Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
luka


__ADS_3

Kini Bella dan Devan turun ke bawah untuk sarapan yang sudah terlewat, saat melewati ruang keluarga, terlihat papa Andra yang tengah bersantai menonton siaran televisi di pagi hari.


"Selamat pagi Pa," sapa Bella.


"Pagi nak, lebih tepatnya pagi menjelang siang," gurau Papa Andra.


"Pergilah kalian belum sarapan bukan," ujar Papa Andra.


Bella mengangguk, kemudian mereka berjalan ke ruang makan. Sesampainya mereka di meja makan Bella langsung mengambil piring devan dan mengisinya dengan makanan, yang sudah di siapkan oleh Pak Sam. Setelah selesai, Bela langsung menghidangkannya di hadapan Devan.


"Selamat makan," ucap Bella.


"Terima kasih sayang," ucap Devan sambil tersenyum manis. Bella membalasnya dengan senyuman juga.


Mereka menikmati sarapan pagi mereka yang tertunda, mereka makan dalam keheningan. Karena memang Devan selalu menerapkan bahwasanya tidak boleh berbicara ketika sedang makan. Jadi hal itu hal yang penting di terapkan.


Setelah selesai makan, Bella langsung membereskan meja makan dan juga mencuci piring kotornya. Sedangkan Devan, pria itu bergabung dengan sang Papa, menonton siaran televisi di ruang keluarga.


"Sudah puas melepas Rindunya, son?" tanya papa Andra.


Devan menoleh dengan memicingkan matanya, "Papa ini seperti tidak pernah muda saja," ejek Devan.


"Tentu saja Papa pernah merasakan muda, makanya Papa tahu rasanya bagaimana," sahut Bapak Andra dengan di iringi gelak tawa.


"Ck, orang tua!" ejek Devan lagi.


Bella yang telah selesai bereskan meja makan, pun ikut bergabung bersama kedua pria beda generasi itu. Dia duduk di kursi panjang dekat Papa Andra. Devan yang melihat hal itu pun menjadi kesal, kenapa istrinya itu malah duduk di dekat Papanya? Kenapa tidak duduk di sampingnya saja? Padahal kan masih ada tempat kosong di sampingnya. Begitulah pikiran Devan ketika di landa rasa cemburu.


"Sayang kenapa duduk di situ? Cepat ke sini," perintah Devan.


"Eh, memangnya kenapa?" tanya Bella bingung.


Raut wajah Devan tampak kesal mendengar ucapan sang istri, Kenapa katanya? yang suaminya itu sebenarnya dia atau Papanya sih.


"Sayang suami mu itu aku, bukan Papa! Jadi harusnya kamu itu duduk di samping ku, bukan malah di sana," ucap Devan kesal.


Papa Andra yang mendengar ucapan putranya itu, hanya menggelengkan kepalanya, "Ya ampun son bahkan dengan papa mu sendiri kau cemburu buta? dulu bahkan Papa selalu duduk dekat Bella, tapi kamu tidak cemburu!Tapi sekarang kenapa kamu berlebihan seperti ini?" ledek Papa Andra.


Devan langsung memutar bola matanya, malas, mendengar ejekan Papanya Itu. Pria itu bangkit dari duduknya berjalan ke arah sang istri

__ADS_1


Ayo Papa pindah di sebelah sana saja usir Devan


Tidak mau lagi pula kan Papa yang lebih dulu duduk di sini "laut, apa!" Andra yang meladeni kegilaan putranya itU.


Devan langsung menarik tangan Papa Andra, kemudian di dudukannya di kursi tunggal. Papa Andra yang heran pun menepuk pelan lengan Devan yang terkena tembakan itu, sehingga luka itu kembali mengeluarkan darah. berhubung Devan mengenakan baju berwarna abu-abu membuat darah itu terlihat sedikit jelas.


Setelah mendudukkan Papa Andra di sofa tunggal, pria itu kembali mendekati sang istri, dan langsung membaringkan tubuhnya di samping sang istri dengan menjadikan paha Bella sebagai bantal.


Tanpa di sengaja Bella melihat noda darah di lengan sang suami, "Sayang ini kenapa?" tanya Bella.


