Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
dunia yang sempit


__ADS_3

Paman Isa memaksakan dirinya untuk bangun, namun di tahan oleh Eva. Eva begitu penasaran dan ingin menanyakan banyak hal pada pria paruh baya di depannya itu, karena ini adalah saat yang tepat karena dua anak buah itu sedang pergi. Tadi Eva memerintahkan Arul untuk membeli makan siang, yang lokasinya lumayan jauh dari rumah tua itu. Sedangkan Kemal, pria itu pergi ke rumah dinas dokter Vita, untuk mengambil obat. Padahal obat-obatan sudah berada di tas Eva, karena tentunya hal itu hanya akal-akalan Eva saja untuk memiliki waktu untuk bertanya dengan paman Isa.


"Eva ini benar kamu kan, anak dari Kak Fitri?" tanya Paman Isa.


"Iya paman, ini benar Eva. Bagaimana Paman bisa ada di sini?" tanya Eva penasaran.


"Paman di culik oleh istri paman, dia berselingkuh dengan Doni," jawab paman Isa.


"Apa? Bagaimana bisa istri paman lakukan hal seperti itu? Dia berselingkuh dengan Doni anak pungut tidak tau diri itu?" tanya Eva terkejut.


"Dia menginginkan perusahaan dan dia menculik Paman agar Paman memberikan berkas perusahaan padanya. mereka bersekongkol untuk mendapatkan perusahaan, tapi tenang saja berkas itu sudah berada di tangan orang yang tepat," jelas paman Isa.


"Paman apa Bella baik-baik saja?" tanya Eva.


"Paman tidak tahu, tapi semoga saja dia baik-baik saja. karena sekarang sudah ada suaminya yang melindunginya, Paman berharap dia selalu baik-baik saja," ucap Paman Isa.


"Jadi Bella sudah menikah?" tanya Eva lagi.


"Ya, dia sudah menikah."


"Paman, apa selama ini tidak ada yang datang untuk menyelamatkan paman?"


"Sepertinya Bella sudah mencari ku, tapi tempat ini begitu jauh sehingga Paman rasa Bella kesulitan menemukan tempat ini. Paman juga sudah mencoba berbagai cara untuk kabur dari sini, tapi selalu gagal. Dan Paman tidak menyangka malah di pertemukan dengan mu di sini, mungkin ini adalah sebuah Anugerah. Jika aku tidak di sini, mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengan mu lagi." sambung dengan Isa.


Eva adalah anak dari kakak Paman Isa, lebih tepatnya Eva itu adalah kakak kandung dari Bella. Bertahun tahun Eva menghilang, dan sekarang mereka di pertemukan dalam keadaan seperti ini. Ternyata benar kata pepatah, ternyata dunia itu sangat sempit.

__ADS_1


"Paman harus menceritakan semuanya pada ku," tuntut Eva.


"Kamu juga berhutang banyak cerita pada paman," kata paman Isa.


"Paman akan menceritakan semuanya jika sudah keluar dari sini," kata paman Isa.


Perbincangan mereka Langsung terhenti ketika Arul sudah kembali dengan menenteng makanan di tangannya, Paman Isa dan Eva langsung dia membisu berpura-pura tidak saling mengenal.


"Ini pak tua makanlah, jangan terus merepotkan ku," kata Arul setelah meletakkan kantong berisi makanan di samping meja tempat tidur Paman Isya


"Apa kau tidak bisa bersikap sopan sedikit saja kepada orang tua? Meskipun hanya Paman, tapi dia lebih tua dari mu," ucap Eva mengingatkan Arul.


"Anda tidak usah ikut campur ya nona, anda di sini hanya bertugas untuk merawat saja. Selebihnya anda hanya perlu diam!" peringat Arul.


"Ya aku memang bukan siapa-siapa, tapi aku adalah seorang perawat. Aku bisa saja melaporkan tindakan kalian ini kepada Komnas HAM, karena kalian telah melakukan tindak kekerasan kepada orang tua!" ancam Eva berani.


"Ada apa ini?" tanya Kemal yang baru saja datang dan memasuki ruangan Paman Isa.


"Ini loh mal, wanita gendut ini berani mengancam ku," jawab arul.


"Dia belum tahu saja bagaimana bos kita," kata Kemal.


"Kenapa dengan bos kalian? Apa kalian pikir aku takut dengan bos kalian itu? panggil saya dia kemari, akan aku panggil polisi juga sekalian," tantang Eva.


"Ck! Dasar wanita gendut, galak! Ayo Rul kita keluar saja dari sini. Lebih baik kita duduk santai di depan, dari pada kita harus mendengarkan ocehan wanita gendut ini," ajak Kemal menarik tangan Arul untuk keluar dari ruangan paman Isa.

__ADS_1


Mereka berdua tidak menaruh curiga sama sekali, mereka memilih tidur di depan meninggalkan paman Isa dan Eva di dalam. Setelah beberapa saat terdengar suara dengkuran yang saling bersahutan seperti lomba, menandakan dua pengawal itu telah tertidur.


Eva keluar untuk memastikan apakah dua curut itu sudah benar-benar tertidur atau belum, wanita itu mengibaskan tangannya di depan wajah ke dua pria itu. Dan ternyata mereka benar-benar sudah tertidur. Eva kembali masuk ke dalam ruang tawanan paman Isa lagi.


"Jadi adik ku menikah dengan siapa, paman?" tanya Eva dengan berbisik.


"Dia menikah dengan Devan, dia adalah pria yang baik. Paman yakin dia mampu menjaga Bella dengan baik," sahut paman Isa.


'Devan? Aku seperti tidak asing dengan nama itu, apa jangan-jangan?' batin Eva.


"Paman, apa dia adalah Devan Alandra?" tanya Eva.


"Benar, apa kamu mengenalnya?" tanya paman Isa sambil mengerutkan keningnya.


"Aku tidak mengenalnya, paman. Aku hanya mendengar bahwa om Andra adalah orang yang membuat Tante Sinta depresi hingga meninggal," sahut Eva.


"Sinta? Siapa dia?" tanya paman Isa.


"Tante Sinta adalah ibu dari Devan, karena om Andra hanya memiliki anak dari Tante Sinta saja," jelas Eva.


"Dari mana kamu tahu tentang hal ini?" paman Isa mengerutkan keningnya bingung.


"Dari mendiang ibu. Dulu ibu dan Tante Sinta adalah sahabat baik, dulu jika ibu pergi bersama Tante sinta, ibu selalu membawa ku. Jadi aku mengenalnya."


Paman Isa mengangguk paham, karena memang dulu kakaknya itu memang memiliki sahabat, namun paman Isa tidak tahu jika sahabat kakaknya itu adalah ibu dari Devan. Jadi intinya adalah, sahabat lama yang menjadi besan, begitulah ceritanya.

__ADS_1


Di sisi lain, Vita baru saja sampai di rumah tawanan, dia akan memeriksa kondisi paman Isa. Ternyata pintu depan tidak di kunci, dasar pengawal ceroboh! Saat memasuki ruang tengah, terlihat dua anak buah yang tengah tertidur dengan damainya. Arul yang tidur dengan mendengkur, serta kemal yang mengeluarkan aliran sungai yang deras dari mulutnya. Vita yang melihat hal itu menjadi bergidik jij*k.


Dokter Vita memutuskan untuk memasuki ruangan paman Isa, terlihat sang kakak dan pria paruh baya itu tengah berbincang dengan wajah serius, membuat pertanyaan-pertanyaan timbul di kepala dokter Vita.


__ADS_2