
"Bella," panggil Eva lirih.
Eva hendak bangkit untuk menghampiri Bella, namun tangannya di cekal oleh Vita.
"Vita lepas," ucap Eva yang hendak menghampiri Bella.
"Tidak akan! Kau akan aku lepaskan kalau Devan mau menikahi ku!" ujar Vita penuh penekanan.
Vita langsung menarik tangan Eva, membawanya ke tepi pagar balkon. membuat mereka semua khawatir jika wanita itu akan mendorong Eva.
"Vita kau gila!" bentak paman Isa marah.
"Ya aku gila! aku gila karena devan! Aku akan melepaskan wanita ini jika kau memberikan suami ku untuk ku! Jika tidak aku akan mendorong dia, biarkan saja dia mati!" ancam Vita sambil menunjuk ke arah Bella.
Bella dengan tenang menatap wanita yang menginginkan suaminya itu, "Aku tidak akan pernah menyerahkan suami ku pada mu! Aku ke sini hanya untuk menjenguk paman ku, tidak untuk melakukan barter dengan siapapun!" ucap Bella tegas.
"Apa kau tau? Dia adalah kakak kandung mu, apa kau tidak merindukannya?" kata Vita.
"Tentu saja aku merindukan saudara ku," jawab Bella santai.
"Tepat sekali, jika kau ingin kembali bersama dengan kakak mu, maka berikan Devan untuk ku! Aku akan dengan suka rela membiarkan kau dan kakak mu ini tinggal bersama, asal devan menjadi milik ku," tawar Vita, wanita itu tersenyum penuh kemenangan karena mengira Bella tidak ada pilihan lain.
"Vita kau jangan gila! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, aku rela mati asalkan Bella tetap bersama suaminya," ucap Eva lantang.
__ADS_1
"Semua keputusan ada pada adik mu, kakak!" sahut Vita penuh penekanan.
Mereka semua terdiam, mereka menunggu jawaban apa yang akan Bella berikan. Sedang Bella, dia tetap tenang. Dia tidak akan terkecoh oleh pilihan yang di berikan oleh wanita itu.
"Kamu bisa memberikan pilihan itu pada ku, hanya saja sepertinya itu tidak akan berlaku untuk suami ku. Tanyakan saja pada orangnya langsung, apakah dia mau dengan mu atau tidak. Sepertinya suami ku tidak tertarik pada mu," ucap Bella santai.
Mendengar jawaban Bella, membuat Vita semakin marah. Dia merasa bahwa Bella begitu sombong! Vita kembali menarik tangan Eva kemudian hendak di dorong ke bawah.
"Vita lepaskan!" teriak Devan.
"Aku tidak akan melepaskannya, sebelum kau menceraikan wanita itu dan menikah dengan ku! Atau jika kau tidak mau bercerai dengannya, kau bisa menjadikan aku istri ke dua," kata Vita dengan tersenyum ke arah devan, yang membuat pria itu geram.
"Dasar wanita gila! Sekali pun kau memaksa ku, aku tidak akan sudi menikahi mu. Istri ku hanya Bella, hanya Bella!" tegas Devan menggebu-gebu.
Kemudian Bella berjalan mendekati Eva dan Vita, membuat Devan khawatir jika wanita itu melakukan hal buruk pada Bella.
"Vita, ya nama mu Vita, kan? Aku tau kamu memiliki sifat yang sedikit buruk, kamu ingin mengatur semua orang sesuai keinginan mu kan? Kamu ingin semuanya berjalan sesuai kehendak mu, ya kan? Tapi Vita, perlu kamu ketahui bahwa semua itu tidaklah benar. Kamu harus bisa menerima semuanya sesuai takdir, dan takdir itu akan mempertemukan mu dengan lelaki yang mencintai mu dengan tulus nantinya. Tapi bukan suami ku Devan, karena dia hanya milik ku," ucap Bella yang tetap tenang sejak tadi.
Sementara Devan, berjalan pelan mendekati sisi lain Vita, karena wanita itu sedang lengah.
Sedangkan Vita wanita itu menjadi semakin marah, karena mendengar ucapan Bela. Dia tidak terima diperlakukan buruk seperti ini karena menurutnya Devan adalah miliknya seorang dia tidak akan membiarkan siapapun memilih, tidak akan, kecuali dirinya. Sudah bisa membaca gelagat Vita pun langsung memukul tengkuk kepala Vita membuat wanita itu langsung tersungkur ke bawah Eva langsung berlari ke arah Paman Isa
Brugh!
__ADS_1
"Shhh," rintih Vita.
Jo, yang sejak tadi menunggu di depan pintu kamar itu mendengar ada suara keributan. Tanpa di panggil, dia memutuskan untuk masuk ke dalam. Di lihatnya wanita yang berprofesi sebagai dokter itu sudah tersungkur di lantai. ternyata Jo datang di waktu yang tepat, Devan langsung memberikan kode agar jo menahan vita. Jo yang paham pun langsung melaksanakan tugasnya. Pria itu langsung mencekal tangan Vita dan di ikatnya dengan menggunakan Syal yang di berikan oleh Eva.
"Ikat dia, setelah itu telepon pihak rumah sakit jiwa, bahwa mereka akan kedatangan pasien baru," ucap Devan memberi perintah.
Devan langsung mengajak semuanya keluar dari kamar itu, menyisakan Jo yang di tugaskan untuk mengawasi vita sebelum pihak rumah sakit jiwa datang.
"Kau itu cantik, berpendidikan dan kau juga seorang dokter. Tapi sangat di sayangkan, kamu begitu bodoh dalam hal mencintai," kata Jo.
"Berisik! Memangnya tahu apa kau tentang cinta? lagi pula Ini semua bukan urusan mu!" sentak Vita tanpa rasa takut.
"Ya ini memang bukan urusan ku, mau kau menghabiskan waktu mu selamanya di rumah sakit jiwa itu bukan urusan ku, karena itu pilihan mu sendiri. Kau lebih memilih mendekam di rumah sakit jiwa, dari pada mencari kebahagiaan lain di luar sana," sahut jo.
"Aku bilang diam, berisik!" bentak Vita.
"Ya aku memang akan diam, karena petugas Rumah Sakit Jiwa sudah datang. Dan aku berharap tidak akan pernah bertemu dengan orang yang sakit jiwa seperti mu lagi," ucap Jo geram.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya petugas Rumah Sakit Jiwa itu pun sampai. Dan vita pun langsung di bawa oleh para petugas itu. Melihat apa yang di ucapkan oleh Jo, benar-benar terjadi, Vita merasa begitu murka, dia memberontak. Dia benar-benar tidak terima di perlakukan seperti ini.
"Kurang ajar kalian! Beraninya kalian memperlakukan ku seperti ini! Lihat saja, aku akan membalas semua perbuatan kalian pada ku. Tunggu pembalasan dari ku!" teriak Vita saat dirinya di seret keluar dari apartemen.
Semua orang yang ada di sana hanya menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa seorang dokter memiliki sifat seperti itu. Terlebih lagi Eva, dia begitu tidak menyangka ternyata adik angkatnya yang selama ini dia kenal pendiam, memiliki sifat seperti itu. Dia juga berani berbuat nekat hanya karena keinginannya tidak terpenuhi.
__ADS_1