"Apa sayang?" tanya Devan balik.


Tanpa menjawab, Bela langsung membuka lengan kaos yang di kenakan oleh Devan. Terlihat luka yang di perban itu mengeluarkan darah, "Ini kenapa?" tanya Bella lagi.


"Tidak apa-apa, hanya luka kecil. Tidak sakit kok," jawab Devan.


Bella langsung menekan luka itu dengan sedikit keras, membuat sang empunya memekik pelan.


"Awsss," ringis Devan.


"Tidak sakit?" tanya Bella.


"Kalau sakit pasti aku tidak akan kuat bercinta dengan mu tadi," jawab Devan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Aku tidak apa-apa sayang, buktinya Aku tidak mati kan," ucap Devan yang langsung mendapat pukulan kecil dari Bella.


"Bicara yang benar! Aku tidak suka mendengarnya," ucap Bela cemberut


"Iya sayang maaf, sudah ya jangan cemberut terus. Aku tidak tahan melihatnya, jangan sampai aku memakan mu lagi," kata Devan mesum.


"Hem!" dehem papa Andra yang tidak di anggap keberadaanya.


"Ck, mengganggu saja," gerutu Devan.


"Mas!" peringat Bella.


"Iya sayang, maaf," ujar Devan.


"Papa akan ke kamar," ucap papa Andra yang langsung bangkit dari tempatnya duduk, dia tidak ingin mengganggu kemesraan putra dan menantunya itu.

__ADS_1


setelah kepergian papa Andra, Bella bangkit untuk mengambil kotak p3k untuk mengobati luka Devan yang kembali mengeluarkan darah.


"Apa itu?" tanya Devan ketika melihat Bella membawa kotak p3k.


"Sini," perintah Bella yang langsung di patuhi oleh Devan.


Bella membuka perban yang membalut luka di lengan Devan dengan perlahan, dia membersihkan darahnya. Lukanya cukup dalam, Bella tahu bahwa ini pasti sangat sakit. Dengan telaten Bella membersihkannya kemudian setelah selesai, dia mengoleskan salep agar lukanya cepat kering. Devan memperhatikan apa yang di lakukan oleh sang istri, wajah istrinya itu tampak serius karena khawatir. Devan jadi merasa gemas melihatnya, ingin sekali dia kembali menerkam istrinya itu.


"Oh betapa beruntungnya aku," kata Devan tiba-tiba sambil mencolek dagu Bella dengan tangan satunya.


"Apa?"


"Aku harus berterima kasih pada Tuhan, karena telah dengan baiknya dia mengirimkan bidadari cantik yang begitu baik untuk ku," kata Devan puitis.


"Jangan banyak gerak, aku belum selesai memasang perbannya," omel Bella.


"Aku kan masih hidup sayang, jadi wajar saja kalau aku banyak gerak. Kalau sudah mati baru aku diam saja," sahut Devan nyeleneh.


"Mas diam deh." Bella memarahi suaminya itu.


"Love you sayang, muach!" ucap Devan.


"Aku sudah tau," jawab Bella.


"Masa jawabnya begitu, tidak asik sekali istri ku ini. Aku mencintai mu dengan tulus tapi apa yang aku dapatkan?" Devan seperti aktor yang tengah memainkan drama.


Bella hanya diam, dia malas menyahut karena tidak akan ada habisnya. Sepertinya luka itu membuat urat saraf Devan menjadi tegang, sampai-sampai pria itu jadi agak berbeda.


"Sayang kenapa diam saja? Ayo jawab," desak Devan.


"Apa?" jawab Bella acuh.


Devan tampak memberengut kesal, "Jawab dulu sayang!"


"Sudah selesai," kata Bella yang langsung membereskan kotak p3knya.


"Sayang ku!" rengek Devan.


"Apa sayang ku?" Bella langsung mengecup bibir Devan singkat, membuat pria itu mengembangkan senyumnya.

__ADS_1


"Peluk," kata Devan sambil merentangkan kedua tangannya.


Bella langsung memeluk suaminya yang manja itu, Bella serasa mempunyai bayi besar sekarang.


__ADS_2