, kini Bella pun mulai mengambilkan lagi. Devan langsung memakan makanannya dengan lahap, dia tidak peduli keberadaan Bella di sana. Yang ada di pikirannya sekarang adalah dia harus menikmati makanan ini.


Kali ini Bella menyelesaikan makannya lebih cepat dari Devan, "mas saya sudah selesai, saya akan ke ruang belajar dulu," ujar Bella.


"Hem," sahut Devan acuh.


Bella melangkahkan kakinya menuju ke ruang belajarnya. Dia akan mempelajari cara-cara memimpin perusahaan, karena dirinya harus memimpin perusahaan peninggalan mendiang orang tuanya.


Bella menatap fokus pada layar laptopnya, dia tengah membaca kajian memimpin perusahaan yang baik. Lama kelamaan Bella merasa mengantuk dirinya terus saja menguap, dia meletakkan kepalanya di atas meja. Dan tertidur dengan sendirinya.


Pukul delapan malam, Devan tengah bersiap-siap untuk pergi menemui kliennya. Sesuai pinta dari sang klien yang meminta bertemu pukul delapan. Setelah selesai bersiap-siap Devan segera keluar dari kamar. Dia berjalan melewati ruang belajar Bella yang memang tidak jauh dari kamar mereka berdua. terlihat pintunya sendiri terbuka, nampak Bella sepertinya tengah tertidur. Devan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam, dia lebih memilih melanjutkan langkahnya keluar dari mansion.


Sesuai keinginan kliennya, Devan pergi mengendarai mobilnya sendiri. Sedangkan para anak buah mengikuti dari kejauhan, agar tidak terlihat mencurigakan.


Devan sampai di depan club tepat pukul delapan malam. pria itu memberi kode pada anak buahnya melalui tangan, maksud dari kode itu adalah agar jangan terlalu mencolok. Setelah di rasa sudah, Devan berjalan memasuki club.


Dia memasuki ruangan yang sudah di beritahu Jo tadi, terlihat kliennya belum datang.


"Ck, membuang waktu!" gerutu Devan kesal.

__ADS_1


Pasalnya Devan adalah orang yang sangat disiplin waktu, dan Devan sangat benci menunggu. Karena biasanya orang lah yang mengunggu dirinya.


"Kenapa lama sekali? Ini bahkan sudah pukul delapan lewat 5 menit," tanya Devan kesal pada Jo lewat alat komunikasi yang di pasang di belakang telinga Devan. Alat itu sangat kecil, jadi tidak akan ada yang curiga.


Tak lama kemudian, pintu ruangan di buka dari luar. Tampak seorang pria yang mungkin seumuran dengan Devan.


"Maaf tuan Devan saya terlambat, tadi ada sedikit kendala di depan," ucap klien itu.


"Hem." Devan hanya berdehem.


Mereka berdua sangat serius membahas kerja sama antara kedua perusahaan mereka.


Sementara di ruangan lain, Nesva tengah menginstruksi pelayan club untuk memasukkan serbuk putih di minuman Devan. Ada alkohol dan jus yang di siapkan untuk di bawa ke ruang meeting. Dan apa yang di lakukan oleh Nesva, tidak luput dari pengawasan anak buah Devan.


Setelah memastikan pelayan mengantarkan minuman itu, Nesva langsung memasuki kamar di lantai atas yang sudah dia booking. Dia akan menyambut Devan di dalam sana, dia sudah tidak sabar akan menghabiskan malam bersama dengan Devan.


Suasana di dalam ruang rapat Devan sangatlah tegang, karena keduanya adalah orang yang kaku dan dingin. Pelayan datang dengan membawa minuman. Pelayan menyuguhkan minuman itu di hadapan mereka masing masing, ada 2 pilihan minuman di sana.


"Silahkan tuan," kata pelayan itu kemudian keluar dari ruangan.


Klien Devan hendak menuangkan alkohol untuk Devan, tetapi dia menolak dengan alasan dia baru saja pulih dari sakit. Dan sang klien pun memaklumi, karena dia juga mendengar berita tentang kondisi Devan beberapa hari ke belakang.


Devan meminum jus itu, bersamaan dengan Jo yang mengabarkan jika minuman itu sudah di campuri obat oleh Nesva. Terlanjur, Devan sudah menelan jus itu meskipun hanya sedikit. Ternyata minuman yang di campuri obat adalah jus, sepertinya Nesva sudah memperkirakan jika Devan akan meminum jus karena kondisinya belum pulih.

__ADS_1


Devan merasa badannya tidak nyaman, dia mulai kegerahan padahal ada AC di sana. Devan berusaha fokus kembali pada perbincangan mereka, namun semakin lama badannya semakin tidak terkontrol. Hawa panas menyeruak dan tiba-tiba dia terbayang wajah manis Bella. Devan tahu ada yang tidak beres dengan tubuhnya pun pamit untuk pulang dengan alasan tidak enak badan. Sang klien pun hanya mengangguk mengiyakan tanpa bertanya ada apa.


Devan keluar dari ruangan dengan berpegangan pada dinding, Devan berjalan sempoyongan dengan mata yang mulai kabur, dia berusaha untuk tetap sadar. jangan sampai dirinya lemah dan malah akan di manfaatkan oleh orang yang bisa merugikan dirinya. Devan harus segera keluar dari club itu, karena Jo sudah menginstruksi bahwa Jo sudah menyiapkan mobil tepat di depan pintu masuk club.


Setelah keluar dari club itu, Devan langsung masuk ke mobil di mana sudah ada Jo yang duduk di kursi kemudi.


"Ceroboh, bagaimana bisa kalian melakukan kesalahan!" semprot Devan.


Devan membuka jasnya, kancing kemejanya pun sudah terlepas semua. Dia benar-benar merasa tersiksa dengan kondisi tubuh yang seperti ini.


"Tunggu hukuman kalian besok!" ancam Devan.


Meskipun sedang di landa panas, Devan masih memiliki tenaga untuk memarahi Jo. Sedangkan Jo, dia tidak menjawab apapun, dia tau dirinya telah melakukan kesalahan kali ini.


Sementara di kamar club, Nesva sudah siap menyambut kedatangan Devan. Lampu kamar sengaja dia matikan, agar puas menghabiskan waktu bersama Devan. Tidak lama kemudian pintu kamar di buka dari luar, tampak seorang pria masuk. Dia berperawakan tinggi, sama persis dengan tubuh Devan. Tetapi itu adalah orang yang telah di bayar oleh anak buah Devan, untuk menyamar sebagai Devan.


"Kemari lah sayang ku, mari kita habiskan malam ini bersama. Aku sudah siap," ujar Nesva yang sudah kegirangan melihat orang itu.


Nesva tidak curiga sama sekali, karena kalau di lihat dari tinggi badannya itu adalah Devan. Dia yakin itu.


Lelaki itu hanya diam, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pria itu mendekati Nesva, dan mengikuti setiap permainan itu. Suara ******* memenuhi kamar itu, mereka berdua melakukannya secara berulang-ulang. Nesva merasa begitu puas malam ini, dia juga sangat senang, karena yang dia tau dia melakukannya dengan Devan. Padahal itu adalah orang suruhan yang tidak dia kenal sama sekali.


Setelah sama-sama puas, mereka menyudahi permainannya dan tertidur hingga pulas.

__ADS_1


__ADS_2