
Kini Bella dan Devan sudah berada di kamar, pria itu tadi sudah meminum obat dan sudah tidak bolak-balik ke kamar mandi. Kini pria itu sudah terlelap karena tubuhnya yang terasa lemas. Saat Bella akan membaringkan tubuhnya untuk menyusul Devan ke alami mimpi, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
Bella mengambil ponselnya yang berada di nakas, di lihatnya sang penelpon ternyata yang menelpon nomor asing. Bella tidak berniat menjawabnya, wanita itu kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Bella adalah tipe orang yang tidak akan mengangkat telepon Jika dia tidak mengenal nomornya.
Bella kembali berbaring di samping Devan, namun lagi-lagi ponselnya berdering. Devan yang sedang tertidur pun merasa terganggu, lalu pria itu mulai membuka matanya perlahan.
"Sayang, siapa yang menelpon?" tanya Devan dengan suara serak.
"Tidak tahu mas, nomornya tidak di kenal," jawab Bella seadanya.
"Kenapa tidak di angkat sayang? Siapa tahu penting," kata Devan.
"Hal penting apa yang ingin di bicarakan malam-malam begini mas?"
"Angkat saja sayang, siapa tahu itu adalah kabar dari paman," kata Devan yang langsung membuat Bella meraih ponselnya.
"Halo," sapa Bella setelah menjawab panggilan telepon itu.
"Halo, dengan Nona Bella?" kata seseorang di seberang sana.
"Iya, dengan saya sendiri. Ada apa ya?" tanya Bella.
"Nona ada yang ingin saya sampaikan, ini penting! Saya adalah dokter Vita, Saya di tugaskan untuk mengabdi kepada masyarakat di daerah terpencil Pulau Jawa," Ucap wanita itu menggantung.
"Ya, lalu ada apa?" tanya Bella penasaran.
"Begini nona, saya ingin menyampaikan pesan dari Paman anda, yaitu Paman Isa. Beliau saat ini sedang di sekap di salah satu rumah tidak jauh dari tempat saya bertugas," jelas dokter itu
"Benarkah? Bagaimana bisa dokter bertemu dengan paman saya?" tanya Bella yang terkejut mendengar berita yang di dapatnya malam-malam begini.
__ADS_1
"Ada dua pria yang meminta saya untuk mengobati paman anda, beliau terkena luka sayatan di lengannya. Lukanya cukup parah, dan dari situlah Paman anda memberikan nomor anda, meminta agar saya menghubungi anda," ucap dokter Vita.
"Lalu Bagaimana keadaan Paman saya dok? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Bella khawatir.
"Untuk sekarang kondisinya sudah mulai membaik, saya akan kembali ke sana untuk mengantar kakak saya untuk menjaga paman anda di sana. Hal itu saya lakukan untuk mengulur waktu sampai saya menghubungi anda, dan saran saya jika anda ingin menyelamatkan Paman anda, maka berhati-hatilah sepertinya orang-orang di sana adalah orang yang jahat," Jelas dokter Vita.
"Baiklah terima kasih informasinya dokter Vita. Apakah anda bisa mengirim lokasinya pada saya?"
"Baiklah, saya akan share lokasi," kata dokter Vita.
Panggilan telepon terputus, Bella langsung memeluk suaminya erat-erat. Manik matanya mulai berkaca-kaca, tidak tahu harus senang atau sedih. Yang jelas dia senang karena akhirnya dia mendapatkan informasi keberadaan Paman Isa, tapi dia sedih karena Paman Isa terluka.
"Jangan menangis sayang, kita sudah tahu di mana tempat Paman di sekap. Kamu tenang saja, aku akan mengatur strategi untuk menyelamatkan Paman secepatnya," ucap Devan menenangkan Bela sambil mengusap lembut surai panjang Bella.
Bella hanya mampu mengangguk, dia senang karena akhirnya dia akan segera kembali bertemu dengan pamannya.
