Cinta Hadir Setelah Pernikahan

Cinta Hadir Setelah Pernikahan
kantor


__ADS_3

Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, kini mobil yang Bella tumpangi telah sampai di lobi kantor Devan. Dian dengan sigap langsung membukakan pintu untuk Bella. Bella dengan hati-hati turun dari mobil, di karenakan perutnya yang buncit. Beberapa karyawan yang berlalu lalang di sana pun memperhatikan istri dari bos besar mereka.


"Terima kasih Dian," ucap Bella setelah keluar dari mobil.


"Sama-sama kak," sahut Dian.


Bella langsung melangkahkan kakinya masuk ke kantor, semua karyawan yang berpapasan dengan Bella pun menyapa istri bosnya itu.


"Selamat siang nyonya," sapa para karyawan yang berjaga di meja resepsionis.


"Selamat siang, Jangan lupa makan siang ya," sahut Bella sambil tersenyum ramah, namun tetap melangkahkan kakinya.


"Nyonya Bella baik ya, ramah juga. Pantas saja tuan Devan jatuh cinta dengannya," ucap salah satu petugas resepsionis.


"Iya benar, meski keduanya berbeda karakter. Tapi mereka saling melengkapi, sifat baik nyonya lah yang mampu merubah tuan yang tadinya selalu marah-marah menjadi lebih baik seperti sekarang ini," sahut rekannya.


"Stt... Sudah-sudah, jangan membahas tyan. Nanti kalau dia dengar pasti murka," peringat karyawan yang baru saja datang.


Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka sebagaimana mestinya.


Dian dengan sigap menekan tombol lift khusus CEO untuk sang nyonya, setelahnya mereka masuk agar segera sampai di ruangan Devan.


Ting...


Pintu lift terbuka, Bella segera keluar di ikuti Dian di belakangnya.


"Siang nona," sapa Jo saat melihat istri dari bosnya itu.


"Siang Jo, apa suami ku ada di dalam?" tanya Bella.


"Ada nona, tuan di dalam," sahut Jo.


"Ya sudah kalau begitu, aku masuk dulu."


Bella kembali melangkahkan kakinya memasuki ruangan depan diam mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum masuk ke dalam.


Tok tok tok


"Masuk!" sahut Devan dari dalam.


Setelah mendapat sahutan dari dalam, Bella kemudian melangkahkan kakinya masuk seorang diri. Sedangkan Dian, dia duduk di sofa ruang tunggu di depan ruangan devan. Dia tidak ingin mengganggu tuan dan nonanya itu.


Bella melangkahkan kakinya, mendekati meja kerja sang suami. Terlihat suaminya itu begitu, fokus memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Pria itu bahkan tidak mengangkat pandangan pada dirinya barang sedetik pun, rupanya pria itu belum mengetahui siapa seseorang yang masuk ke ruangannya itu.


"Sayang apa aku mengganggu?" ucap Bella saat sudah berdiri tepat di depan meja kerja Devan.

__ADS_1


Mendengar suara yang begitu di rindukannya, Devan langsung mendongakkan kepalanya menatap seseorang yang begitu di cintainya itu.


"Sayang kamu sudah datang?" tanya Devan yang langsung mengulas senyum di bibirnya.


Rasanya dia selalu terpesona pada istrinya itu di setiap harinya, jika kembali di ingat, betapa beruntungnya dia.


"Hemm," jawab Bella menganggukkan kepalanya.


"Apa aku mengganggu?" tanya Bella lagi.


"Tentu saja tidak sayang ku, kemarilah biarkan aku memeluk mu," ucap Devan sambil merentangkan kedua tangannya meminta Bella datang padanya.


Bella pun mengangguk, dia kemudian meletakkan kotak makanan yang ada di tangannya di ujung meja kerja Devan. Kemudian dirinya mendekat ke arah suaminya itu, Devan langsung mendudukkan Bella di pangkuannya. Lalu pria itu melingkarkan tangannya di perut buncit Bella, Devan menumpukan kepalanya di ceruk leher Bella. Rasanya seperti tidak bertemu lama sekali, karena rasa rindu yang begitu berat. Di hirupnya aroma tubuh Bella yang membuatnya candu, dan hal itu mampu membuat rasa lelahnya sedikit berkurang.


"Sayang aku sangat merindukan mu," bisik Devan tepat di telinga Bella, membuat sang empunya merinding di buatnya.


"Sayang, kenapa diam saja?" tanya Devan manja.


"Hemm," Hanya itu yang keluar dari mulut Bella.


