
Nayla membuat kopi untuk Jo dengan bibir yang terus-terusan menggerutu. Setelah selesai Nayla kembali ke ruangan Jo dengan membawa secangkir kopi di tangannya.
"Ini tuan," ucap Nayla setelah meletakkan secangkir kopi di hadapan Jo.
Jo langsung mengambil kopi tersebut dan meminumnya, 'Enak, rasanya pas. tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit, sesuai dengan selera ku,' batin Jo.
"Emh, lumayan juga," ucap Jo.
"Bilang saja enak, segala pake lumayan," gumam Nayla lirih.
"Anda mengatakan sesuatu, nona?" tanya Jo, padahal pria itu mendengar apa yang di gumam kan oleh Nayla meski samar-samar.
"Hah? Saya tidak mengatakan apa pun kok," kilah Nayla.
"Kamu tidak ingin tau apa hukuman mu?" pancing Jo.
"tidak," jawab Nayla cuek.
Jo mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban dari gadis di hadapannya itu, "tidak?"
"E-eh, maksud saya iya tuan," kata Nayla gugup saat di tatap tajam oleh Jo.
"Baiklah, sekarang mendekat lah." Jo melambaikan tangannya meminta Nayla mendekat ke arahnya.
Nayla mendekat dengan takut-takut, "Minumlah," ucap Jo memberikan gelas kopi buatan Nayla yang tadi.
"Hah? tapi kan itu bekas anda tuan," protes Nayla tidak terima.
"Tidak mau?" tanya Jo dengan wajah datar.
Mau tidak mau Nayla meminum kopi itu walau sedikit.
"Apa rasanya?" tanya Jo saat melihat Nayla mau minum sedikit kopinya.
__ADS_1
"Rasa kopi, tuan," jawab Nayla polos.
"Ck, bodoh! Maksud ku bagaimana rasanya? Apakah manis atau bagaimana?" Jo merasa gemas di buatnya.
'Heh dasar aneh, tadi kan tanya apa rasanya. Ya rasa kopi lah,' sungut Nayla.
"Rasanya pas tuan, karena ini memang sesuai selera saya," ucap Nayla.
'Ternyata dia memiliki kesamaan dengan ku, seleranya pun sama dengan ku. Ada apa dengan diri ku? kenapa aku seperti tertarik saat melihat wanita ini,' batin Jo.
"Memangnya kenapa tuan? Apa kurang manis untuk tuan?" tanya Nayla.
"Tidak!" sahut Jo singkat.
"Aku ingin, kau membuatkan kopi yang seperti ini setiap hari untuk ku. Itu sebagai hukuman mu!" ucap Jo tegas.
"Setiap hari?" tanya Nayla memastikan.
"Baiklah tuan," putus Nayla pada akhirnya.
Nayla pikir, hukuman ini tidak terlalu buruk. dari pada dirinya di pecat saat dirinya baru bekerja, lebih baik dirinya membuat kopi di setiap harinya. Toh dia juga bertugas di lantai itu, jadi tidak masalah hanya dengan membuat secangkir kopi.
...๐๐๐...
Devan masih setia menunggu istrinya sadar, pria yang selalu terlihat tampan dan gagah itu kini berubah menjadi pria yang lusuh tidak terawat. Devan tidak memikirkan penampilannya lagi, karena baginya menunggu sang istri adalah hal yang lebih penting. Dia akan menunggu istrinya sampai tersadar, Devan tidak ingin beranjak barang sedetik pun dari sana. Wajah pria itu kini terlihat kusam dan sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus, dan kantung mata yang menghitam akibat kurang tidur.
"Sayang bangunlah, apa kamu tidak lelah tidur terus? Kenapa kamu tega membiarkan suami mu ini sendiri tanpa mu?" kata Devan mulai mengajak Bella mengobrol.
"Lihatlah aku sayang, aku sekarang sudah tidak tampan lagi. Orang-orang yang melihat ku pasti akan mengatakan bahwa aku adalah gembel, aku juga takut kalau kamu terbangun nanti kamu tidak mengenali ku sebagai suami mu, karena sekarang aku sudah jelek. Sayang ayo bangunlah, aku juga ingin di rawat oleh mu agar kembali tampan seperti dulu. Sayang kamu dengar aku kan?"
"Sayang bagaimana dengan kabar anak kita? Dia pasti merindukan daddynya ya kan."
"Hai Baby apa kabar mu, sayang? Maafkan Daddy membuat mommy mu terluka. Nak, katakan pada mommy mu untuk segera membuka matanya. Daddy merindukan Mommy mu."
__ADS_1
Devan mendekatkan telinganya ke perut Bella, mencoba mengajak bicara anak mereka di perut Bella yang masih rata.
Devan menggenggam erat jemari Bella, satu tangannya lagi mengusap lembut perut Bella. Sesaat kemudian Devan merasakan bahwa jemari Bella bergerak pelan.
"Sayang?" panggil Devan.
Bella belum membuka kedua matanya, jari tangannya masih bergerak di genggaman Devan.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Devan heboh sendiri, dia bingung mau melakukan apa.
"Panggil dokter, ya panggil dokter dulu," gumam Devan yang langsung menekan tombol darurat di sana.
Tak lama kemudian dokter masuk dengan di ikuti suster di belakangnya.
"Dokter cepat periksa istri saya! Dia tadi menggerakkan jarinya, tapi kenapa tidak kunjung membuka matanya?!" ucap Devan yang panik sendiri.
"Saya periksa dulu ya, tuan," ucap dokter itu yang langsung mendekat ke arah Bella.
Dokter mengeluarkan stetoskop dari saku almamaternya, memeriksa detak jantung Bella. Kemudian memeriksa suhu tubuh, dan kondisi janin Bella.
"Dokter cepat katakan, apa yang terjadi pada istri ku!" tanya Devan mulai tarik urat karena tidak sabar.
"Kondisi nona Bella sudah mulai membaik, semuanya juga sudah kembali normal," jelas dokter itu.
"Tapi kenapa sejak tadi tidak kunjung membuka matanya? Periksa yang benar!" pekik Devan emosi.
"Nona sedang dalam fase penyesuaian, sebentar lagi nona pasti akan sadar, tuan. Coba anda ajak mengobrol, agar nona bisa sadar secepatnya," kata dokter.
"Baiklah."
"Kalau begitu saya permisi dulu, tuan." Dokter keluar dari ruangan Bella.
Devan langsung menciumi seluruh wajah Bella, "Sayang ayo bangun," bisik Devan di telinga Bella.
__ADS_1