
Hari ini paman Isa akan kembali ke rumahnya, dan Eva akan tetap tinggal di mansion bersama Bella di mansion. Bella sebenarnya berat membiarkan paman Isa kembali ke rumah itu, terlebih dia wanita ular masih ada di sana. Bella takut sesuatu yang buruk akan terjadi, namun dia harus percaya bahwa suaminya telah memikirkan itu semua.
Saat ini mereka semua tengah berkumpul di ruang keluarga, dan Bella yang duduk di samping sang paman. Dia bergelayut manja di lengan paman Isa, dia sudah lama tidak bisa melakukan hal itu karena pasti tantenya akan mengomelinya. Bella memang sudah terbiasa seperti itu pada sang paman, karena paman Isa sudah seperti ayahnya sendiri.
"Paman yakin mau kembali ke rumah sekarang?" tanya Bella.
"Iya nak, paman tidak enak lama-lama di sini. Lagi pula ini sesuai rencana suami mu juga," jawab paman Isa.
"Apa tidak bisa besok saja? Aku masih merindukan paman," ucap bella lirih.
"Kamu kan masih bisa main ke rumah kapan saja, paman sangat akan senang kalau kamu sering mengunjungi paman. Jangan bersikap seolah kita tidak akan bertemu lagi," sahut paman Isa.
"Baiklah, aku akan sering-sering mengunjungi paman. Tapi apa boleh aku mengantar paman pulang?" tanya Bella.
"Nak, kamu sedang hamil besar. Lebih baik kamu di rumah saja ya, kan ada supir yang akan mengantar paman," ucap papa Andra menimpali.
"Yah." seketika Bella langsung lesu.
"Benar kata papa mertua mu, kamu di rumah saja ya. Jangan capek-capek, di sini juga sudah ada Eva yang akan menemani mu agar tidak kesepian," kata paman Isa.
Melihat menantu kesayangannya langsung murung, papa Andra menjadi tidak tega. Sepertinya Bella benar-benar sangat menyayangi pamannya itu.
__ADS_1
"Ya sudah kalau mau ikut antar paman mu, boleh saja. Asal pergi dengan Dian, dan supir," putus papa Andra pada akhirnya.
"Benar boleh, pa?" tanya Bella yang langsung kembali ceria seperti biasanya.
"Iya, tapi telpon Devan dulu ya," kata papa Andra.
"Aaa papa, kalau telpon mas Devan dulu pasti dia tidak akan memberi ijin," kata Bella kembali loyo.
"Coba saja dulu dek," timpal Eva.
"Iya coba telpon dulu, istri itu jika mau pergi ke mana pun harus ijin suami dulu," ujar Paman Isa yang langsung di patuhi oleh keponakannya itu.
Devan yang tengah suntuk memeriksa tumpukan berkas itu pun menjadi kesal saat ponselnya berdering, ingin rasanya dia melempar benda si*lan itu. Namun saat melihat nama si penelpon, pria itu langsung tersenyum, dia melupakan kekesalannya.
"Halo sayang," sapa Bella setelah telpon tersambung.
"Iya sayang ku, ada apa tumben menelpon ku di jam segini. Kamu kangen ya?" tanya Devan dengan PD-nya.
"Em sayang, aku boleh pergi mengantar paman ke rumah, tidak? Hanya sebentar saja," ucap Bella mengutarakan niatnya.
"Tidak perlu sayang, ada supir yang akan mengantarkan paman. Kamu di rumah saja, oke," jawab Devan.
__ADS_1
Tuh kan! Sudah sesuai dugaan Bella. Suaminya itu pasti tidak akan mengijinkan. Bella harus memikirkan cara agar di ijinkan oleh suaminya itu.
"Em... Tapi rencananya setelah mengantar paman, aku akan ke kantor menyusul mu sayang. Aku akan bawakan makan siang, boleh kan?" kata Bella.
Mendengar kabar yang membuat hatinya segar, Devan langsung tersenyum sumringah.
"Ya sudah boleh, tapi pergi dengan Dian dan di antar supir. Kamu dengar, kan sayang?" ujar Devan.
'Yes! Akhirnya,' batin Bella kegirangan.
"Baik mas, kalau begitu aku akan memasak terlebih dahulu. Sampai jumpa sayang," ucap Bella.
"Jangan capek-capek sayang, nanti ka--"
Tut... Tut... Tut...
Belum sempat Devan menyelesaikan ucapannya, Bella sudah dengan seenaknya memutus sambungan telpon itu. Membuat Devan mendengus kesal di buatnya.
"Ck, dasar istri ku. Untung cinta, kalau tidak," gerutu Devan sebal.
Bella langsung mematikan sambungan telpon itu karena pasti Devan akan menceramahi ya, dan itu pasti akan berbuntut panjang. Bella malas mendengarnya, karena wanita itu sudah bisa menduga apa yang akan di ucapkan oleh suaminya itu.
__ADS_1