
Pagi harinya, mansion Devan terasa lebih ramai dari biasanya. Karena mereka kedatangan anggota baru, yaitu Eva dan paman Isa. Jika biasanya mereka sarapan hanya bertiga, kini mereka akan saparan berlima. terutama Bella, dia begitu bahagia karena keluarganya kembali berkumpul.
"Selamat pagi," sapa Bella saat dirinya tiba di ruang makan, dan semua orang sudah di sana menunggu kedatangannya dan Devan.
"Selamat pagi juga," jawab mereka bersamaan.
"Pagi nak, ayo duduk," sahut papa Andra.
Bella langsung duduk di kursi dekat paman Isa, dia tidak duduk di kursi yang biasanya, dia duduk dengan tenang di samping sang paman.
"Di mana Devan?" tanya papa Andra.
"Dia sebentar lagi turun kok pa, tadi dia sedang mandi. Bella turun duluan karena Bella sudah tidak sabar akan sarapan bersama kalian," ucap Bella sambil menyengir kuda.
mendengar hal itu, papa Andra hanya tersenyum saja. Dia bisa memaklumi bahwa menantunya itu begitu merindukan keluarganya.
"Ada-ada saja kamu ini, lain kali jangan seperti itu ya. Tunggu suami mu dulu, pastikan dia sudah selesai baru setelahnya turun bersama," ucap Paman Isa menasehati.
"Iya paman, lain kali tidak lagi kok," jawab Bella.
Tidak lama kemudian, Devan turun sudah dengan penampilan yang sudah rapi. Setelan kerja yang di pilihkan Bella tadi, sangat pas di tubuhnya yang kekar.
"Sayang!" Panggil Devan setelah sudah dekat dengan meja makan.
Pria itu tampak menekuk wajahnya, dia merasa tidak lagi di sayang oleh istrinya itu.
Bella menoleh saat mendengar panggilan dari sang suami, "Sini Mas kita sarapan," ajak Bella.
__ADS_1
"Sayang kenapa tidak menunggu mas dulu? Kenapa mas di tinggalin?" tanya Devan dengan wajah cemberut.
"Em, itu... Tadi kata mas, iya duluan aja," jawab Bella asal.
"Kapan?" tanya Devan mengerutkan keningnya.
"Tadi pas mas di kamar mandi," jawab Bella.
"Mas tidak dengar tuh, kamu bohong ya?" Devan kembali menekuk wajahnya masam.
"Sudah-sudah, jangan bermesraan di depan umum seperti ini. Kalian tidak kasihan apa, dengan yang jomblo ini?" kata papa Andra melerai perdebatan lucu sepasang suami istri itu.
"Ini di mansion pa, bukan di tempat umum!" jawab Devan.
"Duduk," perintah papa Andra yang langsung di patuhi oleh putranya itu.
"Sayang, kenapa kamu duduk di sana? Itu bukan tempat mu. Kemari," perintah Devan.
"Sayang, hanya hari ini saja. Boleh ya? Aku ingin di suapi paman," ucap Bella memohon.
"Tidak! Kemari, aku yang akan menyuapi mu," Devan menepuk pahanya meminta Bella duduk di sana.
"Sayang ku mohon, hanya kali ini saja. Ya ya ya?" bujuk Bella dengan menampilkan puppy eyes nya.
"No! Sekali tidak tetap tidak," jawab Devan mutlak tidak bisa di bantah.
"Mas ini keinginan anak mu loh, nanti kalau tidak di turuti bisa-bisa dia ileran. Kamu mau anak kita ileran?" Bella tetap kekeh.
__ADS_1
"Turuti saja lah Dev, lagi pula hanya sekali Ini saja. Itu tidak mungkin menjadi masalah, kan?" ujar Papa Andra.
"Tetap tidak boleh, aku tidak menerima alasan apapun! Lagi pula aku daddynya, kenapa tidak minta di suapi oleh ku saja?" jawab Devan.
"Ah, sayang tidak asik!" ucap Bela sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
"Kemari atau aku yang ke sana?" kata devan lagi.
"Sudah nak, sana. Patuhi perintah suami mu, lagi pula Paman bisa menyuapi mu kapan-kapan lagi kan," Kata paman Isa.
"Iya."
Bella langsung duduk di samping suaminya itu, namun di tahan oleh Devan. Pria itu menarik pelan tangan Bella, kemudian membawa Bella duduk di pangkuannya. Bella yang di perlakukan seperti itu di depan keluarga pun menjadi malu, wajahnya memerah menahan malu.
"Sayang malu," cicit Bella.
"Tadi katanya mau di suapi, jadi duduk di sini akan memudahkan ku menyuapi mu sayang," ucap Devan.
"Aku duduk sendiri saja, aku juga tidak jadi minta di suapi. Sudah tidak ingin," kata Bella.
"Sudah terlambat."
Devan tidak memperdulikan istrinya yang kesal, dia terus memangku Bella. Dan saat mereka mulai makan pun Devan menyuapi istrinya itu dengan telaten, pria itu begitu fokus menyuapi istrinya.
Bella mati-matian menahan malu di depan keluarganya, rasanya dia harus menebalkan muka di hadapan mereka semua. Kenapa suaminya itu begitu menyebalkan? Bucin boleh saja, tapi harus tahu tempat juga, kan?
Semua yang ada di sana hanya tersenyum melihat kemesraan dua sejoli itu, mereka bahagia karena keduanya tampak saling mencintai.
__ADS_1