Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
terluka


__ADS_3

"Halo pa," ucap Devan dengan malas.


"Devan kau di mana? Apa Bella bersama mu? Papa menelponnya berulang kali tapi dia tidak menjawab," sahut papa dari sebrang telpon.


"Papa menelpon Devan hanya untuk menanyakan keberadaan wanita itu?" Devan semakin kesal saja di buatnya.


"Ya, di mana menantu papa?" tanya papa lagi.


"Dev mengurungnya di rumah pasung," jawab Devan.


"Kau tega memperlakukan istri mu seperti itu Dev? Dia itu wanita yang baik, dia bahkan selalu menyiapkan semua kebutuhan mu!" ucap Papa yang merasa kesal pada putranya itu.


"Itu salahnya sendiri pa," kelit Devan.


"Sebesar apa kesalahan yang dia buat sampai kau menghukumnya seperti itu? Kau jangan selalu memandang jika semua wanita itu sama, buka mata mu lebar-lebar sebelum kau menyesal Dev." peringat papa.


"Pa, dia itu sama saja dengan wanita-wanita di luaran sana!"


"Sudah cukup Dev, papa tidak mau mendengar apa pun lagi. Sekarang cepat keluarkan Bella dari sana, jika tidak maka papa akan ke sana sekarang juga!" perintah papa tegas.


Papa Andra adalah satu-satunya orang yang bisa mengancam Devan, membuat pria itu tidak bisa membantah, dan hanya papa Andra lah yang selama ini mampu meredam kemarahan Devan. Meskipun kesal, Devan tetap melakukan apa yang di perintahkan oleh sang papa. Dia memanggil pak sam untuk membebaskan Bella.


Ketika Bella sudah berada di ruang kerjanya, Devan memberikan telepon genggamnya pada Bella.


"Aku akan memenggal kepala mu jika kau berkata yang tidak-tidak pada papa!" bisik Devan penuh ancaman.


Bella hanya mengangguk. Dia menghela napas pelan, setelah tenang barulah dia mulai berbicara.


"Halo pa," sapa Bella.


"halo nak, kau baik-baik saja? Apa Devan melukai mu?" tanya papa khawatir pada menantunya itu.


"Bella baik-baik saja kok pa, ada apa papa mencari Bella?"


"Perasaan papa tidak enak nak, papa khawatir pada mu. papa takut Devan akan melukai mu," ungkap papa tentang kekhawatirannya.

__ADS_1


"Papa jangan khawatir, Bella akan menjaga diri Bella sebaik mungkin," ujar Bella menenangkan.


"Baiklah kalau begitu, katakan pada papa jika Devan kasar pada mu. Papa tutup dulu ya telponnya."


"Iya pa,"


*****


Malam harinya, Devan kini sudah berada di meja makan untuk makan malam. Hanya ada dirinya seorang di sana. Sedangkan Bella, wanita itu memutuskan tidak akan makan malam bersama Devan, dia akan makan di dapur saja bersama para pelayan.


"Di mana dia?" tanya Devan pada pak Sam yang berdiri di belakang Devan.


Pak Sam paham siapa yang di maksud oleh tuannya, "nona makan di belakang bersama para pelayan, tuan."


"Panggil dia!" perintah Devan.


"Baik tuan."


Pak Sam segera menuju ke dapur untuk memanggil Bella.


"Nona, tuan Devan memanggil anda," kata pak Sam setelah sampai.


Sesampainya Bella di meja makan, dia tidak langsung duduk. Dia hanya berdiri dengan kepala menunduk.


"Apa kau akan makan sambil berdiri? Duduk!" ucap Devan tanpa melirik Bella sedikitpun.


"Baik tuan."


Bella menarik kursi yang biasa dia duduki, wanita itu terus saja menundukkan kepalanya tidak berani menatap Devan.


"Untuk kali ini, kau aku maafkan. Tapi jika kau sampai melakukan kesalahan lagi, maka tidak akan ada ampun untuk mu!" Peringat Devan.


