
Di apartemen milik Devan, tepatnya di balkon kamar yang di tempati Vita, kini wanita itu tengah di landa kegalauan. Sejak awal pertemuannya dengan Devan, wanita itu sudah tertarik pada pria yang sudah beristri itu. Dia menyesali nasibnya yang menurutnya tidak beruntung itu, andai dia yang lebih dulu bertemu dengan Devan, pasti dirinya lah yang kini menjadi istri dari pria itu.
Vita tidak memikirkan Devan yang sudah mempunyai istri, karena baginya sudah beristri atau belum sama saja. Dia begitu merindukan Devan saat ini, karena sudah dua hari sejak sampainya mereka di jakarta, Devan tak pernah lagi muncul di hadapannya.
Eva yang melihat adik angkatnya murung pun menjadi bertanya-tanya, karena sejak sampainya mereka di jakarta, dia seolah tidak memiliki semangat hidup.
"Vita, kamu kenapa?" tanya Eva mendekati adik angkatnya itu.
"Tidak apa-apa kak," jawab vita bohong.
"Kakak lihat kamu seperti tidak baik-baik saja, cerita lah jangan di pendam sendiri," ucap Eva.
"Aku hanya takut kakak pergi meninggalkan ku, karena kakak sudah bertemu dengan keluarga kakak. Pasti kakak akan lebih memilih keluarga kakak dari pada aku," ucap Vita berkilah menutupi semuanya.
"Itu tidak akan pernah terjadi, mana mungkin aku meninggalkan mu hanya karena aku bertemu dengan keluarga ku. Aku sudah menganggap kamu seperti adik kandung ku sendiri, jika aku tidak menyayangi mu sudah pasti aku akan membiarkan kamu sendirian di desa sana," kata Eva.
"Benarkah, kakak menyayangi ku?" tanya Vita.
"Tentu saja, mengapa masih bertanya," sahut Eva.
"Sebesar apa rasa sayang kakak pada ku? Apa sama seperti Bella atau lebih sedikit?" tanya Vita.
"Vita dengarkan kakak. Kakak tau kamu pasti memiliki kekhawatiran tentang hal itu. Tapi perlu kamu ketahui, bahwa apa yang ada dalam pikiran ku itu tidaklah benar," jelas Eva.
Vita terdiam, dia tahu bahwa yang dia ucapkan itu tidaklah mungkin terjadi. Eva tidak mungkin menyingkirkan dia, namun bagaimana Vita harus mengutarakan apa yang di rasakannya. Haruskah dia mengatakannya pada Eva atau tidak? Tapi dia begitu mencintai Devan, rasanya dia begitu tidak memiliki semangat hidup hanya karena tidak bertemu dengan Devan beberapa hari ini.
__ADS_1
"Apa aku boleh minta sesuatu pada kakak?" tanya Vita.
"Apa yang kamu ingin kan?" tanya Eva.
"Apa kakak bisa mengabulkannya?" tanya Vita memastikan.
"Kakak tidak janji bisa mengabulkan apa yang kamu inginkan, tapi selagi kakak bisa pasti kakak akan melakukan yang terbaik," kata Eva.
"Benarkah?" tanya Vita memastikan.
Eva mengangguk sembari tersenyum, tangannya menangkup wajah Vita. Dia sudah menyayangi Vita seperti saudaranya sendiri, mana mungkin hanya karena bertemu dengan keluarga membuatnya pergi begitu saja melupakan janjinya pada ibu gadis itu.
"Vita dengar, buang jauh-jauh pikiran negatif itu. Kamu tau bagaimana kakak begitu menyayangi mu, dan hal itu tidak akan terjadi," ucap Eva.
paman Isa yang tidak sengaja melewati kamar Vita pun mendengar percakapan antara adik dan kakak itu, dia merasa terharu mendengarnya. Andai yang sedang bersama Eva adalah Bella, dia pasti akan sangat bahagia. Namun apa mau di kata, inilah takdir yang harus di jalaninya.
"Bella," panggil paman Isa yang langsung menghampiri Bella kemudian memeluk keponakannya itu.
Bella membalas pelukan itu, dia sangat merindukan orang yang telah mengasuhnya sedari kecil dulu.
"Bella merindukan paman," kata Bella dengan mata berkaca-kaca.
"Paman juga merindukan mu," ucap Paman Isa.
"Paman, di mana?" tanya Devan yang tidak melihat keberadaan orang yang di tuju.
__ADS_1
"Ada di kamar, mau sekarang?" tanya paman Isa yang langsung merenggangkan pelukan Bella.
Devan mengangguk mengiyakan, sementara Bella dia semakin penasaran, apa sebenarnya yang ingin di tunjukkan oleh suaminya itu.
Baru saja mereka sampai di kamar, mereka sudah di kejutkan oleh ucapan Vita.
"Kak, aku mencintai Devan. Aku jatuh cinta padanya," ucap Vita dengan santainya.
"Apa?!" pekik Eva yang terkejut mendengar ucapan adik angkatnya itu.
Bella, Devan, paman Isa, serta papa Andra yang berada di ambang pintu tertegun mendengar ucapan wanita itu. Sungguh kejutan yang sangat mengejutkan bukan? Apa mereka salah dengar, oh tentu saja tidak mungkin semua telinga di sana salah pendengaran.
"Apa kamu gila Vita?! Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Eva memastikan apa yang telah dia dengar dari mulut adik angkatnya itu.
"Aku sangat sadar kak, aku menginginkan Devan. Kakak harus membantu ku untuk mendapatkan dia, aku ingin menjadi istrinya kak!" tegas Vita tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Vita, ada apa dengan mu? Tentu saja kakak tidak akan pernah melakukan apa yang kamu inginkan, itu tidak benar Vita. Devan adalah suami dari adik kakak!" kata Eva menolak.
"Aku tidak mau tau, pokoknya aku menginginkan Devan! Seharusnya kakak membalas Budi pada ku dengan cara membantu ku, kenapa kakak tidak tau diri seorang?" Ucapan Vita sudah keterlaluan.
Devan dan yang lainnya mendekat, semakin lama ucapan wanita itu semakin keterlaluan. Devan pun jadi terpancing emosi karena permintaan tidak tau diri wanita itu. Hal yang mustahil untuk di kabulkan, yaitu merebut Devan dari sisi Bella.
"Apa kau gila! Kau sudah tidak waras, hah!" sentak Devan yang sudah tidak tahan dengan kegilaan Vita.
Kedua wanita yang tengah berdebat itu pun terkejut, mereka menoleh untuk melihat siapa yang ada di sana. Eva melihat seorang wanita dengan perut buncit, wajahnya sedikit mirip dengannya, maka sudah bisa di pastikan bahwa itu Bella, adik kandungnya.
__ADS_1
"Bella," panggil Eva lirih.