Sementara di rumah tua, di mana tempat Paman Isa di sekap. Pria paruh baya itu yaitu, tengah berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit ruangannya. Pria paruh baya itu berdoa semoga dia segera terbebaskan dari sini, dan semoga saja dokter itu menghubungi Bella dan mengatakan di mana keberadaannya.
Di depan, dokter Vita dan kakaknya sudah sampai dengan segala peralatannya. Kemal dan Arul yang melihat kedatangan dua kakak beradik itu pun jadi mengerutkan keningnya. Dua pria itu menatap lekat ke arah Kakak Vita, mereka berpikir Kakak dokter Vita masih muda dan cantik. Namun ternyata sepertinya dia sudah menikah dan memiliki anak, di lihat dari bentuk tubuhnya mereka berdua sudah bisa menebaknya.
"Jaga pandangan mata kalian, jangan melihat kakak ku seperti itu! Kalian mau, mata kalian aku congkel keluar dari tempatnya?" ancam dokter Vita sambil melayangkan tatapan menusuk ke arah dua pria itu.
Kakak dokter Vita hanya mampu tersenyum, sedangkan Kemal dan Arul, mereka berdua menjadi salah tingkah di buatnya. "Tidak kok," kilah Arul sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kakak ku akan berjaga ketika siang hari saja saat kalian berdua pergi kerja, jadi mulai sekarang kunci rumah tua ini aku yang pegang!" kata dokter Vita yang langsung mengambil kunci yang kebetulan tergantung di pintu.
"Sudah sana, kalian pergi!" usir dokter Vita seenaknya.
"Dokter ini aneh ya, ini rumah kami. Jadi anda tidak berhak bersikap seperti ini pada kami! Jangan mentang-mentang kami membutuhkan jasa dokter, anda bisa seenaknya ya. Sini kembalikan kuncinya," kata Arul kesal.
__ADS_1
"Kenapa? Tidak suka?" sentak dokter Vita berani.
"Anda jangan macam-macam dengan kami ya, atau anda akan tau akibatnya! Kami akan membuat anda menyesal seumur hidup!" ancam kemal.
"Apa! Aku tidak takut!" tantang dokter Vita.
"Lagian pria itu bukan paman kalian, kan? Kalian menculiknya, iya kan?" kata dokter Vita semakin berani.
Saat kemal baru ingin membuka mulut untuk mengeluarkan kalimat ancaman, dokter Vita lebih dulu mengeluarkan jarum suntik yang sudah berisi cairan entah apa itu.
Kemal, pria yang terlihat sangat itu langsung menciut nyalinya ketika melihat jarum suntik. Biar badannya kekar, tapi dia begitu takut pada benda kecil yang tajam itu. Dokter Vita yang notabenya juga dokter psikolog, langsung bisa membaca gelagat kemal yang ketakutan. Dokter muda itu tersenyum licik, dia tau kelemahan pria itu.
"Sepertinya kamu takut dengan jarum suntik, ya?" kata dokter Vita sambil tersenyum mengejek ke arah kemal.
"A-apa! Tidak kok!" elak kemal dengan wajah di buat biasa saja.
"Apa iya?" Dokter Vita menyodorkan jarum suntik yang di pegangnya ke depan kemal, yang mana langsung membuat pria itu beringsut mundur.
"Dokter, aku benar-benar akan membuat mu menyesal seumur hidup!" ancam kemal.
"Yayaya, silahkan saja. Aku tidak takut pada siapa pun, pada kematian saja aku tidak takut apa lagi hanya dengan secuil nyawa seperti mu," sahut dokter Vita.
"Sudahlah dik, jangan bermain-main terus. Lebih baik sekarang kita masuk, di mana ruangannya?" tanya kakak Vita.
"Ayo kak, kita masuk saja," ajak dokter Vita memasuki rumah tua itu.
Paman Isa yang mendengar suara derit pintu ruangannya di buka, langsung membuka kedua matanya. Manik matanya menatap lekat sosok yang baru saja masuk bersama dokter Vita.
"Eva," panggil paman Isa.
__ADS_1