"Baik tuan, saya minta maaf," sahut Bella.


"Jika sampai kau melanggar, maka kau akan mendapat hukuman lebih dari yang tadi!" kecam Devan.

__ADS_1


Bella sudah menduga apa yang akan terjadi padanya jika dia membuat kesalahan. Dia tidak suka dengan sikap Devan yang tempramen, hanya karena kesalahan kecil Bella langsung mendapat hukuman sesadis itu. Entah hukuman apa yang akan Bella dapat jika dia melakukan kesalahan besar, mungkin saja Bella akan di gantung oleh Devan.


****


Malam hari, waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, tetapi Devan belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Bella merasa khawatir pada suaminya itu, tetapi apalah daya dirinya tidak berani untuk menghubungi sang suami. Bella sadar bahwa pernikahan mereka hanya sekedar status belaka, dirinya tidak punya hak untuk menanyakan kenapa dan di mana. jadi dia berusaha untuk memejamkan mata namun tetap tidak bisa.


Lama-kelamaan Bella pun mengantuk juga, dirinya terlelap begitu saja. Dia langsung terbangun ketika mendengar suara derap langkah yang menganggu indra pendengarannya, di lihatnya ada beberapa orang yang membuka pintu kamar dengan memapah Devan yang tidak sadarkan diri.


"Tuan Jo, ada apa ini? Apa yang terjadi pada tuan Devan?" tanya Bella khawatir saat melihat kondisi Devan yang memprihatinkan.


Devan tidak sadarkan diri, ada beberapa luka di tubuhnya dan terdapat noda darah yang mulai mengering. Kini perasaan khawatir dan ngeri bercampur menjadi satu dalam diri Bella.


"Tuan di serang saat dalam perjalanan pulang, nona," jawab Jo saat sudah membaringkan tubuh Devan di ranjang.


"Tingkatkan penjagaan di mansion, awasi semua bagian di dalam dan luar mansion. Jangan sampai kecolongan!" perintah Jo pada anak buah yang membantu memapah Devan tadi.


"Baik tuan," jawab anak buah itu kemudian berlalu dari kamar devan.


"Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit dan malah di bawa ke mansion? Ayo kita bawa tuan Devan ke rumah sakit sekarang," ajak Bella.


"Situasi di luar sedang tidak aman untuk tuan, nona. Di mansion adalah tempat paling aman sekarang. Anda tenang saja, saya sudah menghubungi dokter kepercayaan keluarga tuan Devan, beliau sedang dalam perjalanan kemari," jelas Jo.


"Baiklah kalau begitu."


Sembari menunggu kedatangan dokter, Bella memutuskan mengambil air hangat untuk membersihkan darah yang menempel di tubuh Devan.


Dengan telaten Bella membersihkan darah yang sudah mengering itu, dirinya menebak bahwa Devan terkena luka tembak dan tusukan di dada kirinya. Dia tidak berani bertanya apapun pada Jo, karena dia juga tidak ingin tahu menahu ataupun ikut campur urusan pribadi devan.


Bella menatap lekat wajah Devan, tetap tampan meskipun pucat. Wajahnya menyiratkan kelembutan jika sedang seperti ini, tapi jika mata dingin itu terbuka maka Bella tidak bisa menikmati ketampanan ini.


"Tuan Jo, kenapa dokternya belum sampai juga?" tanya Bella gelisah karena Devan belum mendapat perawatan dari dokter.


"Dokternya sudah sampai nona, beliau sedang menuju ke atas," sahut Jo.


Dan benar saja, tidak lama kemudian pintu kamar mereka di ketuk dari luar.

__ADS_1


Jo segera berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Di sana berdiri seorang lelaki paruh baya seumuran dengan papa Alan sedang menenteng tas di tangan kirinya, mungkin saja isinya adalah peralatan medis untuk memeriksa Devan.


"Dokter cepat periksa suami saya"


__ADS_2