"Sayang kenapa aku selalu merindukan mu ya? Apa karena anak kita ini?" tanya Devan.


"Sayang bagaimana dengan anak kita, apakah dia rewel hari ini?" tanya Devan sambil mengelus lembut perut buncit Bella.


"Dia sangat pengertian sayang, dia tidak merepotkan ibunya sama sekali," sahut Bella.


"Mas jangan bicara seperti itu, tidak baik tau," peringat Bella.


"Baiklah sayang. Baby, kamu jadi membawakan aku makan siang, kan?" tanya Devan.


"Itu," tunjuk Bella ke arah kotak makanan yang di letakkannya tadi.


Ya, saking terpesonanya Devan pada istrinya itu, dia tidak memperhatikan apa yang di bawa oleh istrinya itu. Dia hanya fokus pada wajah cantik istrinya saja.


"Sayang aku lapar, tapi aku masih sibuk," keluh Devan.


"Ya sudah biar aku suapi, tapi duduk di sofa saja biar lebih enak," ucap Bella yang langsung bangkit dari pangkuan Devan. Kemudian mengambil kotak makanan itu, dan di bawanya ke sofa. Di ikuti oleh Devan di belakangnya


Bella langsung menyiapkan makanan untuk Devan. Sedangkan pria itu, matanya fokus meneliti berkas yang ada di tangannya.


"Aaa, Ayo buka mulutnya," ucap Bela menyodorkan sesendok makanan ke mulut Devan.


Pria itu pun dengan senang hati menerima suapan dari sang istri tercinta, terlebih itu adalah makanan spesial, yang di buat oleh istrinya untuk dirinya.


"Seperti biasa sayang, masakan mu selalu luar biasa,” Puji Devan setelah menyelesaikan kunyahannya.

__ADS_1


"Aku tahu itu," sahut Bella percaya diri.


"Wah sejak kapan istri ku sepercaya diri ini?" kata Devan melirik sekilas ke arah istri cantiknya itu.


"Sejak menjadi istri mu," sahut Bella asal.


"Ya ya, kamu memang istri ku," ucap Devan sambil mengusap lembut Puncak kepala Bella.


"Kamu juga harus makan, sini biar aku suapi," ucap Devan berniat mengambil alih sendok dari tangan Bella.


"No! Aku akan makan sendiri, mas fokus ke pekerjaan mas saja," kata Bella yang di angguki oleh Devan, "Baiklah."


Tanpa terasa makanan yang ada di piring sudah kini sudah berpindah ke perut mereka, suapan terakhir pun sudah di berikan pada Devan. Namun pria itu tampak masih menunggu suapan selanjutnya dari sang istri.


"Aaaa..." Devan membuka mulutnya sebagai tanda minta di suapi lagi.


"Sudah habis sayang," ucap Bela menunjukkan piring kosong yang berada di tangannya.


"Apa? Kenapa bisa habis?" ucap Devan.


"Ya karena makanannya sudah masuk ke perut, Mas."


"Mau lagi? Itu masih ada kok, masih banyak," tanya Bella.


"Iya sayang, sedikit lagi," jawab Devan menggangguk antusias.


Bella kembali mengambilkan makanan untuk suaminya itu. Setelahnya kemudian menyuapi bayi besarnya yang tampak lahap menikmati makan siangnya.


"Sudah sayang, aku sudah kenyang," ucap Devan.


"Sudah habis," ucap Bela.


Saat Devan mengatakan hal itu, ternyata itu adalah suapan terakhir. Setelahnya Bella langsung membereskan bekas makan siang mereka, agar tidak berantakan.


"Sayang jangan pulang dulu ya, kita pulang bersama. Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dulu, setelah itu kita akan jalan-jalan ke mall oke?" ucap Devan.


"Baik mas," sahut Bella menggangguk.


"Sayang kamu istirahat saja di kamar, ayo," ajak Devan.


Devan membawa istrinya itu memasuki kamar pribadinya, yang ada di ruangannya itu. Kamar itu biasanya dia gunakan untuk istirahat jika sudah terlalu lelah.


"Wah ada kamarnya juga ya," ucap Bella kagum, menatap seluruh isi kamar yang ada di ruangan devan itu.


"Istirahatlah sayang, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dulu," ucap Devan.

__ADS_1


Pria itu mengecup kening istrinya terlebih dahulu, baru setelahnya dia kembali ke kursi kebesarannya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Bella langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, karena kebetulan pinggangnya terasa pegal. Mungkin karena kandungannya yang sudah membesar membuatnya mudah lelah.


__ADS_2