
Setelah sampai di butik milik Hendry, mereka langsung di persilahkan masuk ke ruangan Hendry. Karena karyawan di sana sudah mengenal Bella dengan baik.
sesampainya di lantai atas, Bella mengetuk pintu ruangan Hendry terlebih dahulu sebelum masuk.
Tok Tok Tok...
"Masuk!" sahut Hendry dari dalam sana.
Bella kemudian membuka pintu itu, terlihat Hendry tengah fokus menggambar desain yang sedang di rancangnya. Pria itu seolah tidak peduli pada seseorang yang masuk ke ruangannya, karena biasanya karyawannya yang masuk.
"Kakak sibuk?" kata itu yang Bella ucapkan saat merasa di acuhkan oleh Hendry.
Hendry mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, "Dik kamu datang? Kamu masih ingat pada ku rupanya," cerocos Hendry.
Hendry langsung menghampiri Bella, dia langsung memeluk Bella begitu saja, "Ini pasti gara-gara Devan, dia pasti melarang mu pergi keluar kan? Ck, dasar dia itu terlalu posesif. Dulu saja jika aku nasehati selalu keras kepala, tapi sekarang apa?" omel Hendry dengan gaya wanitanya.
"Kak, apa aku tidak di persilahkan untuk masuk?" tanya Bella.
"Eh, ayo duduk lah," Hendry melepaskan pelukannya pada Bella, kemudian menuju ke sofa yang ada di ruangannya.
Bella pun masuk di ikuti oleh Dian di belakangnya, kini mereka sudah duduk bersama.
"Jadi kemana saja kamu? Teganya kamu melupakan ku," ucap Hendry dengan gaya bencongnya.
"Kak maaf, aku bukannya melupakan mu. Hanya saja akhir-akhir ini banyak sekali yang terjadi, membuat ku tidak sempat mengunjungi mu," ucap Bella.
"Kamu jahat, kamu tegah," kata Hendry.
"Kak! Ada seseorang di samping ku, apa kakak tidak ingin kenalan?" tanya Bella.
Hendry yang sejak tadi hanya terfokus pada Bella, tidak menyadari bahwa Bella tidak datang sendirian melainkan membawa pengawal.
"Siapa dia, dik?" tanya Hendry penasaran.
Hendry tampak menatap Dian dengan pandangan menelisik, membuat sang empunya menjadi risih.
__ADS_1
"Kak jangan menatapnya seperti itu, kakak jangan membuatnya takut," peringat Bella.
"Baiklah-baiklah, siapa dia?" tanya Hendry lagi dengan masih terus menatap Dian namun dengan tatapan biasa saja.
"Dia adalah teman ku, namanya Dian. Devan mempekerjakan Dian untuk menemani ke manapun aku pergi," jelas Bella.
Hendry masih terus menatap Dian, pria itu mencoba mengingat-ingat siapa gadis yang bernama Dian itu. Bella yang melihat tingkah Hendry pun di buat penasaran.
"Kakak kenapa menatap dia terus?" tanya Bella penasaran.
"Aku seperti pernah bertemu dengannya tapi di mana ya? Wajahnya terlihat familiar, terutama sorot matanya, mengingatkan ku pada seseorang," sahut Hendry.
"Mungkin anda pernah tidak sengaja melihat saya, atau mungkin orang yang anda lihat itu mirip dengan saya. Karena kata orang dulu, kita itu memiliki 7 kembaran di dunia ini," kata Dian yang sejak tadi diam.
"Sepertinya ucapan mu salah, aku merasa ada perasaan yang sulit di jelaskan ketika menatap mata mu," sahut Hendry.
Bella mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan ambigu dari Hendry, "Maksud kakak bagaimana?"
"Aku merasa seperti memiliki ikatan dengannya," sahut Hendry yang malah makin membuat Bella bingung.
"Saya tinggal dengan kakak saya tuan," jawab Dian.
"Kakak kandung?" tanya Hendry lagi.
"Bukan, dia adalah kakak angkat saya," jelas Dian.
Hendry mengangkat alisnya sebelah, meminta penjelasan dari ucapan Dian.
"Dia adalah kakak angkat saya, karena dia yang telah merawat saya ketika saya sedang terluka. Dia menemukan saya sewaktu saya masih kecil, katanya saya adalah anak yang hilang. Jadi dia merawat dan menganggap saya sebagai adiknya," kata Dian menjelaskan.
"Umur berapa kira-kira dia menemukan mu?" tanya Hendry, dia harus mencari kebenaran dari praduganya itu.
"Sekitar umur 8 tahun tuan, memangnya kenapa?" tanya Dian.
"Kamu Sinta, ya kamu adalah adik ku," kata Hendry yang membuat dua wanita itu terkejut.
__ADS_1
"Hah?" kalimat spontan yang keluar dari mulut Bella dan Dian bersamaan.
"Aku yakin 100% kalau kamu adalah adik ku, adik ku hilang saat berumur 8 tahun," kata Hendry yakin.
"Bagaimana anda bisa seyakin itu tuan?" tanya Dian setelah berhasil menguasai dirinya kembali.
"Pertanyaan yang bagus, adik ku memiliki tanda lahir yang agak besar di leher kirinya. Dan kamu memiliki itu," ucap Hendry yang sejak tadi sudah memperhatikan semua itu.
Seketika Dian langsung meraba lehernya yang terdapat tanda lahir itu, memang benar tanda lahirnya agak besar di sebelah kiri. Apakah ini kebetulan atau memang benar jika pria di hadapannya itu adalah kakaknya? Mengapa ada kejadian yang begitu mengejutkan di hari pertamanya bekerja? Namun Dian tidak ingin terlalu berharap lebih, dia takut ini hanyalah kebetulan semata.
"Tuan saya rasa ini hanya kebetulan saja," ujar Dian yang tidak ingin berharap.
"Kak, aku sarankan kalian tes DNA. Agar semuanya jelas, dan itu lebih akurat. Dengan bukti yang akurat maka tidak akan ada yang bisa memanfaatkan situasi ini," saran Bella yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Kamu benar juga, dik. Baiklah besok kita tes DNA, aku yakin hasilnya akan positif," ujar hendry optimis.
"Tolong besok berikan izin untuk Dian ya," kata Hendry pada Bella.
"Tentu saja kak."
...๐๐๐...
Devan sedang dalam perjalanan membebaskan paman Isa, rombongannya harus melewati jalan yang kecil dan jauh untuk sampai di mana paman Isa berada. Jalannya cukup terjal, rombongan Devan pergi ke sana dengan menyewa motor trail, di karenakan jalan itu hanya cukup untuk motor saja.
"Apa masih jauh lokasinya, Jak?" tanya Devan pada Jaka, orang yang memimpin jalan karena dia penduduk sekitar sana.
"Sekitar setengah jam lagi jika kita terus jalan. Di sana tidak terlalu ramai penduduk, jadi jalan ini jarang di lewati," sahut Jaka.
"Coba sekarang kamu tanyakan di mana alamatnya, di sini biasanya sudah ada sinyal. Biar saat sampai di desa itu kita langsung menuju ke sana," kata Jaka.
"Baiklah." Devan langsung mengeluarkan ponselnya dari saku, pria itu membuat panggilan pada Vita.
Vita mengabarkan bahwa anak buah Doni ada di tempat, jadi Vita menyarankan agar Devan dan rombongan menemuinya terlebih dahulu. Devan tidak masalah dengan anak buah itu, karena Devan sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, jadi itu adalah hal kecil bagi Devan. Apa lagi di sana hanya ada dua pengawal saja. Namun Vita terus bersikeras agar Devan menemuinya lebih dulu, barulah dia akan memberitahu di mana paman Isa di sekap. Mau tidak mau Devan pun menyetujuinya, karena Devan ingin menuang waktu.
Devan dan rombongan sudah sampai di tempat yang di ucapkan oleh viga tadi, namun ternyata wanita itu belum ada di sana. Inilah yang paling tidak di sukai oleh devan, sangat membuang waktu. Saat beberapa menit Vita sampai, Devan langsung meminta wanita itu untuk menunjukkan di mana tempat Paman Isa di sekap. Awalnya Vita mengajak Devan untuk berbincang terlebih dahulu, namun Devan menolaknya dengan tegas.
__ADS_1